NKRI Harga Mati


pancasila saktiJangan lupa, Minggu tanggal 30 September untuk mengibarkan bendera nasional Sang Merah Putih setengah tiang sebagai tanda bangsa Indonesia “berkabung nasional” bahwa 30 September 1965 telah terjadi pengkhianatan terhadap Pancasila, pembantaian para jenderal, dan makar yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Dan, Senin tanggal 1 Oktober kita kibarkan bendera nasional Sang Merah Putih satu tiang penuh sebagai tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang atas kuasa-Nya, Pancasila kukuh sebagai dasar negara Indonesia, pedoman hidup bangsa Indonesia.

pramuka_pancasila_NKRIGenerasi bangsa yang berjiwa patriot tak akan melupakan sejarah untuk selalu menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

#1OktoberIkutiUpacaraBendera
#1Oktober #PancasilaDasarNegara
#NKRIHargaMati #PramukaPerekatNKRI #PancasilaSakti

Pakem Joget Bumbung Bali, Etika atau Porno?


joged-bumbung-klasik

Penampilan Joged Bumbung Suara Mekar Banjar Antap Panjer, Denpasar, di panggung terbuka Ksirarnawa Art Center Denpasar, Selasa (16/6/2015). Tarian joged dengan pakem klasik ini mampu menghibur ratusan penonton.

Penampilan Joged Bumbung Suara Mekar Banjar Antap Panjer, Denpasar, di panggung terbuka Ksirarnawa Art Center Denpasar, Selasa (16/6). Tarian joged dengan pakem klasik ini mampu menghibur ratusan penonton.Di Pulau Dewata siapa yang tidak mengenal joged bumbung? Joged ini merupakan joged fenomenal yang sangat dikenal oleh masyarakat Bali. Mengandung tiga unsur yaitu etika, logika dan estetika. Joged yang berasal dari Desa Kalopaksa, Seririt, Buleleng ini cukup fenomenal karena mengalami pergeseran makna tarian yang terkandung di dalamnya. Dari tarian sederhana menjadi tarian yang erotis dan sempat mendapat julukan sebagai joged porno.

Sejarah terciptanya joged bumbung di Buleleng diawali dengan pementasan tarian oleh sekelompok petani di Desa Lokapaksa. Diiringi seperangkat gamelan dari bambu yang dikenal dengan sebutan ting klik mereka mengisi waktu luang di tengah keletihan mengolah lahan sawah dengan menampilkan sebuah tarian sederhana. Meski digarap dengan sederhana, nyatanya tarian tersebut mampu menghibur para petani kala itu.

Beranjak dari Desa Kalopaksa kesenian ini kemudian berkembang ke beberapa desa lain di Kabupaten Buleleng dan kabupaten-kabupaten lain di provinsi Bali hingga membentuk sekaa-sekaa (kelompok) joged. Pesatnya perkembangan sekaa joged bumbung di beberapa daerah di Buleleng mengakibatkan munculnya persaingan yang sangat kompetitif antar sekaa. Hal ini memaksa mereka untuk berinovasi menciptakan kreasi baru dari joged bumbung sendiri agar sekaa mereka tetap eksis dan diminati oleh masyarakat.

Kebebasan menciptakan inovaasi baru joged bumbung ini mengakibatkan perkembangannya menjadi tidak terkontrol dan keluar dari pakemnya. Joged bumbung yang dulu memiliki makna sebagai tarian pergaulan dan merakyat, tetapi saat ini sudah dirusak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dan secara kasat mata terlihat sangat buruk. Munculah joged bumbung sebagai sesuatu yang fenomenal. Tidak lagi dipandang sebagai tarian yang sederhana, tetapi sudah berubah menjadi joged porno nan erotis.

Kemunculan joged bumbung versi kreasi baru yang dipandang sebagai sesuatu yang erotis dan porno menimbulkan keprihatinan pemerintah provinsi dan daerah. Secara bersama-sama keduanya kemudian melakukan pembinaan menyasar sekaa joged bumbung di seluruh Bali, termasuk di Buleleng. Pembinaan ini menyadarkan para seniman untuk tetap mempertahankan pakem asli kesenian joged bumbung. Pakem asli ini bagaimana tariannya tetap mengikuti etika dan sesuai norma kesopanan di masyarakat. Selain pembinaan menyangkut pakem asli, tim pembina ini juga menyarankan kepada desa pakraman untuk berpartisipasi menyarankan masyarakatnya untuk mementaskan joged bumbung sesuai pakem asli dan masih menjunjung tinggi nilai kesopanan yang berkembang di masyarakat. Bahkan tim pembina ini berencana agar desa pakraman memasukkan larangan mementaskan kesenian joged porno dalam pararem awig-awig di desa pakraman bersangkutan.

Artiekl terkait: Joget Bumbung ditetapkan UNESCO masuk warisan budaya dunia 

Sumber: Diakses pada 08/12/2015 dari http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbbali/2015/05/28/joged-bumbung-dari-sederhana-menjadi-fenomenal/

UNESCO: 9 Tari Bali Jadi Warisan Budaya Dunia


Komite Warisan Budaya Tak Benda UNESCO di Windhoek, Namibia, Selasa (2/12/2015) menetapkan tiga genre (jenis) tari tradisi di Bali yang terdiri dari sembilan tarian, sebagai warisan budaya takbenda dunia sebagai Warisan Budaya Tak Benda (UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity).

  • Rejang, Sanghyang Dadari, dan Baris Upacara yang digolongkan sebagai tarian sakral;
  • Topeng Sidhakarya, Sendratari Gambuh, dan Sendratari Wayang Wong yang digolongkan sebagai tarian semi-sakral;
  • Legong Kraton, Joged Bumbung, dan Barong Ket “Kuntisraya”, yang digolongkan sebagai tarian hiburan.

Tiga genre tari tradisi di Bali tersebut menjadi elemen budaya Indonesia ketujuh yang ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya takbenda dunia. Enam elemen yang telah terdaftar sebelumnya adalah Wayang (2008), Keris (2008), Batik (2009), Angklung (2010), Tari Saman (2011), dan Noken Papua (2012).

Berikut penjelasan lebih detil mengenai kesembilan tari tersebut.

1. Rejang adalah tari upacara keagamaan yang diadakan di Pura Merajan atau sangga. Berdasarkan koreografinya, tarian ini tidak begitu terkait pada pedum karang seperti tarian lainnya. Tarian ini bersifat fleksibel, menyesuaikan situasi dan kondisi, khususnya pada upacara Pangider Buana, para penari mengitari sajen berputar putar mengikuti pradaksina.

2. Sanghyang Dedari merupakan salah satu jenis tari sanghyang.Tari sakral sanghyang adalah sebuah tari kerauhan yang ditarikan dalam kondisi kesurupan. Tari ini memiliki tujuan mistis, tidak ditampilkan di depan umum, ditarikan untuk melindungi desa dari wabah penyakit, bencana alam, dan sebagainya. Tarian ini merupakan tari tinggalan kebudayaan pra-Hindhu yang ditarikan oleh dua gadis yang masih suci. Tarian ini tidak diiringi oleh instrumen musik, melainkan iringan beberapa orang menyanyikan lagu persembahan kepada Dewa.

3. Baris Upacara adalah merupakan tari-tarian yang pada umumnya tidak memiliki lakon (lelampan) atau ceritera. Umumnya Tari Baris Upacara dipergunakan atau ditarikan untuk Dewa Yadnya. Tari Baris Upacara sebagai penunjang upacara Dewa Yadnya ini banyak jenisnya. Biasanya pada upacara ini, Tari Baris Upacara merupakan symbol widyadara, apsara sebagai pengawal Ida Betara Sesuhunan turun ke dunia pada saat piodalan (odalan) di pura bersangkutan dan berfungsi pula sebagai pemendak (penyambut) kedatangan para dewa.

4. Topeng Sidhakarya biasanya ditarikan di akhir, menyimbolkan bahwa tari sakral telah selesai, Dalam sebuah hajatan ritual keagamaan tradisi Hindu (Bali), merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan runtutan upacara sebagai pelengkap guna mendapatkan keyakinan dalam pencapaian ke arah kesempurnaan suksesnya sebuah yadnya.

5. Dramatari Gambuh
Pada umumnya fungsi gambuh adalah sebagai Tari Bebali (seremonial), yaitu sebagai pengiring upacara di pura-pura. Dramatari Gambuh sebagai tari lakon klasik tertua dalam khazanah tari Bali adalah merupakan bentuk total teater yang memiliki unsur seni, drama, music, dialog dan tembang. Dramatari gambuh masih memakai nama-nama tokoh penarinya diambil dari nama-nama kaum bangsawan kerajaan di Jawa Timur pada abad ke 12-14. Nama-nama itu diantaranya Demang Sampi Gontak, Tumenggung Macan Angelur, Rangga Toh Jiwa, Arya Kebo Angun-angun, Punta Tan Mundur, dan lain-lainya. Dramatari Gambuh adalah tari dasar hampir seluruh tari-tarian yang ada di Bali. Dramatari Gambuh sangat erat hubungannya dengan pelaksanaan upacara-upacara besar terutama tingkatan upacara “mapeselang”. Tarian Gambuh ditarikan pada waktu Ida Bhatara turun ke “paselang”.
6. Dramatari Wayang Wong adalah (seni pertunjukan) yang pelaku-pelakunya masnusia atau orang. Merupakan perwujudan dari tari lakon Bali, perpaduan antara tari, drama dan musik. Wayang Wong di Bali adalah merupakan salah satu cabang seni pertunjukan yang bersifat klasik dan merupakan satu kesatuan daripada tari, tabuh, tembang, dan drama dengan menggunakan tapel serta memakai cerita/lakon yang diambil dari lakon (wiracarita) Ramayana.

7. Legong Kraton adalah tari klasik yang melakonkan ceritera-ceritera jaman dulu seperti ceritera prabu Lasem. Tari ini biasanya ditarikan oleh tiga orang gadis dimana yang seorang berperan sebagai Condong dan kedua orang lainnya berperan Legong.

8. Joged Bumbung merupakan salah satu jenis tari Joged yang diiringi dengan gamelan bumbung bambu dan penarinya perempuan, pengibing laki-laki. Joged adalah semacam tari pergaulan muda mudi yang diiringi dengan gamelan yang terbuat dari bumbung bambu. Penari joged pada awalnya menari sendiri yang disebut ngelembar. Setelah itu penari mencari pasangannya seorang laki-laki yaitu salah seorang lelaki yang menonton yang dihampiri si penari, dan laki-laki itu kemudian diajaknya menari bersama-sama atau diajaknya ngibing. Begitulah seterusnya si penari berganti-ganti pasangan yang dipilihnya. Tari Joged ini ada persamaannya dengan tari gandrung.

9. Barong Ket
Barong merupakan perwujudan atau prabhawa Sanghyang Tri Murti. Warna topeng atau punggelan berbagai jenis barong yang berwarna bang (merah) adalah simbol Dewa Brahma, yang berwarna ireng (hitam) merupakan wujud Dewa Wisnu, sedangkan yang berwarna petak(putih) merupakan perwujudan Dewa Iswara. Sanghyang Tri Murti yang disimbolkan dengan berbagai jenis barong yang dilawangkan dari satu pintu ke pintu yang lain selama 35 hari diyakini dapat melindungi umat manusia khususnya umat Hindu dari kekuatan merusak yang disebabkan oleh Sanghyang Kala Tiga Wisesa sehingga selamat. Perwajahan Barong pada umumnya merupakan wajah manusia dengan berbagai warna berbeda sebagai simbol tertentu, sedangkan barong ket lebih menyerupai hewan.

Sumber: http://www.kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/4909

Sejuta Makna Tahun Baru


Tahun baru memiliki sejuta makna: ada luapan gembira, perasaan duka, juga ada yang memaknai biasa-biasa. Ini semua, tergantung pada siapa yang memaknai. Yang pasti adalah usia bertambah dan dari sisi yang lain jatah menikamti dunia akan semakin habis.

Hari esok harus lebih baik dari hari ini. Ini harapan yang kebanyakan hany untuk ungkapan tanpa disertai usaha untuk mewujudkan.

Blog tunas63 hadir sejak 2008 atau tepatnya posting pertama 19 Juni 2008 yang berarti kini sudah 3 (tiga) tahun lebih mengisi dunia maya dengan misi “Berbagi ilmu dan persaudaraan”.

Sampai dengan saat ini, tunas63 memiliki statistik:

  • Tulisan: 1.104
  • Komentar: 12.784
  • Kunjungan terbanyak dalam satu hari: 29.088 pada 16 November 2011
  • Total kunjungan:  7.125.595

Terimakasih kepada para pelanggan dan  pengunjung atas perhatian berupa saran, kritik, dan pertanyaan yang semuanya ini menjadi motivasi untuk terus berusaha menyajikan informasi yang bermanfaat.

Semoga tahun mendatang tunas63 lebih berarti dan kita semua dirahmati Allah SWT.

Selamat tahun baru semoga kita selalu sehat dan tetap memiliki ketulusan untuk  membina persaudaraan!

Komentar pada tulisan ini hanya diizinkan khusus untuk seputar tahun baru: ucapan, harapan, makna tahun baru!

Festival Film Jawa Timur 2011


TEMA
Sosial Budaya Jawa Timur

KATEGORI DAN PERSYARATAN
Kompetisi Film Jawa Timur ini ditujukan untuk kalangan umum. Adapun persyaratan yang harus dipenuhi dalam mengikuti kompetisi ini adalah :

PERSYARATAN UMUM

  • Peserta adalah WNI dan bertempat tinggal di Jawa Timur
  • Satu team dapat mendaftarkan lebih dari 1 (satu) judul film
  • Durasi film berkisar antara 10 s/d 15 menit
  • Karya harus orisinil dan merupakan karya sendiri serta belum pernah menang dalam lomba lain
  • Film dapat diberikan narasi, teks penjelasan serta kreatifitas lainnya
  • Tahun produksi film yang didaftarkan paling lama 2010
  • Film dikirimkan dalam format VCD atau DVD beserta data identitas ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, di Jl. Wisata Menanggal Surabaya

PERSYARATAN KHUSUS
Film yang didaftarkan harus menggambarkan kondisi yang disesuaikan dengan tema dan harus mewakili fakta-fakta yang ada di Jawa Timur

KATEGORI PENILAIAN

  • Film Cerita Terbaik
  • Penyutradaraan Terbaik
  • Penulisan Naskah Terbaik
  • Penyuntingan Gambar Terbaik
  • Penataan Suara Terbaik
  • Penataan Artistik Terbaik
  • Penataan Fotografi Terbaik

PENDAFTARAN TERAKHIR
1 Juni 2011

PENGUMUMAN PEMENANG
25 Juni 2011

HADIAH
Bagi pemenang disediakan piagam, piala dan uang pembinaan

TEMPAT PENDAFTARAN
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Jl. Wisata Menanggal
Telp.(031)8531814-16, 8531820-21
Fax.(031)8531822
Surabaya 60234

Anugerah Kebudayaan 2010 untuk Anak dan Remaja


Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata akan memberikan pengahrgaan bagi anak/pelajar/remaja yang memiliki wawasan atas kebudayaan nasional yang menyangkut pengetahuan, tindakan, dan karya budaya. Penghargaan yang dinamakan Anugerah Kebudayaan 2010 akan diserahkan kepada pemenang tanggal 23 Juni 2010 di Jakarta Contion Center (JCC).

Berikut petunjuk ketentuan syarat dan proses usulan:

  1. Calon penerima adalah perseorangan/individu WNI dan memiliki akhlak dan budi pekerti mulia, berusia 10 tahun dan maksimal 18 tahun.
  2. Calon penerima belum pernah menerima penghargaan sejenis dari Menbudpar dan/atau dari presiden RI berkaitan dengan kegiatannya.
  3. Diajukan oleh lembaga pendidikan/LSM/sanggar/komunitas (bukan perorangan).
  4. Disarankan agar calon mendapatkan pernyataan dukungan/rekomendasi antara lain dari lembaga pendidikan/LSM/sanggar/komunitas (dapat dipilih).
  5. Pencalonan disampaikan melalui email anugerahkeb2010@budpar.go.id
  6. Persyaratan administrasi, mengisi formulir biodata/daftar riwayat hidup singkat.
  7. Kriteria penilian.
    1. Komponen usia. Penilian ditujukan untuk tinjauan usia calon dari sisi aspek menangani atau menekuni kebudayaan.
    2. Komponen wujud kebudayaan. Penilaian yang ditinjau dari aspek penguasaan terhadap wujud kebudayaan dengan klasifikasi:

(1)  tiga wujud kebudayaan: pengetahuan budaya, tindakan budaya, benda budaya.

(2)  Dua wujud kebudayaan: pengetahuan budaya dan tindakan budaya, pengetahuan budaya dan benda  budaya, tindakan budaya dan benda budaya (hasil karya budaya).

  1. Formulir yang telah diisi dan biodata diterima panitia paling lambat 28 Mei 2010.

Alamat pengiriman:

  • Email: anugerahkeb2010@budpar.go.id, atau
  • Kasudit Jatidiri Bangsam Direktorat Pembangunan Karakter dan Pekerti Bangsa, Ditjen Nilai Budaya, Seni dan Film, Kemenbudpar, Gedung Sapta Pesona Lantai 23, Jl Medan Merdeka Barat No. 17 Jakarta 10110.

Unduh Form Biodata Calon Penerima Anugerah Budaya 2010

Jambore Budaya Serumpun Indonesia-Malaysia


Para pramuka penggalang se Sumatera akan berjambore mempererat persaudaraan antar bangsa dengan  para pramuka penggalang Malaysia. Kegiatan dengan nama Jambore Budaya Serumpun Indonesia-Malaysia ini merupakan penyelenggaraan  untuk pertama kali.  Bertempat di Pagaruyung, kab. Tanah Datar, Sumatera Barat para tunas bangsa akan berkumpul mepererat persaudaraan antar pemuda dan membina budaya bangsa serumpun mulai 8 s.d. 12 Juni 2010.

Jambore ini mengambil motto yang sudah menjadi jiwa Gerakan Pramuka kita: Satyaku kudarmakan, darmaku kubaktikan. Kemudian, temanya “Dekat di mata, dekat di hati” dengan subtema: Membangun kreativitas dan karakter generasi muda

Tujuan

  1. Membekali pengetahuan kepada generasi muda untuk dapat hidup damai dalam budaya yang beraneka ragam
  2. Menumbuh kembangkan karakter dan pekerti yang baik kepada generasi muda
  3. Memberikan citra positif tentang budaya Indonesia kepada negara sahabat
  4. Meningkatkan peran perkemahan budaya dalam forum internasional
  5. Memperkenalkan budaya Sumatera kepada generasi muda baik di dalam maupun di luar negeri

Peserta

  • Pramuka Penggalang seluruh propinsi di Sumatera, dengan rincian
  • Kwarda se Sumatera 1100 orang
  • Pengakap se Malaysia 1400 orang
  • Jumlah total 2500 peserta dan Pembina Pendamping

Materi Acara

  • Pengantar
  • Pembukaan
  • Orientasi
  • Dinamika wawasan kebangsaan

Acara Inti

  • Permainan tradisional
  • Kreativitas kerajinan tangan
  • Gelar kesenian (Drama, Teater wawasan kebangsaan)
  • Masakan tradisional
  • Pembacaan puisi
  • Penjelejahan situs budaya
  • Outdoor activity
  • Pengamatan kehidupan masyarakat
  • Karnaval & pameran budaya
  • Pemutaran film budaya & perjuangan
  • Gelang ajar
  • Wisata budaya

Pelengkap

  • Bakti masyarakat
  • Malam api unggun
  • Penutupan

Kontak :
PANITIA PENYELENGGARA
JAMBORE BUDAYA SERUMPUN INDONESIA – MALAYSIA
( 1st JAMBOREE OF ROOTED CULTURE INDONESIA – MALAYSIA )
JUNE 8th – 12nd 2010
PAGARUYUNG – TANAH DATAR
Sekretariat : Benteng Van Der Capellen – Batusangkar
Kabupaten Tanah Datar, Propinsi Sumatera Barat, INDONESIA, Kode Pos 27281
Telp/Fax : 0752 – 73789, Website : http://www.tanahdatar.go.id, Email: jambore2010@tanahdatar.go.id

Sertifikat Unesco untuk Batik, Wayang, dan Keris


Menlu RI Dr. R.M. Marty Natalegawa menyerahkan 4 (empat) sertifikat UNESCO kepada Menko Kesra hari ini (05/02) bertempat di Kantor Menko Kesra. Dari Menko Kesra, sertifikat kemudian diserahkan kepada Menbudpar pada hari yang sama. Sertifikat tersebut adalah: the Wayang puppet theatre, the Indonesian Kris, Indonesian Batik dan Education and training in Indonesian Batik intangible cultural heritage for elementary, junior, senior, vocational school and polytechnic students, in collaboration with the Batik Museum in Pekalongan.

Penyampaian keempat sertifikat tersebut merupakan bentuk pengakuan UNESCO melalui programnya di bawah Konvensi 2003 tentang Perlindungan Warisan Budaya Takbenda (Convention on the Safeguarding of Intangible Cultural Heritage). Konvensi ini memberikan pengakuan kepada budaya hidup berupa: budaya lisan, seni pentas, adat istiadat dan perayaan, pengetahuan tentang alam dan semesta, dan kerajinan tradisional.

Sertifikat tersebut merupakan pengakuan dunia terhadap kekayaan budaya dan alam Indonesia yang menjadi identitas bangsa Indonesia, khususnya wayang, keris, batik dan “Best Practice” pelestarian budaya batik. UNESCO menyerahakan keempat sertifikat setelah melalui proses penelitian dan penyusunan berkas-berkas nominasi yang diajukan Pemri, dalam hal ini Menbudpar dan Menkokesra, melalui Wakil RI di UNESCO di Paris.

Keempat inskripsi ini mengharuskan semua pemangku kepentingan baik instansi Pemerintah maupun LSM, kelompok dan perseorangan untuk melaksanakan komitmen untuk terus melestarikan dan mengembangkan mata budaya maupun “Best Practice” tersebut.

Menko Kesra menyampaikan penghargaan kepada semua pihak yang telah berperan sehingga UNESCO memberikan penghormatan kepada budaya Indonesia. Apresiasi tersebut  disampaikan kepada Menlu RI dan jajarannya, yang turut berperan dalam memperjuangkan nominasi-nominasi Pemri dan upaya-upaya seluruh Perwakilan RI dalam mempromosikan budaya nasional. Menko Kesra juga menyampaikan terima kasih kepada Menbudpar, Mendiknas, Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Yayasan KADIN Indonesia, Forum Masyarakat Batik Indonesia, Senawangi dan pihak-pihak lain yang terlibat proses nominasi dan promosi warisan budaya Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Menlu RI menegaskan bahwa Kemlu beserta jajarannya senantiasa siap membantu upaya perlindungan budaya termasuk pencalonan Angklung, Tari Saman dan mata budaya lainnya  serta pencalonan Indonesia sebagai anggota Komite Warisan Budaya Tak Benda UNESCO yang akan dilakukan pada bulan Juni 2010.

Warisan Budaya Tak B enda

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) telah meresmikan wayang, keris, dan batik sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Peresmian tersebut ditandai dengan serah-terima sertifikat UNESCO kepada pemerintah.

Kata tak benda atau intangibel terasa janggal jika diasosiasikan dengan wayang, keris, dan batik yang jelas-jelas terlihat wujudnya sebagai benda padat. Bahkan, batik identik dengan benda pakai seperti baju, atau kemeja.

Mengapa kata Tak Benda melekat pada ketiga warisan budaya itu? Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik mengatakan, yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia bukanlah wujud wayang, keris dan batik sebagai sebuah benda.

Namun, dikatakan Jero, cerita-cerita, nilai-nilai filosofi dan sisi humanis yang terkandung dalam wayang, keris, dan batik itulah yang diakui sebagai sebuah warisan budaya yang patut dilestarikan.

Sama halnya dengan wayang, keris dan batik juga memiliki cerita dibalik pembuatannya. Pembuatan keris dan batik membutuhkan ketekunan tinggi dengan nilai seni budaya tinggi yang dilandasi nilai-nilai spritual masyarakat yang tinggi pula.

Untuk membuat keris misalnya, seorang Empu keris biasa melakukan ritual-ritual doa sebelum pembuatan. Ditambah lagi, dalam masyarakat Jawa, keris dipercaya memiliki kekuatan magis berisi roh-roh nenek moyang.

Sumber: http://www.indonesia.go.id dan http://www.menkokesra.go.id    

Lomba Wisata Jatim 2009


Pariwisata merupakan salah satu aset terpenting yang perlu menjadi perhatian segenap unsur masyarakat baik pemerintahan maupun swasta. PT. Telekomunikasi Indonesia sebagai salah satu aset BUMN Telekomunikasi yang ada di Indonesia, mencoba memberikan kontribusinya dengan menyelenggarakan “Lomba Wisata Jatim 2009” dengan tema “PARIWISATA”.

Obyek Foto:

  1. Obyek Wisata
  2. Wisata Kuliner
  3. Tradisi Adat

Hadiah :

GrandPrize : Laptop (pemenang tingkat Jawa Timur)

  1. Juara 1 : Flexiberry + Speedy Prepaid
  2. Juara 2 : Flexiberry
  3. Juara 3 : Modem Flexinet

( Semua pemenang akan diberikan Piagam )

Persyaratan Lomba :

  1. Terbuka untuk umum (domisili Jatim) kecuali panitia, juri dan karyawan/ti Telkom.
  2. Periode pengambilan obyek foto dalam kurun waktu Januari 2009 sd Januari 2010.
  3. Setiap karya lomba harus mengacu kepada tema dan berada  di lokasi wilayah Jawa Timur.
  4. Karya lomba merupakan karya sendiri dan belum pernah menang dalam lomba foto apapun. Panitia tidak bertanggung jawab bila ada tuntutan hukum dari pihak lain atas karya lomba yang dikirimkan.

Baca selanjutnya . . .

Keraton Sambas


Pusat pemerintahan Kesultanan Sambas terletak di sebuah kota kecil yang sekarang dikenal dengan nama Sambas. Untuk mencapai kota ini dapat ditempuh dengan kendaraan darat dari kota Pontianak ke arah baratlaut sejauh 175 km., melalui kota Mempawah, Singkawang, Pemangkat, dan Sambas. Lokasi bekas pusat pemerintahan terletak di tepi kota Sambas. Di daerah pertemuan sungai Sambas, Sambas Kecil, dan Teberau, pada sebuah tempat yang oleh penduduk di sebut Muare Ullakan (Desa Dalam Kaum) berdiri keraton Kesultanan Sambas.

Pusat pemerintahan Kesultanan Sambas terletak di daerah pertemuan sungai pada bidang tanah yang berukuran sekitar 16.781 meter persegi

Sungai Sambas sejak awal sejarah sudah lama dihuni manusia. Mereka bertempat tinggal di tepian sungai pada rumah-rumah rakit atau rumah kolong yang didirikan di atas tiang.

membujur arah barat-timur. Pada bidang tanah ini terdapat beberapa buah bangunan, yaitu dermaga tempat perahu/kapal sultan bersandar, dua buah gerbang, dua buah paseban, kantor tempat sultan bekerja, bangunan inti keraton (balairung), dapur, dan masjid sultan. Bangunan keraton menghadap ke arah barat ke arah sungai Sambas. Ke arah utara dari dermaga terdapat Sungau Sambas Kecil, dan ke arah selatan terdapat Sungai Teberau. Di sekeliling tanah keraton merupakan daerah rawa-rawa dan mengelompok di beberapa tempat terdapat makam keluarga sultan.

Bangunan keraton yang lama dibangun oleh Sultan Bima pada tahun 1632 (sekarang telah dihancurkan), sedangkan keraton yang masih berdiri sekarang dibangun pada tahun 1933. Sebagai sebuah keraton di tepian sungai, di mana sarana transportasinya perahu/kapal, tentunya di tepian sungai dibangun dermaga tempat perahu/kapal sultan bersandar. Dermaga yang terletak di depan keraton dikenal dengan nama jembatan Seteher. Jembatan ini menjorok ke tengah sungai. Dari dermaga ini ada jalan yang menuju keraton dan melewati gerbang

Di daerah pertemuan sungai Sambas dan Sambas Kecil terdapat sebuah keraton yang seluruh dindingnya dibuat dari kayu.

masuk.
Gerbang masuk yang menuju halaman keraton dibuat bertingkat dua dengan denahnya berbentuk segi delapan dan luasnya 76 meter persegi. Bagian bawah digunakan untuk tempat penjaga dan tempat beristirahat bagi rakyat yang hendak menghadap sultan, dan bagian atas digunakan untuk tempat mengatur penjagaan. Selain itu, bagian atas pada saat-saat tertentu digunakan sebagai tempat untuk menabuh gamelan agar rakyat seluruh kota dapat mendengar kalau ada keramaian di keraton.

Setelah melalui pintu gerbang yang bersegi delapan, di tengah halaman keraton dapat dilihat tiang bendera yang disangga oleh empat batang tiang. Tiang bendera ini melambangkan sultan, dan tiang penyangganya melambangkan empat pembantu sultan yang disebut wazir. Di bagian bawah tiang bendera terdapat dua pucuk meriam, dan salah satu di antaranya bernama Si Gantar Alam.
Sebelum memasuki keraton, dari halaman yang ada tiang benderanya, kita harus melalui lagi sebuah gerbang. Gerbang masuk ini juga terdiri dari dua lantai, tetapi bentuk denahnya empat persegi panjang. Lantai bawah tempat para penjaga yang bertugas selama 24 jam, sedangkan lantai atas dipakai untuk keluarga sultan beristirahat sambil menyaksikan aktivitas kehidupan rakyatnya sehari-hari.

Setelah melalui gerbang kedua dan pagar halaman inti, sampailah pada bangunan keraton. Pada bagian atas ambang pintu keraton terdapat tulisan “Alwatzsyikhubillah” yang berarti “Berpegang teguh dengan nama Allah”. Di bagian atasnya tulisan ini terdapat ukiran yang menggambarkan dua ekor burung laut yang bermakna “Kekuatan Kerajaan Sambas pada angkatan laut”, dan angka sembilan yang berarti bangunan keraton ini dibangun oleh sultan yang kesembilan.

Masjid Agung Sambas yang dibangun oleh Sultan Abubakar Tajuddin (1848-1853). Letaknya di sebelah baratdaya keraton (Dok. Puslitarkenas).

Di dalam kompleks keraton terdapat tiga buah bangunan. Di sebelah kiri bangunan utama terdapat bangunan yang berukuran 5 x 26 meter. Pada masa lampau bangunan ini berfungsi sebagai dapur dan tempat para juru masak keraton. Di sebelah kanan bangunan utama terdapat bangunan lain yang ukurannya sama seperti bangunan dapur. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat Sultan dan pembantunya bekerja. Dari bangunan tempat Sultan bekerja dan bangunan utama keraton dihubungkan dengan koridor beratap dengan ukuran panjang 5,90 meter dan lebar 1,50 meter.

Di bagian dalam bangunan tempat Sultan dan pembantunya bekerja, tersimpan beberapa benda pusaka kesultanan, di antaranya singgasana kesultanan, pedang pelantikan Sultan, gong, tombak, payung kuning yang merupakan lambang kesultanan, dan meriam lele. Meriam lele yang jumlahnya tujuh buah hingga sekarang masih dianggap barang keramat dan sering diziarahi penduduk. Masing-masing meriam yang berukuran kesil ini mempunyai nama, yaitu Raden Mas, Raden Samber, Ratu Kilat, Ratu Pajajaran, Ratu Putri, Raden Pajang, dan Panglima Guntur.

Bangunan utama keraton berukuran 11,50 x 22,60 meter. Terdiri atas tujuh ruangan, yaitu balairung terletak di bagian depan, kamar tidur sultan, kamar tidur istri sultan, kamar tidur anak-anak sultan, ruang keluarga, ruang makan, dan ruang khusus menjahit. Di bagian atas ambang pintu yang menghubungkan balairung dan ruang keluarga, terdapat lambang Kesultanan Sambas dengan tulisan “Sultan van Sambas” dan angkatahun 15 Juli 1933. Angka tahun ini merupakan tanggal peresmian bangunan keraton. Di bagian dalam bangunan ini, pada kamar tidur Sultan tersimpan barang-barang khazanah Kesultanan Sambas, di antaranya tempat peraduan sultan, pakaian kebesaran, payung kesultanan, pedang, getar, puan, dan meja tulis Sultan. Pada bagian dinding terpampang gambar-gambar keluarga Sultan yang pernah memerintah Sambas.

Penulis : Bambang Budi Utomo

Diakses dari http://www.budpar.go.id/page.php?ic=543&id=463

Program 100 Hari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata


Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Ir. Jero Wacik, SE memaparkan program kerja 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II bidang Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR di  Gedung DPR-RI Jakarta, Rabu (25/11).

Menbudpar Jero Wacik mengatakan, di bidang Sejarah dan Purbakala (Sepur) dalam waktu dekat akan diluncurkan buku Sejarah Kebudayaan Indonesia dan Arus Sejarah  Kebudayaan Indonesia serta  pengembangan Kawasan Sejarah Panglima Besar Jenderal Soedirman yang diharapkan terealisasi pada Januari 2010.

Di bidang Nilai Budaya, Seni dan Film (NBSF), menurut Menbudpar Jero Wacik,  akan dilaksanakan Festival Film Indonesia (FFI) 2009 pada Desember mendatang serta mengelar Festival Musik Sasando dengan memperebutkan Piala Presiden RI yang akan dilaksanakan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sementara itu di bidang pariwisata, terus menggecarkan upaya pencapaian target kunjungan wisman yang tahun 2009 ini sebesar 6,5 juta wisatawan mancegara (wisman) serta pergerakan 227 juta wisatawan nusantara (wisnus). Selain itu melanjutkan program promosi pariwisata yang dalam kurun waktu November 2009 hingga Januari 2010 lebih difokuskan pada enam  pasar utama pariwisata, yaitu Australia, China, Korea Selatan, Jepang, Malaysia dan Singapura.

“Kita juga mendukung penyelenggaraan program Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) di dalam dan luar negeri pada  November-Desember 2009  berkordinasi dengan Deplu, pemerintah daerah dan asosiasi pariwisata,” katanya.

Sedangkan di bidang pengembangan destinasi pariwisata, akan melakukan peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Destinasi Pariwisata di 104 desa yang  dilaksanakan pada Desember 2009 berkordinasi dengan pemerintah daerah.

Di bidang Sumber Daya Budpar, kata menteri, Depbudpar akan membentuk tim kajian untuk membahas Kawasan Strategis Nasional Borobudur dalam kaitannya dengan Keppres No.1 tahun 1992 tentang Pengelolaan Kawasan Borobudur dan Prambanan. “Kita juga akan melaksanakan sertifikasi terhadap 4.000 tenaga kerja bidang perhotelan, restoran dan Spa  dalam upaya meningkatkan daya saing SDM pariwisata,” katanya.

Rapat kerja pertama yang dipimpin Ketua Komisi X Prof. Dr.H.Mahyuddin,NS,SP.OG didahului acara perkenalan dengan 44 dari 48 anggota Komisi X  DPR periode 2009-2014 yang hadir dengan Menbudpar Jero Wacik dan para pejabat eselon satu Depbudpar. (Pusformas)

Sumber: http://www.budpar.go.id

Sejarah Singkat Hari Ibu (Peringatan Tahun 2009)


Hari Ibu jatuh pada 22 Desember. Mengapa tanggal ini ditetapkan sebagai Hari Ibu?

Berikut sejarah singkat Hari Ibu; teks yang dibaca pada peringatan Hari Ibu tahun 2009. Tema  peringatan  Hari  Ibu  (PHI) tahun  ini  adalah Kesetaraan  Perempuan  dan  Laki-laki  dalam  Pembangunan Nasional.

Sejarah Singkat Hari

Gema  Sumpah  Pemuda  dan  lantunan  lagu  Indonesia Raya  yang pada tanggal 28 Oktober 1928 digelorakan dalamKongres  Pemuda  Indonesia,  menggugah  semangat  para pimpinan  perkumpulan  kaum  perempuan  untuk  mempersatukan  diri dalam satu  kesatuan wadah mandiri.  Pada  saat itu sebagian besar perkumpulan masih merupakan bagian dari organisasi pemuda pejuang pergerakan bangsa.

Selanjutnya, atas  prakarsa  para  perempuan  pejuang pergerakan kemerdekaan pada  tanggal 22-25 Desember 1928

diselenggarakan Kongres Perempuan  Indonesia  yang pertama kali  di  Yogyakarta.  Salah  satu  keputusannya  adalah  di bentuknya satu  organisasi  federasi  yang  mandiri  dengan nama  Perikatan  Perkoempoelan  Perempoean  Indonesia (PPPI).

Melalui PPPI tersebut terjalin kesatuan semangat  juang kaum perempuan untuk  secara bersama-sama kaum Laki-laki berjuang  meningkatkan  harkat  dan  martabat bangsa Indonesia  menjadi  bangsa  yang  merdeka, dan  berjuang bersama-sama  kaum  perempuan  untuk meningkatkan  harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju.

Pada  tahun  1929  Perikatan  Perkoempoelan  Perempuan Indonesia  (PPPI)  berganti  nama  menjadi  Perikatan Perkoempoelan  Istri  Indonesia  (PPII). Pada  tahun  1935 diadakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta. Kongres tersebut  disamping  berhasil membentuk  Badan  Kongres Perempuan  Indonesia,  juga  menetapkan  fungsi  utama Perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa, yang berkewajiban menumbuhkan  dan  mendidik  generasi  baru  yang  lebih menyadari dan lebih tebal rasa kebangsaannya.

Pada  tahun  1938  Kongres  Perempuan  Indonesia  III di Bandung  menyatakan  bahwa  tanggal 22  Desember  sebagai Hari Ibu.  Selanjutnya, dikukuhkan  oleh  Pemerintah  dengan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959,yang  menetapkan  bahwa  Hari Ibu  tanggal  22  Desember merupakan  hari  nasional  dan  bukan  hari libur.  Tahun  1946 Badan  ini menjadi  Kongres  Wanita  Indonesia  di  singkat KOWANI, yang sampai saat  ini terus berkiprah sesuai aspirasi dan  tuntutan  zaman. Peristiwa  besar  yang  terjadi  pada tanggal  22  Desember  tersebut  kemudian  dijadikan  tonggak sejarah bagi Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia.

HariIbu  oleh bangsa  Indonesia  diperingati  tidak  hanya  untuk menghargai jasa-jasa perempuan  sebagai seorang ibu, tetapi juga  jasa  perempuan  secara  menyeluruh, baik sebagai ibu dan istri  maupun  sebagai  warga  negara,  warga  masyarakat dan sebagai abdi Tuhan Yang Maha Esa, serta sebagai pejuang dalam merebut,  menegakan  dan  mengisi  kemerdekaan dengan pembangunan nasional.

Peringatan  Hari Ibu  dimaksudkan  untuk  senantiasa mengingatkan  seluruh  rakyat  Indonesia  terutama  generasi muda,  akan  makna  Hari Ibu  sebagai  Hari kebangkitan dan persatuan  serta kesatuan  perjuangan  kaum perempuan  yang tidak terpisahkan dari kebangkitan perjuangan bangsa. Untuk itu  perlu  diwarisi  api  semangat  juang  guna  senantiasa mempertebal  tekad  untuk melanjutkan  perjuangan  nasional menuju  terwujudnya  masyarakat  yang  adil dan  makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Semangat  perjuangan  kaum  perempuan  Indonesia tersebut  sebagaimana tercermin dalam lambang Hari Ibu berupa setangkai  bunga melati dengan kuntumnya,  yang menggambarkan:

1. kasih sayang kodrati antara ibu dan anak;

2. kekuatan, kesucian antara ibu dan pengorbanan anak;

3. kesadaran  wanita  untuk  menggalang  kesatuan  dan

persatuan,  keikhlasan bakti  dalam pembangunan bangsa

dan negara.

Semboyan pada  lambang  Hari Ibu  Merdeka Melaksanakan  Dharma mengandung  arti  bahwa  tercapainya persamaan  kedudukan,  hak,  kewajiban  dan  kesempatan antara  kaum  perempuan  dan  kaum  laki-laki  merupakan kemitrasejajaran  yang  perlu  diwujudkan  dalam kehidupan berkeluarga,  bermasyarakat,  berbangsa  dan  bernegara  demi keutuhan, kemajuan dan kedamaian bangsa Indonesia.

Hari Ibu, 22 Desember 2009

Download

Pedoman Penyelenggaraan Peringatan Hari Ibu 2009

(berisi antara lain maksud dan tujuan, tata upacara, logo dan maknanya)

Pengertian WNI (Warga Negara Indonesia)


Dalam UU 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI, dijelaskan bahwa yang dimaksud WNI adalah seperti diatur dalam pasal 4.

Bunyi Pasal 4 UU  No 12 Th 2006 sbb.:

Warga Negara Indonesia adalah:

a. setiap orang yang berdasarkan peraturan perundang- undangan dan/atau berdasarkan perjanjian Pemerintah Republik Indonesia dengan negara lain sebelum Undang-Undang ini berlaku sudah menjadi Warga Negara Indonesia;

b. anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah dan ibu Warga Negara Indonesia;

c. anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah Warga Negara Indonesia dan ibu warga negara asing;

d. anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah warga negara asing dan ibu Warga Negara Indonesia;

e. anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ibu Warga Negara Indonesia, tetapi ayahnya tidak mempunyai kewarganegaraan atau hukum negara asal ayahnya tidak memberikan kewarganegaraan kepada anak tersebut;

f. anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 (tiga ratus) hari setelah ayahnya meninggal dunia dari perkawinan yang sah dan ayahnya Warga Negara Indonesia;

g. anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu Warga Negara Indonesia;

h. anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga negara asing yang diakui oleh seorang ayah Warga Negara Indonesia sebagai anaknya dan pengakuan itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia 18 (delapan belas)  tahun atau belum kawin;

i. anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia yang pada waktu lahir tidak jelas status kewarganegaraan ayah dan ibunya;

j. anak yang baru lahir yang ditemukan di wilayah Negara Republik Indonesia selama ayah dan ibunya tidak diketahui;

k. anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia apabila ayah dan ibunya tidak mempunyai kewarganegaraan atau tidak diketahui keberadaannya;

l. anak yang dilahirkan di luar wilayah negara Republik Indonesia dari seorang ayah dan ibu Warga Negara Indonesia yang karena ketentuan dari negara tempat anak tersebut dilahirkan memberikan kewarganegaraan kepada anak yang bersangkutan;

m. anak dari seorang ayah atau ibu yang telah dikabulkan permohonan kewarganegaraannya, kemudian ayah atau ibunya meninggal dunia sebelum mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia.

Tulisan terkait, Syarat Menjadi WNI
Download:

1. Download UUD 1945 hasil Amandemen

2. UU_No.24-Th 2009 .Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan pdf

3. Penjelasan UU No.24-Th 2009 (lamp.tentang Lambang Negara dan Naskah Indonesia Raya pdf

4. UU_no_12_th_2006.tentang Kewarganegaraan RI pdf

5. UU_no_12_th_2006_tentang_Kewarganegaraan_RI_(penjelasan).pdf

6. Profil Indonesia dalam Situs Republik Indonesia

7. Lagu Indonesia Raya (Not Angka dan Not Balok)

8. Profil 33 Provinsi

9. UU_No.40_Th-2008_tentang_Penghapusan_Diskriminasi_Ras_dan_Etnis.doc

10. UU_No_43_Th_2008_tentang_Wilayah_Negara.pdf

11. UU_No_31_Th-1999_tentang_PemberantasanTindakPidanaKorupsi.doc

12. UU_No_1_Th_1974 tentang_Perkawinan.pdf

13. UU_No_23_Th_2006_tentang_Administrasi_Kependudukan_pdf

Batik Indonesia Diakui Unesco


Tanggal 2 Oktober 2009 menjadi hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, khususnya berkaitan dengan budaya bangsa. Pada hari ini, Unesco menyelenggarakan Sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah (Fourth Session of the Intergovernmental Committee) di Abu Dhabi.

Pada sidang tersebut, batik Indonesia  diakui UNESCO dengan dimasukkannya ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Takbenda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity).

Bersama dengan Batik Indonesia, UNESCO telah menerima 111 nominasi mata budaya dari 35 negara, dan yang diakui dan dimasukkan dalam Daftar Representatif sebanyak 76 mata budaya.

Sebelumnya pada tahun 2003 dan 2005 UNESCO telah mengakui Wayang dan Keris sebagai Karya Agung Budaya Lisan dan Takbenda Warisan Manusia (Masterpieces of the Oral and Intangible Cultural Heritage of Humanity) yang pada tahun 2008 dimasukkan ke dalam Representative List.

Dengan pengakuan ini semoga “karya anak bangsa” ini berkembang maju dan modern dengan tetap tidak meninggalkan corak budaya bangsa.

%d blogger menyukai ini: