Lagu Hari Pertama Masuk Sekolah


Inilah notasi dan MP3 lagu Hari Pertama Masuk Sekolah yang diterbitkan Direktorat Binkel (Bapak Sukiman) yang harus dinyanyikan untuk semua jenjang.

Lirik Hari Pertama Masuk Sekolah

Hari ini hari pertamaku,

hari pertama ke sekolah.

Senangnya hatiku diantar ayah ibu,

pergi berangkat ke sekolah.

Senangnya hatiku bertemu teman baru,

guru baru, tentulah ramah.

Ayo ke sekolah, ayo ke sekolah

Dokumen untuk Diunduh

tunas63_hari pertama masuk sekolah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Pakem Joget Bumbung Bali, Etika atau Porno?


joged-bumbung-klasik

Penampilan Joged Bumbung Suara Mekar Banjar Antap Panjer, Denpasar, di panggung terbuka Ksirarnawa Art Center Denpasar, Selasa (16/6/2015). Tarian joged dengan pakem klasik ini mampu menghibur ratusan penonton.

Penampilan Joged Bumbung Suara Mekar Banjar Antap Panjer, Denpasar, di panggung terbuka Ksirarnawa Art Center Denpasar, Selasa (16/6). Tarian joged dengan pakem klasik ini mampu menghibur ratusan penonton.Di Pulau Dewata siapa yang tidak mengenal joged bumbung? Joged ini merupakan joged fenomenal yang sangat dikenal oleh masyarakat Bali. Mengandung tiga unsur yaitu etika, logika dan estetika. Joged yang berasal dari Desa Kalopaksa, Seririt, Buleleng ini cukup fenomenal karena mengalami pergeseran makna tarian yang terkandung di dalamnya. Dari tarian sederhana menjadi tarian yang erotis dan sempat mendapat julukan sebagai joged porno.

Sejarah terciptanya joged bumbung di Buleleng diawali dengan pementasan tarian oleh sekelompok petani di Desa Lokapaksa. Diiringi seperangkat gamelan dari bambu yang dikenal dengan sebutan ting klik mereka mengisi waktu luang di tengah keletihan mengolah lahan sawah dengan menampilkan sebuah tarian sederhana. Meski digarap dengan sederhana, nyatanya tarian tersebut mampu menghibur para petani kala itu.

Beranjak dari Desa Kalopaksa kesenian ini kemudian berkembang ke beberapa desa lain di Kabupaten Buleleng dan kabupaten-kabupaten lain di provinsi Bali hingga membentuk sekaa-sekaa (kelompok) joged. Pesatnya perkembangan sekaa joged bumbung di beberapa daerah di Buleleng mengakibatkan munculnya persaingan yang sangat kompetitif antar sekaa. Hal ini memaksa mereka untuk berinovasi menciptakan kreasi baru dari joged bumbung sendiri agar sekaa mereka tetap eksis dan diminati oleh masyarakat.

Kebebasan menciptakan inovaasi baru joged bumbung ini mengakibatkan perkembangannya menjadi tidak terkontrol dan keluar dari pakemnya. Joged bumbung yang dulu memiliki makna sebagai tarian pergaulan dan merakyat, tetapi saat ini sudah dirusak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dan secara kasat mata terlihat sangat buruk. Munculah joged bumbung sebagai sesuatu yang fenomenal. Tidak lagi dipandang sebagai tarian yang sederhana, tetapi sudah berubah menjadi joged porno nan erotis.

Kemunculan joged bumbung versi kreasi baru yang dipandang sebagai sesuatu yang erotis dan porno menimbulkan keprihatinan pemerintah provinsi dan daerah. Secara bersama-sama keduanya kemudian melakukan pembinaan menyasar sekaa joged bumbung di seluruh Bali, termasuk di Buleleng. Pembinaan ini menyadarkan para seniman untuk tetap mempertahankan pakem asli kesenian joged bumbung. Pakem asli ini bagaimana tariannya tetap mengikuti etika dan sesuai norma kesopanan di masyarakat. Selain pembinaan menyangkut pakem asli, tim pembina ini juga menyarankan kepada desa pakraman untuk berpartisipasi menyarankan masyarakatnya untuk mementaskan joged bumbung sesuai pakem asli dan masih menjunjung tinggi nilai kesopanan yang berkembang di masyarakat. Bahkan tim pembina ini berencana agar desa pakraman memasukkan larangan mementaskan kesenian joged porno dalam pararem awig-awig di desa pakraman bersangkutan.

Artiekl terkait: Joget Bumbung ditetapkan UNESCO masuk warisan budaya dunia 

Sumber: Diakses pada 08/12/2015 dari http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbbali/2015/05/28/joged-bumbung-dari-sederhana-menjadi-fenomenal/

UNESCO: 9 Tari Bali Jadi Warisan Budaya Dunia


Komite Warisan Budaya Tak Benda UNESCO di Windhoek, Namibia, Selasa (2/12/2015) menetapkan tiga genre (jenis) tari tradisi di Bali yang terdiri dari sembilan tarian, sebagai warisan budaya takbenda dunia sebagai Warisan Budaya Tak Benda (UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity).

  • Rejang, Sanghyang Dadari, dan Baris Upacara yang digolongkan sebagai tarian sakral;
  • Topeng Sidhakarya, Sendratari Gambuh, dan Sendratari Wayang Wong yang digolongkan sebagai tarian semi-sakral;
  • Legong Kraton, Joged Bumbung, dan Barong Ket “Kuntisraya”, yang digolongkan sebagai tarian hiburan.

Tiga genre tari tradisi di Bali tersebut menjadi elemen budaya Indonesia ketujuh yang ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya takbenda dunia. Enam elemen yang telah terdaftar sebelumnya adalah Wayang (2008), Keris (2008), Batik (2009), Angklung (2010), Tari Saman (2011), dan Noken Papua (2012).

Berikut penjelasan lebih detil mengenai kesembilan tari tersebut.

1. Rejang adalah tari upacara keagamaan yang diadakan di Pura Merajan atau sangga. Berdasarkan koreografinya, tarian ini tidak begitu terkait pada pedum karang seperti tarian lainnya. Tarian ini bersifat fleksibel, menyesuaikan situasi dan kondisi, khususnya pada upacara Pangider Buana, para penari mengitari sajen berputar putar mengikuti pradaksina.

2. Sanghyang Dedari merupakan salah satu jenis tari sanghyang.Tari sakral sanghyang adalah sebuah tari kerauhan yang ditarikan dalam kondisi kesurupan. Tari ini memiliki tujuan mistis, tidak ditampilkan di depan umum, ditarikan untuk melindungi desa dari wabah penyakit, bencana alam, dan sebagainya. Tarian ini merupakan tari tinggalan kebudayaan pra-Hindhu yang ditarikan oleh dua gadis yang masih suci. Tarian ini tidak diiringi oleh instrumen musik, melainkan iringan beberapa orang menyanyikan lagu persembahan kepada Dewa.

3. Baris Upacara adalah merupakan tari-tarian yang pada umumnya tidak memiliki lakon (lelampan) atau ceritera. Umumnya Tari Baris Upacara dipergunakan atau ditarikan untuk Dewa Yadnya. Tari Baris Upacara sebagai penunjang upacara Dewa Yadnya ini banyak jenisnya. Biasanya pada upacara ini, Tari Baris Upacara merupakan symbol widyadara, apsara sebagai pengawal Ida Betara Sesuhunan turun ke dunia pada saat piodalan (odalan) di pura bersangkutan dan berfungsi pula sebagai pemendak (penyambut) kedatangan para dewa.

4. Topeng Sidhakarya biasanya ditarikan di akhir, menyimbolkan bahwa tari sakral telah selesai, Dalam sebuah hajatan ritual keagamaan tradisi Hindu (Bali), merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan runtutan upacara sebagai pelengkap guna mendapatkan keyakinan dalam pencapaian ke arah kesempurnaan suksesnya sebuah yadnya.

5. Dramatari Gambuh
Pada umumnya fungsi gambuh adalah sebagai Tari Bebali (seremonial), yaitu sebagai pengiring upacara di pura-pura. Dramatari Gambuh sebagai tari lakon klasik tertua dalam khazanah tari Bali adalah merupakan bentuk total teater yang memiliki unsur seni, drama, music, dialog dan tembang. Dramatari gambuh masih memakai nama-nama tokoh penarinya diambil dari nama-nama kaum bangsawan kerajaan di Jawa Timur pada abad ke 12-14. Nama-nama itu diantaranya Demang Sampi Gontak, Tumenggung Macan Angelur, Rangga Toh Jiwa, Arya Kebo Angun-angun, Punta Tan Mundur, dan lain-lainya. Dramatari Gambuh adalah tari dasar hampir seluruh tari-tarian yang ada di Bali. Dramatari Gambuh sangat erat hubungannya dengan pelaksanaan upacara-upacara besar terutama tingkatan upacara “mapeselang”. Tarian Gambuh ditarikan pada waktu Ida Bhatara turun ke “paselang”.
6. Dramatari Wayang Wong adalah (seni pertunjukan) yang pelaku-pelakunya masnusia atau orang. Merupakan perwujudan dari tari lakon Bali, perpaduan antara tari, drama dan musik. Wayang Wong di Bali adalah merupakan salah satu cabang seni pertunjukan yang bersifat klasik dan merupakan satu kesatuan daripada tari, tabuh, tembang, dan drama dengan menggunakan tapel serta memakai cerita/lakon yang diambil dari lakon (wiracarita) Ramayana.

7. Legong Kraton adalah tari klasik yang melakonkan ceritera-ceritera jaman dulu seperti ceritera prabu Lasem. Tari ini biasanya ditarikan oleh tiga orang gadis dimana yang seorang berperan sebagai Condong dan kedua orang lainnya berperan Legong.

8. Joged Bumbung merupakan salah satu jenis tari Joged yang diiringi dengan gamelan bumbung bambu dan penarinya perempuan, pengibing laki-laki. Joged adalah semacam tari pergaulan muda mudi yang diiringi dengan gamelan yang terbuat dari bumbung bambu. Penari joged pada awalnya menari sendiri yang disebut ngelembar. Setelah itu penari mencari pasangannya seorang laki-laki yaitu salah seorang lelaki yang menonton yang dihampiri si penari, dan laki-laki itu kemudian diajaknya menari bersama-sama atau diajaknya ngibing. Begitulah seterusnya si penari berganti-ganti pasangan yang dipilihnya. Tari Joged ini ada persamaannya dengan tari gandrung.

9. Barong Ket
Barong merupakan perwujudan atau prabhawa Sanghyang Tri Murti. Warna topeng atau punggelan berbagai jenis barong yang berwarna bang (merah) adalah simbol Dewa Brahma, yang berwarna ireng (hitam) merupakan wujud Dewa Wisnu, sedangkan yang berwarna petak(putih) merupakan perwujudan Dewa Iswara. Sanghyang Tri Murti yang disimbolkan dengan berbagai jenis barong yang dilawangkan dari satu pintu ke pintu yang lain selama 35 hari diyakini dapat melindungi umat manusia khususnya umat Hindu dari kekuatan merusak yang disebabkan oleh Sanghyang Kala Tiga Wisesa sehingga selamat. Perwajahan Barong pada umumnya merupakan wajah manusia dengan berbagai warna berbeda sebagai simbol tertentu, sedangkan barong ket lebih menyerupai hewan.

Sumber: http://www.kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/4909

Partitur Paduan Suara Himne Hari Ibu


Lagu Himne Hari Ibu diciptakan oleh komponid N. Simanungkalit. Berikut notasi lagu yang siap diunduh dengan mudah. Silakan klik kanan-save as-pilih target menyimpan.

partitur himne hari ibu

Partitur Mars Hari Ibu


Lagu Mars Hari Ibu adalah ciptaan N. Simanungkalit. Berikut notasi lagu dalam paduan suara, suara sopran dan alto.

partitur mars hari ibu

 

Unduh Mars Wajib Belajar MP3


Untuk menyosialisasikan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar, pemerintah meluncurkan lagu Mars Wajib Belajar. Lagu ini diciptakan R.N. Sutarmas, syair diciptakan oleh R.N. Sutarmas dan H. Winarno.

Untuk mengunduh fil lagu dalam mp3, klik tautan berikut:

Unduh Mars Wajib belajar MP3

Lirik Mars Wajib belajar, klik di sini

 

Sejarah Pekan Olahraga dan Seni Pondok Pesantren


Sejarah Pekan Olahraga dan Seni Antar Pondok Pesantren Tingkat Nasional (Pospenas) dicikalbakali penyelenggaraan PORSENI (Pekan  Olahraga dan Seni) antar Pondok Pesantren se – Jawa di Pondok Pesantren Darunnajah, Ulujami, Jaksel,1999, menimbulkan pemikiran agar dijadikan event  bertarap nasional secara reguler tiap 2 (dua) tahun.

Pospenas pertama kalinya secara resmi diselenggarakan pada tahun 2001, di Mahad Al Zaytun Indramayu, Jabar, diikuti 2.668 Olahragawan, Seniman & Official seluruh Provinsi dan dibuka oleh Mendiknas, A. Malik Fadjar.

Pospenas II tahun 2003, di selenggarakan di Palembang, Sumatera Selatan, diikuti 3.253 Olahragawan, Seniman & Official dari seluruh Provinsi dan dibuka oleh Menko Kesra, M.Jusuf Kalla.

Pospenas III, tahun 2005, di selenggarakan di Medan, Sumatera Utara, diikuti 3500 Olahragawan, Seniman dan Official dari seluruh Provinsi dan dibuka oleh Menko Kesra, Alwi Shihab.

Pospenas IV, tahun 2007, diselenggarkan di Samarinda, Kalimantan Timur, diikuti oleh 3.800 Olahragawan, Seniman & Official dari 33 Provinsi dan dibuka oleh Menteri Agama,  Maftuh Basyuni.

Pospenas V, tahun 2010, diselenggarakan di Jawa Timur, semula akan dilaksanakan pada tahun 2009, namun diundur mengingat padatnya agenda nasional tahun 2009.

Sejak awal, dari penyelenggaraan POSPENAS diharapkan dapat meningkatkan citra pondok pesantern sekaligus dapat mengantisipasi ekslusifisme dan ekstrimisme pondok pesantren.

2. Dasar

  1. UU NO.20/03 Ttg. Sistem Pendidikan Nasional
  2.  UU NO.3/05 Ttg. Sistem Keolahragaan Nasional
  3.  PP NO.16/07 Ttg. Penyelenggaraan Olahraga
  4.  PP NO.17/07 Ttg. Penyelenggaraan Pekan & Kejuaraan Olahraga
  5.  PP NO.18/2007 Ttg. Pendanaan Olahraga
  6. Nota Kesepahaman  (Memorandum of Understanding – MOU) antara Menpora, Menteri Agama, Mendagri, Mendiknas & Menpar & Kesenian/Kepala Badan    Pengembangan Pariwisata No: 060/Menpora/2000;MA/178/2000; MA/178/2000;28/2000;02/VII/P/2000;SKB/02/MNPK/VII /2000, ttg Penyelenggaraan Pekan Olahraga & Seni antar Pondok Pesantren Tingkat Nasional

   Tujuan

  1. Memupuk dan meningkatkan rasa persatuan, persahabatan dan persaudaraan antar santri
  2. Meningkatkan minat olahraga dan seni bagi santri guna meningkatkan kesehatan/kesegaran  jasmani dan rohani, mengembangkan kreatifitas,membangun disiplin dan sportifitas santri
  3. Menunjang usaha pemerintah dalam meningkatkan prestasi olahraga dan seni-budaya nasional
  4. Sebagai evaluasi dan tolok ukur keberhasilan pembinaan olahraga dan seni santriwan dan santriwati Pondok Pesantren
%d blogger menyukai ini: