Jadwal, Kisi-kisi, dan POS US/M dan UN 2017


Berikut kisi kisi UN juga US/M 2016/2017 lengkap. Kisi-kisi untuk UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) dan UNKP (Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil), Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (Program Paket B dan Paket C)

US/M 2017

 

Kisi-Kisi UN 2017

Selengkapnya dapat dilihat di laman Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), di sini.

Prosedur Operasional Standar UN 2017

  • POS UN 2017 dapat diunduh di sini.
  • Surat Edaran BSNP Nomor: 0078/SDAR/BSNP/I/2017 mengenai Ralat Jadwal UNKP SMP/MTs & SMPLB (Susulan) pada POS UN Tahun Pelajaran 2016/2017 (unduh di sini)

Surat Edaran Kemdikbud 

  • Surat Edaran Mendikbud tentang Pelaksanaan UN 2017 dapat diunduh di sini.
  • Surat Edaran Kabalitbang Kemdikbud tentang Pendaftaran Peserta UN 2017 dapat diunduh di sini

Jadwal UN

un-2017_jadwal-unbk-unkp-sm-mts-sma-smk-ma un-2017_jadwal-unpk-paketb-c

Rujukan

Bila tautan di atas bermasalah atau untuk cek sumber, silakan klik Badan Standar Nasional Pendidikan.

 

Jadwal Ujian SD/MI 2015/2016


Ujian akhir jenjang SD/MI dan Program Paket A/Ula tahun pelajaran 2015/2016 dinamakan Ujian Sekolah/Madrasah (US/M). US/M akan dilaksanakan tanggal 16, 17, 18 Mei 2016, dan ujian susulan tanggal 23, 24, 25 Mei 2016.

Mata pelajaran yang diujikan pada US/M ada tiga mata pelajaran:

  • Bahasa Indonesia : 50 soal (120 menit)
  • IPA : 40 soal (120 menit)
  • Matematika : 40 soal (120 menit)

Jadwal US/M dan Paket A/Ula Utama dan Susulan

jadwal US-M SD-MI  th 2015-2016

jadwal US-M Paket A th 2015-2016

POS dan Kisi-kisi

Bila berminat melihat Peraturan POS dan Kisi-kisi US/M 2015/2016 silakan klik di sini

Peraturan Seragam Sekolah


Apa tujuan seragam sekola? Bagaimana model, macam, jenis, dan warna seragama sekolah sesuai peraturan yang beralku?

Seragam sekolah jenjang SD, SMP, SMA, SMK diatur berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 45 Tahun 2014, tentang Pakaian Seragam Sekolah bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah.

Tujuan

Tujuan penetapan pakaian seragam sekolah sebagaimana ketentuan Pasal 2 Permendikbud Nomor 45 Tahun 2014 adalah:
a. menanamkan dan menumbuhkan rasa nasionalisme, kebersamaan, serta memperkuat persaudaraan sehingga dapat menumbuhkan semangat kesatuan dan persatuan di kalangan peserta didik;
b. meningkatkan rasa kesetaraan tanpa memandang kesenjangan sosial ekonomi orangtua/wali peserta didik;
c. meningkatkan disiplin dan tanggungjawab peserta didik serta kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku; dan
d. menjadi acuan bagi sekolah dalam menyusun tata tertib dan disiplin peserta didik khususnya yang mengatur pakaian seragam sekolah.

Macam, Jenis, dan Warna Pakaian Seragam Sekolah (Pasal 3 Permendikbud 45/2014)

(1) Pakaian seragam sekolah terdiri dari:
a. Pakaian seragam nasional;
b. Pakaian seragam kepramukaan; atau
c. Pakaian seragam khas sekolah.
(2) Jenis pakaian seragam sekolah terdiri dari:
a. Pakaian seragam sekolah untuk peserta didik putra;
b. Pakaian seragam sekolah untuk peserta didik putri.
(3) Warna pakaian seragam nasional untuk:
a. SD/SDLB: kemeja putih, celana/rok warna merah hati;
b. SMP/SMPLB: kemeja putih, celana/rok warna biru tua;
c. SMA/SMALB/SMK/SMKLB: kemeja putih, celana/rok warna abu-abu.

Atribut  (Lampiran I Permendikbud 45/2014)
a. Badge dijahitkan pada saku kemeja;
b. Badge merah putih dijahitkan pada atas saku kemeja;
c. Badge nama peserta didik dijahitkan pada kemeja bagian dada sebelah kanan;
d. Badge nama sekolah dan nama kabupaten/kota dijahitkan pada lengan kemeja sebelah kanan.

Pengadaan (Pasal 4 Permendikbud 45/2014)

(1) Pengadaan pakaian seragam sekolah diusahakan sendiri oleh orangtua atau wali peserta didik.
(2) Pengadaan pakaian seragam sekolah tidak boleh dikaitkan dengan pelaksanaan penerimaan peserta didik baru atau kenaikan kelas.

Penggunaan (Pasal 4 Permendikbud 45/2014)

(1) Pakaian seragam nasional dikenakan pada hari Senin, Selasa, dan pada hari lain saat pelaksanaan Upacara Bendera.
(2) Pada saat Upacara Bendera dilengkapi topi pet dan dasi sesuai warna seragam masing-masing jenjang sekolah, dilengkapi dengan logo tut wuri handayani di bagian depan topi.
(3) Selain hari sebagaimana dimaksud pada ayat (1) peserta didik dapat mengenakan pakaian seragam kepramukaan atau pakaian seragam khas sekolah yang diatur oleh masing-masing sekolah.

Unduh Permendikbud 45/2014 klik di sini

Kisi-kisi PAI Ujian Nasional 2014/2015


Berikut kisi ujian tulis dan ujian praktik Pendidikan Agama Islam berikut siap diunduh.

Bagi yang berminat, silakan download sesuai jenjang SD, SMP, SMA, atau SMK .

Kisi-kisi PAI 2014/2015 SD

  • Panduan Ujian Praktik PAI SD
  • Kisi-Kisi Ujian Tulis PAI SD
  • Kisi-Kisi Ujian Praktik PAI SD
  • Daftar Nilai Ujian Praktik PAI SD

Kisi-kisi PAI 2014/2015 SMP

  • Kisi-Kisi Ujian Tulis PAI SMP
  • Kisi-Kisi Ujian Praktik PAI SMP

Kisi-kisi PAI 2014/2015 SMA

  • Kisi-Kisi Ujian Tulis PAI SMP
  • Kisi-Kisi Ujian Praktik PAI SMP

Kisi-kisi PAI 2014/2015 SMK

  • Kisi-Kisi Ujian Tulis PAI SMP
  • Kisi-Kisi Ujian Praktik PAI SMP

Selamat usaha dan semoga bermanfaat dan dirahmati Allah SWT.

Peraturan Baru Seragam Sekolah 2014


Mulai 2014, terbit peraturan baru tentang seragam sekolah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 45 Tahun 2014, tentang Pakaian Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah.

Jenis Seragam Sekolah

  1.  seragam nasional
  2. seragam sekolah
  3. seragam kepramukaan

Yang ditambahkan dalam seragam nasional itu adalah bendera merah putih, diletakan di dada kiri atas kantong saku untuk maksud menanamkan kecintaan terhadap merah putih yaitu identitas diri sebagai siswa dan siswi Indonesia.

Tujuan Seragam Sekolah

Pada Permendikbud Nomor 45 Tahun 2014 ini menjelaskan penetapan pakaian seragam sekolah memiliki 4 tujuan  yaitu

pertama, untuk menanamkan dan menumbuhkan rasa nasionalisme, kebersamaan, serta memperkuat persaudaraan sehingga dapat menumbuhkan semangat kesatuan dan persatuan di kalangan peserta didik.

Kedua, meningkatkan rasa kesetaraan tanpa memandang kesenjangan sosial ekonomi orang tua atau wali peserta didik.

Ketiga, meningkatkan disiplin dan tanggung jawab peserta didik serta kepatuhan terhadap peratuan yang berlaku.

Keempat, menjadi acuan bagi sekolah dalam menyusun tata tertib dan disiplin peserta didik, khususnya yang mengatur seragam sekolah.

Jadwal Pemakaian Seragam Sekolah

  1. Senin-Selasa  : seragam nasional (seragam nasional dapat dipakai pada hari lain saat upacara bendera)
  2. Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu : seragam kepramukaan atau pakaian seragam khas sekolah yang diatur oleh masing-masing sekolah.

Sumber: http://www.kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/2679

Panduan OSN 2014


OSN  Tahun  2014  Tingkat  SD/MI akan  dilaksanakan pada  tanggal  4  s.d  9  Mei  2014  di Denpasar, Bali. Mata pelajaran tingkat SD/MI adalah Matematika dan IPA.

Sedangkan Olimpiade Sains Nasional (OSN) jenjang Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah akan dilaksanakan di Padang, Sumatera Barat, pada 15-21 Mei 2014. Ada empat bidang lomba yang digelar yaitu Matematika, Biologi, Fisika, dan IPS.ng berkepribadian kokoh, kompetitif, dan mandiri.

Dokumen untuk diunduh

Panduan OSN SD/MI 2014 

Panduan OSN SMP/MTs 2014 

 

Daftar NISN 2014


NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) penting dimiliki setiap siswa. Berikut cara cek NISN terbaru yang menampilkan NISN beserta daftar siswa per sekolah (bukan madrasah:MI/MTs/MA).

Untuk menelusuri NISN juga melihat NPSN, silakan ikuti langkah berikut.

1. Klik sesui Jenjang Sekolah

2. Pilih/Klik nama Provinsi

3. Pilih/Klik nama Kab/Kota

4. Cari nama sekolah. Bila pada halaman 1 ini nama sekolah tidak ada kemungkinan ada di halaman lain, (dapat dicari dengan dua fasilitas yang tersedia).

  • Memperbanyak jumlah tampilan nama sekolah dengan mengubah tampilan baris sampai 100 baris/sekolah. Tombol pilihan ada di pojok kiri atas.
  • Melihat halaman berikutnya dengan klik nomor halaman. Nomor halaman ada di pojok kanan bawah.
  • Atau mencari sekolah dengan menggunakan “kotak pencarian di pojok kanan atas”: ketik nama sekolah atau nomor NPSN.

5. Klik nama sekolah maka akan tampil daftar NISN dan nama Siswa.

  • Jika klik NPSN maka akan tampil profil sekolah.

Unduh Daftar NISN

Untuk mengunduh daftar NISN yang sudah tampil, silakan klik “Ekspor ke excel” di sisi kiri bawah!

CARA CEK/MENELUSURI NISN ( Cara 1)

  • Data yang diperlukan: nama, tempat lahir, dan tanggal lahir.
  • Untuk mulai cek silakan klik poster  “NISN DAPODIK” (di sisi kanan halaman ini)

DATA BARU NISN SISWA AKTIF (Cara 2)

NISN bagi siswa yang masih aktif, sekarang dapat diakses melalui web data referensi Kemdikbud. Web ini, menampilkan data lembaga, tenaga pendidik, NPSN, NUPTK, dan NISN.

Namun, untuk NUPTK dan NISN hanya ditampilkan sebagian (yang sebagian dirahasiakan). Meskipun NUPTK atau NISN tidak dapat dilihat lengkap, setidaknya sudah dapat diletahui bahwa NUPTK/NISN sudah terbit.

Jika masih ada masalah dengan NUPTK atau NISN, silakan hubungi Help Desk NUPTK/NISN yang alamat kontaknya ada di bagian bawah laman.

Langkah Melihat NISN Siswa Aktif

  1. Klik  link NISN berikut  NISN Pendidikan Dasar & Menengah 
  2. Klik nama provinsi
  3. Klik nama kabupaten / kota
  4. Klik nama kecamatan
  5. Cari/lihat nama sekolah, dan klik angka pada kolom jumlah siswa (kolom terakhir)

Alamat Kontak NISN

Bila ada masalah dengan NISN, dapat kontak ke alamat berikut.

PUSAT DATA DAN STATISTIK PENDIDIKAN
Gedung E Lantai 1 Jalan Jenderal Sudirman Senayan, Jakarta 10270
Telp. (021) 57905777  (021) 57904804

Website: http://www.pdsp.kemdiknas.go.id
Email: pdsp@kemdikbud.go.id

Terima kasih, Semoga bermanfaat!

Jadwal US/UN 2014 SD/MI/SMP/MTs/SMA/MA/SMK


Berikut jadwal lengkap Ujian Sekolah (SD/MI) dan Ujian Nasional (SMP/MTs/SMA/MA/SMK) 2013/2014, baik ujian utama maupun ujian susulan sebagaimana POS US/M dan UN.

JADWAL UN 2014_SMA-MA_tunas63

JADWAL UN 2014_SMK_tunas63

JADWAL UN 2014_SMP-MTs_tunas63

JADWAL UN 2014_SD-MI_tunas63

Ralat Jadwal US/M Susulan

Data Pelaksanaan Kurikulum Baru Tahun 2013


Kurikulum baru akan diterapkan pada sekolah tertentu dan kelas tertentu sesuai dengan mekanisme pemilihan sekolah. Sekolah yang memenuhi syarat, akan melaksankan Kurikulum 2013 yang menggunakan model tematik. Untuk pelaksanaan ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyiapkan berbagai sarana pendukung.

 Jumlah Sekolah dan Siswa Pelaksana Kurikulum 2013

  • SD = 44.609 sekolah
  • SMP = 36.434 sekolah dengan jumlah siswa kelas VII sebanyak 3.250.717.
  • SMA = 11.535 sekolah dengan jumlah siswa kelas X sebanyak 1. 420.933.
  • SMK = 9.875 sekolah dengan jumlah siswa kelas X sebanyak 1.131.549.

Jenjang Sekolah Dasar

Berikut data berkaitan dengan pelaksanaan Kurikulum 2013 Tahap I (2013/2014) pada jenjang SD yang menggunakan basis data pada data pokok pendidikan.

Kiteria pemilihan sekolah

1. Level  akreditasi = akreditasi A dan B

2. ketenagaan dan sumber daya manusia di sekolah tersebut harus lengkap. Di SD, ada enam guru kelas, satu kepala sekolah, guru agama, dan guru pendidikan jasmani dan kesehatan (penjaskes).

3.  Kriteria sarana dan prasarana = sarana dan prasarananya memadai

4. Sekolah pelaksana kurikulum 2013 = 44.609 (30 persen dari 148.695 SD)

5. Kriteria sekolah pelaksana:

  • SD negeri 90 dan swasta 10 persen
  • Level akreditasi = akreditasi A dan B
  • Kelas = kelas 1 dan 4

6. Buku tematik = tersedia 28.779.198 eksemplar, dengan rincian perhitungan:

  • 8 buku tematik siswa untuk kelas 1,
  • 9 buku tematik siswa untuk kelas 4,
  • buku agama kelas 1 dan kelas 4 masing-masing memiliki enam variasi,
  • buku penjaskes kelas 1 dan kelas 4,
  • buku cadangan sebanyak lima persen, dan
  • buku guru.

Contoh penghitungan buku jatah sekolah:

  • Jika sebuah sekolah memiliki 40 siswa kelas 1, maka buku yang disiapkan untuk kelas 1 sekolah tersebut adalah 40 siswa dikali 8 buku tematik, ada 320 buku tema. Ditambah 40 buku agama, 40 buku penjaskes, dan 8 buku guru.
  • Begitu pula dengan kelas 4, jika ada 40 siswa maka buku yang disiapkan adalah 40 siswa dikali 9 buku tematik, yaitu 360 buku. Ditambah 40 buku agama, 40 buku penjaskes, dan sembilan buku guru. Dari total jumlah buku untuk kelas 1 dan kelas 4 sekolah tersebut, ditambah lagi lima persen buku cadangan untuk ditaruh di perpustakaan.

Pelaksanaan pada tahap 2 (tahun 2014), menjangkau kelas 2 dan 5. Dengan begini maka pada tahun pelajaran 2014/2015, kurikulum sudah diterapkan untuk kelas 1, 2, 4, dan 5.

Pelaksanaan pada tahap 3 (tahun 2015), menjangkau kelas 3 dan 6. Sehingga, untuk tahun pelajaran 2015/2016, seluruh kelas di SD sudak melaksanakan Kurikulum 2013.

Sumber: http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita

Lomba Menulis Cerita untuk Siswa SD / MI


Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kembali menggelar Lomba Menulis Cerita untuk Siswa SD / MI Tahun  2012.

Tema-tema yang boleh dipilih peserta: (1) Kejujuran, (2) Disiplin, (3) Cinta Tanah Air, (4) Cinta Lingkungan, (5) Kasih Sayang.

Lima belas pemenang akan mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebagai berikut:
Pemenang 1 Rp 6 juta
Pemenang 2 Rp 5,5 juta
Pemenang 3 Rp 5 juta
Pemenang 4 Rp 4,5 juta
Pemenang 5-9 Rp 4 juta
Pemenang 10-15 Rp 3,5 juta.
Pajak hadiah sebesar 5% (PPH pasal 21) ditanggung pemenang.

Persyaratan :

  • Peserta adalah siswa SD/MI. Peserta terbuka mulai kelas 3 hingga kelas 6, dibuktikan dengan surat keterangan dari kepala sekolah.
  • Tulisan berbentuk cerita
  • Tulisan dibuat sendiri dan bukan jiplakan, saduran, atau terjemahan dari karya lain. Keterangan ini dibuktikan dengan Surat Pernyataan Keaslian Karya / Naskah bermaterai Rp 6 ribu.
  • Tulisan belum pernah dipublikasikan di media manapun.
  • Panjang tulisan 3-6 halaman, diketik pada kertas A4 dengan jarak 1,5 spasi dan jenis huruf Times New Roman 12 pt.
  • Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
  • Di halaman akhir tulisan, ditulis biodata penulis serta nomor telepon, alamat sekolah, dan alamat rumah.

Cerita yang dikirim tiga rangkap, masukkan ke dalam amplop. Pada bagian luar amplop ditulis ‘LMC-SD/MI 2012’. Naskah paling lambat dikirim pada 29 Juni 2012 (stempel pos) atau diantar langsung ke alamat:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
Sub Output Pembinaan Pendidikan Estetika pada Subbag Rumah Tangga Bagian Umum
Setditjen Pendidikan Dasar
Kompleks Kemdikbud, Gedung E Lantai 5
Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, 10270.

Kemdikbud berhak menerbitkan dan menggandakan naskah yang terpilih. Keputusan panitia bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Jika perlu informasi lebih lanjut, silakan hubungi panitia penyelenggara di nomor telepon (021) 5725616 dan 57851730. Email: estetika_lmc_sd_smp@yahoo.co.id.

Lima belas peserta terbaik akan diundang ke Jakarta untuk mengikuti seleksi final.

 

Prosedur Penyetaraan Ijazah Luar Negeri


Layanan penyetaraan ijazah adalah layanan penilaian kesetaraan terhadap dokumen hasil belajar (ijazah/diploma/sertifikat/transkrip nilai/rapor) yang dikeluarkan oleh lembaga penyelenggara pendidikan luar negeri/dalam negeri yang tidak menganut sistem pendidikan nasional yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional.

Beberapa warga negara Indonesia yang berada di luar negeri dalam rangka melaksanakan tugas kenegaraan, diplomatik atau tugas lainnya bersekolah atau menyekolahkan putra-putrinya pada sekolah di negara setempat yang memiliki perbedaaan dengan sistem pendidikan nasional. Atau, ada pula sebagian warga negara Indonesia yang bersekolah atau menyekolahkan putra-putrinya di sekolah dengan sistem pendidikan asing namun sekolah tersebut berlokasi di Indonesia.

Setelah menyelesaikan pendidikannya pada jenjang tertentu untuk kepentingan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi ataupun untuk kepentingan administratif lainnya, misalnya melamar pekerjaan, mereka yang memiliki dokumen hasil belajar seperti rapor/ijazah/diploma/sertifikat/STTB/transkrip dari sistem pendidikan asing memerlukan penilaian untuk penyetaraan jenjang dan jenis pendidikan sesuai dengan sistem pendidikan nasional Indonesia. Penilaian dan penyetaraan ijazah dimaksud dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Nasional atau Pejabat lain yang diberi wewenang.

Prosedur Penyetaraan Ijazah

  • Mengisi formulir permohonan elektronik yang disediakan melalui aplikasi yang disediakan di Portal Kemdiknas.
  • Unggah (Upload ) berkas-berkas (elektronik) lampiran permohonan hasil pemindaian (scanning) dokumen aslinya.
  • Kirim (submit) isian permohonan apabila sudah dianggap lengkap.
  • Cetak/simpan tanda terima permohonan.
  • Menunjukkan dokumen asli dari berkas-berkas lampiran (elektronik) yang telah diunggah pada saat pengiriman permohonan dengan datang ke Sekretariat Tim Penilai yang beralamat di:

Sub-bag Kerja Sama, Bagian Hukum Dan Kepegawaian Sekretariat Ditjen Manajemen  Pendidikan Dasar Gedung E lantai 14 Kantor Kemdiknas Jl. Jenderal Sudirman Jakarta

  • Memantau status pemrosesan permohonan melalui Portal Kemdiknas dengan memasukkan nomor pendaftaran dan ”password” sesuai yang tertera di Tanda Terima Permohonan sebagai kunci akses
  • Apabila SK Penyetaraan ijazah sudah dikeluarkan, dokumen SK dapat diambil secara langsung ke Sekretariat Tim Penilai dan salinan elektroniknya dapat diunduh (di-download) melalui Portal Kemdiknas.

Persyaratan Dokumen Untuk Penyetaraan Ijazah

  • Persyaratan dokumen lampiran pada saat pengajuan permohonan melalui Portal.
Persyaratan Penyetaraan Ijazah dari Sekolah Asing di Luar Negeri
  1. Pasfoto pemohon ukuran 4×6 (*)
  2. Paspor (*)
  3. Surat keterangan dari Perwakilan RI setempat dan atau Perwakilan Negara Asing di Indonesia/ Surat Keterangan Dari Sekolah Asal (*)
  4. Ijazah/Diploma/Sertifikat (apabila penyelenggara pendidikan mengeluarkan ijazah) (*)
  5. Transkrip Nilai (*)
  6. Struktur Program kurikulum. Scan dokumen ini tidak diperlukan apabila penyelenggara pendidikan (sekolah asal) menyediakan dokumen ini di website resminya (*)
  7. Akta Kelahiran/Surat Kenal Lahir (*)
  8. Rapor kelas 1, 2, dan 3 untuk jenjang SMP, SMA, SMK (khusus bagi pemohon penyetaraan ijazah tingkat SD cukup rapor 3 tahun terakhir) (*)

Keterangan : (*) Scan berwarna

Persyaratan Penyetaraan Ijazah dari Sekolah Asing di Dalam Negeri
  1. Pasfoto pemohon ukuran 4×6 (*)
  2. Surat Ijin Belajar WNI yang dikeluarkan oleh Ditjen Mandikdas (*)
  3. Ijazah/Diploma/Sertifikat (*)
  4. Transkrip Nilai (*)
  5. Akta Kelahiran/Surat Kenal Lahir (*)
  6. Rapor kelas 1, 2, dan 3 untuk jenjang SMP, SMA, SMK (khusus bagi pemohon penyetaraan ijazah tingkat SD cukup rapor 3 tahun terakhir) (*)

Keterangan : (*) Scan berwarna

Persyaratan dokumen pada saat menunjukkan dokumen asli di Sekretariat
  1. Tanda terima permohonan
  2. Identitas diri yang berupa Paspor bagi pemohon penyetaraan ijazah dari sekolah asing di luar negeri atau Surat Ijin Belajar WNI yang dikeluarkan oleh Ditjen Mandikdas bagi pemohon penyetaraan ijazah dari sekolah asing di dalam negeri
  3. Dokumen asli Ijazah/Diploma/Sertifikat (apabila penyelenggara pendidikan mengeluarkan ijazah)
  4. Dokumen asli Transkrip Nilai
  5. Struktur Program Kurikulum (apabila tidak tersedia di laman resmi sekolah asal)
  6. Dokumen asli Akta Kelahiran
  7. Dokumen asli Rapor jenjang pendidikan terakhir (khusus bagi pemohon penyetaraan ijazah tingkat SD cukup rapor 3 tahun terakhir)

Portal Penyetaraan Ijazah, klik poster berikut!

 

Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru 2011 TK/RA/BA/SD


Penerimaan peserta didik baru pada taman kanak-kanak/Raudhatul athfal/bustanul athfal dan sekolah/madrasah diatur berdasarkan Peraturan Bersama Mendiknas dan Menag Nomor 04/vi/pb/2011 dan Nomor ma/111/2011 tanggal 17 Juni 2011.

Pengertian

Pendaftaran peserta didik baru adalah proses seleksi administrasi untuk mendaftar menjadi calon peserta didik pada TK/RA/BA dan sekolah/madrasah.

Penerimaan peserta didik baru adalah penerimaan peserta didik pada TK/RA/BA dan sekolah/madrasah yang dilaksanakan pada awal tahun ajaran baru.

Tujuan

Penerimaan peserta didik baru pada TK/RA/BA dan sekolah/madrasah bertujuan memberi kesempatan yang seluas-luasnya bagi warga negara usia sekolah agar memperoleh layanan pendidikan yang sebaik-baiknya.

Syarat

Persyaratan calon peserta didik baru pada TK/RA/BA adalah:

  • berusia 4 sampai dengan 5 tahun untuk kelompok A; dan
  • berusia 5 sampai dengan 6 tahun untuk kelompok B.

Persyaratan calon peserta didik baru kelas 1 (satu) pada SD/MI:

  • telah berusia 7 (tujuh) tahun sampai dengan 12 (dua belas) tahun wajib diterima;
  • paling rendah berusia 6 (enam) tahun; dan
  • yang berusia kurang dari 6 (enam) tahun, dapat dipertimbangkan atas rekomendasi tertulis dari psikolog professional.

Persyaratan calon peserta didik baru kelas 1 (satu) pada SDLB yaitu anak yang berusia paling rendah 6 (enam) tahun.

Penerimaan

  1. Seleksi calon peserta didik baru kelas 1 (satu) SD/MI/SDLB dilakukan berdasarkan usia dan kriteria lain yang ditentukan oleh sekolah/madrasah dengan pertimbangan komite sekolah/madrasah.
  2. Seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berupa seleksi akademis serta tidak dipersyaratkan telah mengikuti TK/RA/BA
  3. Dalam upaya peningkatan akses pelayanan pendidikan, jumlah peserta didik baru yang dapat diterima diatur sebagai berikut:

a. jumlah peserta didik pada TK/RA/BA dalam satu rombongan belajar/kelas paling banyak 25 (dua puluhlima) orang;

b. jumlah peserta didik pada SD/MI dalam satu rombongan belajar/kelas paling banyak 40 (empat puluh) orang;

c. jumlah peserta didik pada SDLB dalam satu rombongan belajar/kelas paling banyak 8 (delapan) orang;

Ketentuan selengkapnya dapat dibaca pada peraturan bersama Mendiknas dan Menag dengan mengunduh file pada tautan berikut ini.

Peraturan Bersama Mendiknas dan Menag  Nomor 04/vi/pb/2011 dan Nomor ma/111/2011

Simbiosis Mutualisme, Komensalisme, Parasitisme


Makhluk hidup membutuhkan hubungan dengan makhluk hidup yang lain. Beberapa makhluk hidup mengalami hubungan khusus yang disebut simbiosis. Simbiosis dapat dibedakan menjadi simbiosis mutualisme, komensalisme, dan parasitisme. Berikut pengertian ketiga simbiosis dan contohnya.

Simbiosis mutualisme ialah hubungan dua makhluk hidup yang saling menguntungkan.

  • kupu-kupu dengan bunga
  • kerbau dengan burung jalak
  • lebah dengan bunga

Simbiosis komensalisme ialah hubungan dua makhluk hidup yang menguntungkan salah satu pihak sedang pihak yang lain tidak dirugikan.

  • ikan remora dengan hiu
  • tanaman anggrek dengan pohon jeruk
  • tanaman paku dengan pohon yang ditumpanginya
  • anggrek dengan pohon mangga
  • kutu pada rambut manusia
  • ikan badut dengan anemon laut

Simbiosis parasitisme ialah hubungan dua makhluk yang salah satu diuntungkan dan pihak yang lain dirugikan.

Berdasarkan tempat hidupnya, parasit dibedakan menjadi dua:

  • Parasit yang hidup di luar tubuh inangnya (ektoparasit). Contoh:  kutu rambut pada kepala manusia
  • Parasit yang hidup di dalam inang (endoparasit). Contoh ektoparasit antara lain. Contoh: cacing pita yang hidup dan berkembang biak di usus manusia

Contoh lain simbiosis parasitisme:

  • benalu dengan tumbuhan inang
  • tali putri dengan tanaman yang ditumpanginya
  • kerbau dengan kutu
  • bunga arnoldi raflesia dengan kan tumbuhan yang ditumpangi
  • cacing perut dan cacing tambang yang hidup di dalam usus manusia

Karakteristik Anak Autis


Autisme adalah suatu kondisi yang mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Hal ini mengakibatkan anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitif, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Menurut Powers (1989) karakteristik anak autistik adalah adanya enam (6) gejala/gangguan, yaitu dalam bidang:

1. Interaksi sosial:

a. Tidak tertarik untuk bermain bersama teman atau lebih suka menyendiri

b. Tidak ada atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk bertatapan

c. Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan, misalnya bila ingin meminta minum

2. Komunikasi (bicara, bahasa dan komunikasi):

a. Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada.

b. Senang meniru atau membeo (echolalia); Bila senang meniru, dapat hafal betul kata-kata atau nyanyian tersebut tanpa mengerti artinya

c. Anak tampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah berbicara tapi sirna

d. Kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya

e. Mengoceh tanpa arti berulang-ulang, dengan bahasa yang tak dapat dimengerti orang lain; Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi

f. Sebagian dari anak ini tidak berbicara (non verbal) atau sedikit berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa

3. Pola bermain:

a. Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya

b. Senang akan benda-benda yang berputar, seperti kipas angin, gasing

c. Tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya di putar-putar; tidak kreatif, tidak imajinatif

d. Dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana.

4. Gangguan sensoris:

a. Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga

b. Sering menggunakan indera pencium dan perasanya, seperti senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda

c. Dapat sangat sensistif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk

d. Tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut.

5. Perkembangan terlambat atau tidak normal:

a. Perkembangan tidak sesuai seperti pada anak normal, khususnya dalam ketrampilan sosial, komunikasi dan kognisi.

b. Dapat mempunyai perkembangan yang normal pada awalnya, kemudian menurun atau bahkan sirna, misalnya pernah dapat bicara kemudian hilang.

6. Penampakan gejala:

a. Gejala diatas dapat mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil. Biasanya sebelum usia 3 tahun gejala sudah ada

b. Pada beberapa anak sekitar umur 5 – 6 tahun gejala tampak agak berkurang.

Gejala lain yang juga sering tampak pada anak autistik adalah dalam bidang perilaku antara lain memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-goyang, mengepakkan tangan seperti burung, berputar-putar mendekatkan mata ke pesawat TV, lari/berjalan bolak balik, melakukan gerakan yang diulang-ulang, tidak suka pada perubahan, dan dapat pula duduk bengong dengan tatapan mata yang kosong. Gejala dalam bidang emosi yaitu sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan, mengamuk tidak terkendali (temper tantrum) jika dilarang atau diberikan keinginannya; bahkan kadang suka menyerang dan merusak. Kadang-kadang anak berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri dan tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain. Tidak semua gejala di atas ada pada anak autistik. Gejala dapat beraneka ragam sehingga tampak bahwa tidak ada anak autistik yang benar-benar sama dalam semua tingkah lakunya. Sedangkan perbandingan laki laki : perempuan adalah sekitar 4 : 1 dan terdapat pada semua lapisan masyarakat, etnik/ras, religi, tingkat sosio-ekonomi serta geografi (Holmes, 1998).

Untuk menambah wawasan atau pengetahuan bagi guru sekolah umum dalam menyusun bahan ajar bagi peserta didik autistik, Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas menyusun model bahan ajar. Tahapan penyusunan model bahan ajar untuk peserta didik autistik di SD umum (SD yang menyelenggarakan pendidikan inklusif untuk peserta didik autistik) sebagai berikut :

1. Pembuatan profil peserta didik autistik

  • Identitas /data peserta didik: 1) Riwayat keluarga 2) Riwayat kesehatan 3) Riwayat pendidikan
  • Gambaran kemampuan peserta didik: 1) Kemampuaan mengikuti tugas 2) Kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif 3) Kemampuan motorik kasar dan halus 4) Kemampuan sosialisasi (interaksi sosial) 5) Kemampuan bina diri 6) Kondisi emosi dan perilaku
  • Karakteristik peserta didik autistic: 1) Kekuatan (strengths) 2) Kelemahan (weaknesses) 3) Perilaku (positif dan negatif) 4) Kebutuhan 5) Langkah-langkah bantuan 6) Catatan penting lainnya.

2. Penyusunan silabus, SK-KD, dan Indikator (PPI)

3. Penyusunan jaringan tema (tematik)

4. Pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)/Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Individual (RPPI)

5. Penyusunan bahan ajar untuk peserta didik autistik yang bersangkutan (Sesuai PPI).

Adapun komponen kelengkapan model bahan ajar untuk anak Autis di SD ini adalah:

  1. Profil Anak
  2. Jaringan tema
  3. Silabus
  4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)/Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Individual (RPPI)
  5. Model bahan ajar

    Unduh buku panduan terbitan Pusat Kurikulum Kemendiknas

    Model-Bahan-Ajar-Anak-Autis-di-SD.pdf


TK-SD Satu Atap


PENGERTIAN

TK-SD Satu Atap adalah penyelenggaraan Taman Kanak-kanak yang berada dalam satu kesatuan dengan SD, baik secara terpadu maupun terpisah, baik dalam satu lokasi maupun beda lokasi.

TUJUAN

Tujuan penyelenggaraan  TK-SD Satu Atap adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan pemerataan dan perluasan akses untuk memperoleh layanan pendidikan TK.

2. Mendekatkan pola pembelajaran pendidikan di TK dan SD kelas awal sebagai inovasi pembelajaran dalam pendidikan.

3. Memfasilitasi proses masa transisi dari TK ke SD kelas awal.

PRINSIP-PRINSIP PENYELENGGARAAN

Prinsip-prinsip penyelenggaraan TK-SD Satu Atap adalah sebagai berikut:

1.  Pemerataan dan perluasan akses.  Penyelenggaraan pendidikan TK-SD Satu Atap diarahkan untuk menampung anak usia TK di wilayah yang belum terjangkau oleh pendidikan TK.

2.  Transisional. Penyelenggaraan pendidikan TK-SD Satu  Atap diarahkan untuk menfasilitasi transisi dan mendekatkan pola pembelajaran anak dari  TK ke SD kelas awal.

3.  Pemberdayaan masyarakat. Penyelenggaraan TK-SD Satu Atap dilakukan dengan memberdayakan semua potensi anggota masyarakat. Melalui pemberdayaan ini, diharapkan masyarakat dapat memberikan perhatian, pembinaan, dan kerjasama yang baik untuk kelangsungan penyelenggaraan TK-SD Satu Atap.

4.  Kerjasama dengan pihak terkait (stakeholders). TK-SD Satu Atap diselenggarakan melalui kerjasama, baik dengan instansi/ lembaga terkait, masyarakat, maupun perorangan.

5.  Sistem pembinaan. Program pendidikan TK-SD Satu Atap dilakukan secara berjenjang oleh Pengawas TK/SD, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Propinsi, dalam upaya meningkatkan mutu pendidikannya.

6.  Keberlanjutan  (sustainability). Program dan penyelenggaraan  TK-SD Satu Atap perlu diselenggarakan secara berkelanjutan melalui dukungan moral, finansial, teknis-edukatif, dan administratif baik dari pemerintah maupun masyarakat setempat.

LATAR BELAKANG

Taman Kanak-kanak (TK) merupakan bentuk pendidikan anak usia dini jalur formal yang menyelenggarakan pendidikan  bagi anak usia empat tahun sampai masuk pendidikan dasar, (Undang-undang  RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 28). Pendidikan TK diselenggarakan dalam upaya membantu meletakkan dasar perkembangan semua aspek tumbuh kembang bagi anak usia sebelum memasuki sekolah dasar.

Pendidikan TK merupakan tahapan pendidikan yang penting untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan anak sesuai dengan tahap perkembangannya (developmental task) dan menyiapkan anak usia TK untuk siap memasuki sekolah.

Usia TK merupakan  ”usia emas” (golden age) untuk menerima rangsangan yang hanya datang sekali dan  tidak dapat diulang sekaligus fase yang sangat menentukan untuk pengembangan kualitas manusia selanjutnya. Bagi anak yang memperoleh pendidikan TK akan dapat mempersiapkan diri memasuki sekolah dasar dengan lebih baik.

Berdasarkan data Pusat Statistik Pendidikan (PSP), Balitbang, Depdiknas Tahun 2008 menunjukkan bahwa layanan pendidikan TK masih sangat terbatas. Lembaga TK di Indonesia yang berjumlah 54.742 TK,  hanya sebesar 708 TK (1,3%) yang merupakan TK Negeri Pembina sebagai  TK percontohan, sedangkan TK lain

yang berjumlah 54.034 (98,2%) adalah TK Swasta. Peningkatan akses layanan pendidikan TK pada  milestone tahun 2009 ditargetkan sebesar 45%, namun sampai saat ini kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa layanan pendidikan TK baru mencapai 23% dari anak usia 5-6 tahun sebesar 7.861.400 anak. Kenyataan di lapangan berdasarkan data PSP Balitbang Depdiknas tahun 2006, menunjukkan bahwa jumlah siswa baru SD kelas I sebesar 4.440.896 siswa, dengan

rincian siswa baru yang berasal dari TK sebesar 1.819.345 siswa (40.97%) dan siswa baru yang tidak berasal dari TK, sebesar 2.621.551 siswa (59,03%). Hasil penelitian Direktorat Pendidikan Dasar, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas tahun 2000, menunjukkan bahwa Pendidikan TK memilikikontribusi terhadap kesiapan belajar siswa SD kelas 1. Kontribusi ini terjadi pada semua aspek kesiapan belajar, termasuk  bahasa, kecerdasan, sosial, motorik, moral, perasaan, daya cipta, dan kedisiplinan.

Program Wajar Dikdas sembilan tahun yang dicanangkan pemerintah sejak tahun 1984, sesuai dengan Inpres No 1 Tahun 1984 tentang Pelaksanaan Wajar Dikdas, masih menghadapi permasalahan-permasalahan yang mengakibatkan penuntasan Wajar Dikdas sembilan tahun diharapkan tuntas tahun 2008. Hal ini dapat dilihat pada angka mengulang kelas di SD/MI, dari data PSP Balitbang Depdiknas pada tahun 2004, sebesar 841.662 siswa, dengan rincian untuk kelas I sebesar 292.462 siswa (34%), kelas II sebesar 165.888 siswa (20), kelas III sebesar 131.159 siswa (16%), kelas IV sebesar 94.829 siswa (16%), kelas V sebesar 56.776 siswa (7%), dan kelas VI sebesar 8.424 siswa (15) serta MI sebesar 92.124 siswa (11%). Dari data tersebut menunjukkan bahwa angka mengulang kelas di SD/MI masih cukup tinggi terutama untuk kelas I, II, dan III. Dengan melihat kenyataan di atas maka upaya pengurangan angka mengulang kelas perlu mendapat perhatian serius dalam penyusunan program pembangunan pendidikan di Sekolah Dasar.

Di samping itu terjadi miskonsepsi pada transisi pendidikan TK dan SD kelas awal yang harus segera dicarikan solusinya. Beberapa kasus sering dijumpai pada siswa SD kelas awal. Di TK, anak terbiasa dengan kebebasan dalam bermain dan bersosialisasi dengan teman. Setelah  masuk SD kelas awal, anak langsung dihadapkan pada aktivitas akademik dan masa peralihan dari penggunaan

bahasa ibu ke bahasa nasional. Bila pada SD kelas awal diterapkan disiplin yang kaku, tentunya akan menimbulkan rasa takut pada anak sehingga anak menjadi takut (phobia) bersekolah.

Fenomena lain yang terjadi di masyarakat menunjukkan bahwa anak-anak yang masuk SD harus mempunyai kemampuan yang memadai. Fenomena  ini menyebabkan beberapa SD menetapkan syarat bagi calon siswa kelas 1 harus menguasai baca, tulis dan hitung. Tuntutan persyaratan ini menciptakan pola pembelajaran di TK menekankan programnya untuk mengajar anak berkemampuan membaca, menulis dan berhitung, yang diselenggarakan seperti di SD dengan mengabaikan prinsip-prinsip pembelajaran di TK. Bahkan  banyak TK yang melaksanakan les baca, tulis dan hitung untuk memper-siapkan anak masuk SD. Selain tuntutan tersebut, orangtua juga ingin agar anaknya cepat pintar. Fenomena ini tentunya secara psikologis bertentangan dengan prinsip-prinsip perkembangan anak.

Berdasarkan permasalahan dan pemikiran tersebut di atas, dalam rangka meningkatkan layanan pemerataan akses dan keadilan untuk memperoleh pendidikan TK, serta permasalahan transisi pendidikan dari TK ke SD kelas awal, perlu diupayakan alternatif inovasi kelembagaan dengan mendekatkan pola penyelenggaraan pendidikan TK dan SD. Hal ini dilakukan melalui penyelenggaraan TK-SD Satu Atap, baik  dari segi pendekatan, kurikulum, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana,  pembiayaan, pengelolaan, pengembangan program.

DASAR

Dasar penyelenggaraan TK-SD Satu Atap adalah:

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

2. Peraturan Pemerintah Republik  Indonesia Nomor 19  Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.

3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah.

4. Rencana Strategis (Renstra) Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009.

5. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 60 Tahun 2002 tentang Pedoman Pendirian Sekolah

6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 14 Tahun 2005 tanggal 3 Agustus 2005 tentang Organisasi dan  Tata Kerja Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar  Menengah.

Sumber: Buku Penyelenggaraan TK dan SD Satu Atap
Direktorat Pembinaan TK dan SD, Ditjen MPDM, Depdiknas

%d blogger menyukai ini: