PP 66/1951: Mengapa Lambang Negara Kita Garuda?


Melengkapi tulisan Makna Historis dan Filosofis Lambang Negara Garuda Pancasila, yang telah saya publikasikan melalui weblog ini, berikut adalah penjelasan secara konstitusi yang menunjukkan bahwa pemilihan “garuda” sebagai lambang negara kita sudah tepat karena antara lain menunjukkan peradaban bangsa kita.Secara konstitusi penjelasan ini termuat dalam Tambahan Lembaran Negara RI mengenai lambang negara yang terdiri atas 5 pasal sebagai berikut.

TAMBAHAN

LEMBARAN NEGARA RI NOMOR 176

LAMBANG NEGARA

Penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951

Tentang

Lambang Negara

UMUM

Menurut pasal 3 ayat 3 Undang-Undang Dasar Semenatara Republik Indonesia maka Pemerintahlah yang menetapkan Lambang Negara.

PENJELASAN PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

Mengambil gambaran hewan untuk Lambang Negara bukanlah barang yang ganjil. Misalnya untuk lambing Republik India diambilo lukisan singa, lembu, kuda dan gajah, seperti tergambar pada tiang Maharaja Priyadarsi Asyoka berasal dari Sarnath dekat Benares.

Lukisan garuda diambil dari benda peradaban Indonesia, seperti hidup dalam mythology, symbologi dan kesusasteraan Indonesia dan seperti pula tergambar pada beberapa candi sejak abad ke 6 samapai ke-abad ke 16. Perisai adalah asli, sedangkan arti semboyan yang dituliskan dengan huruf latin berbahasa Jawa-kuno menunjukkan peradaban klassik.

Pasal 2

Warna-kemegahan emas bermaksud kebesaran bangsa atau keluhuran Negara. Warna-warna pembantu dilukiskan dengan hitam atau meniru seperti yang sebenarnya dalam alam.

Pasal 3

Burung garuda, yang digantungi perisai itu, ialah lambang tenaga pembangun (creative vermogen) seperti dikenal pada peradaban Indonesia.

Burung garuda dari mythology menurut perasaan Indopnesia berdekatan dengan burung elang rajawali. Burung itu dilukiskan di candi Dieng, Prambanan dan Penataran. Ada kalanya dengan memakai lukis berupa manusia dengan berparuh burung dan bersayap (Dieng); Di candi Prambanan dan di candi Jawa Timur rupanya seperti burung, dengan berparuh panjang berambut raksasa dan bercakar. Lihatlah lukisan garuda di candi Mendut, Prambanan dan di candi-candi Sukuh, Kedal di Jawa Timur.

Umumnya maka garuda terkenal baik oleh archeology, kesusasteraan dan mythology Indonesia.

Lencana garuda pernah dipakai oleh perabu Airlangga pada abad kesebelas, dengan bernama Garudamukha. Menurut patung Belahan beliau dilukiskan dengan mengendarai seekor garuda.

Pergerakan Indonesia Mudea (1928) pernah memakai panji-panji sayap garuda yang ditengah-tengahnya berdiri sebilah keris di atas tiga gurisan garis.

Sayap garuda berbulu 17 (tanggal 17) dan ekornya berbulu 8 (bulan 8 = Agustus).

Pasal 4

Perisai atau tameng dikenal oleh kebudayaan dan peradaban Indonesia sebagai senjata dalam perjuangan mencapai tujuan dengan melindungi diri.

Perkakas perjuangan yang sedemikian dijadikan lambang; wujud dan artinya tetap tidak berubah-ubah, yaitu lambang perjuangan dan perlindungan.

Dengan mengambil bentuk perisai itu, maka Republik Indonesia berhubungan langsung dengan peradaban Indonesia Asli.

Dengan garis yang melukiskan katulistiwa (aequator) itu, maka ternyatalah bahwa Republik Indonesia satu-satunya Negara Asli yang merdeka-berdaulat di permukaan bumi berhawa-panas; garis katulistiwa melewati Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian. Di daerah Kongo, di kepulauan Pasifik dan Amerika Selatan tidaklah (belumlah) terbentuk Negara penduduk Asli. Jadi garis tengah itu menimbulkan perasaan, bahwa Republik Indonesia ialah satu-satunya Negara Asli yang merdeka-berdaulat, terletak di katulistiwa dipermukaan bumi. Mata bulatan dalam rantai menunjukkan bahagian perempuan dan digambar berjumlah 9; mata pesagi yang digambar berjumlah 8 menunjukkan bahagian laki-laki.

Rantai yang bermata 17 itu sambung menyambung tidak putus-putusnya, sesuai dengan manusia yang bersifat turun-temurun.

Kedua tumbuhan kapas dan padi itu sesuai dengan hymne yang memuji-muji pakaian (sandang) dan makanan (pangan).

Pasal 5

Perkataan Bhinneka itu ialah gabungan dua perkataan: bhinna dan ika. Kalimat seluruhnya itu dapat dislain: berbeda-beda tetap satu jua.

Pepatah ini dalam sekali artinya, karena menggambarkab persatuan atau kesatuan Nusa dan Bangsa Indonesia, walaupun keluar memperlihatkan perbedaan atau perlainan. Kalimat itu telah tua dan pernah dipakai oleh pujangga bernama Empu Tantular dalam arti: diantara pusparagam adalah kesatuan.

Mencermati kata demi kata kita menangkap istilah dan pilihan kata yang sarat makna “pemikiran” para pendahulu kita mengenai cita-cita masa depan Republik Indonesia. Penjelasan mengenai pemilihan garuda sebagai lambang negara adalah “garuda merupakan bagian tak terpisahkan sejarah peradaban bangsa Indonesia.”

Generasi bangsa sangat perlu memahami alasan itu. Makna filosofis dan historisnya sangat “dalam”: yakni antara laian menunjuk pada kondisi alam, yaitu candi. Candi adalah merupakan salah satu “lambang” yang memberi petunjuk tentang budaya bangsa. Juga, lambang garuda terus “hidup” bersama perjalanan bangsa dan ditempatkan pada tempat terhormat yakni oleh Pergerakan Indonesia Muda tahun 1928.

Keterangan tambahan yang berhubungan dengan garuda :

1. Garuda merupakan burung sakti menurut alam pikiran nenek moyang kita.

Dalam sejarang kesenian Indonesia kita temukan lukisan atau pahatan garuda pada bangunan suci, candi, makam, atau benda lain yang dikeramatkan.

Garuda merupakan kendaraan Mahadewa Wisnu, yang bertenaga membentuk dan membangun.

2. Pada candi Belah, Jawa Timur terdapat patung Raja Airlangga sebagai titisan Wisnu mengendarai Burung Garuda Merah Putih.

3. Lukisa garuda terdapat di candi Dieng, Prambanan, dan Penataran.

4. Pada candi Dieng, garuda dilukiskan berwujud manusia bersayap dan berparuh.

5. Pada candi Prambanan dan Penataran, garuda dilukiskan berupa burug burung bersayap, berbulu lebat, berparuh, dan bercakar kuat.

6. Garuda adalah burung pemakan daging yang menyerupai elang dan mempunyai kekuatan terbang yang luar biasa.

7. Garuda adalah nama perusahaan penerbangan Negara Indonesia.

Kepustakaan :
1. Kapita Selekta, Seri Pertama Buku Ke I, Lembaran Negara Republik Indonesia.
Yayasan Kesejahteraan Rakyat Padepokan Sawunggalaing. – cet.2 — Yogyakarta: CV Bintang, 1990.
2. Kamus Besar Bahasa Indonesia
Tim.—cet.2.—Jakarta: Balai Pustaka, 1989.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.031 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: