Gratis, Buku Husein Mutahar dalam Pengabdian dan Karyanya


Sejarah H MutaharH. Mutahar adalah penyelamat Bendera Pusaka, pendiri Paskibraka, pencipta lagu Syukur dan Himne Satya Darma Pramuka.

H. Mutahar tokoh Pandu Rakyat Indonesia dan berjasa dalam penyatuan pandu menjadi Gerakan Pramuka. Ia pernah menjabat Menteri dan Duta Besar. H. Mutahar dalah seorang Mayor TNI AD, komponis, menguasai 8 bahasa asing.

Buku berikut dilengkapi dengan lagu-lagu monomental karyanya, diterbitkan Direktorat Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, November 2019.

Untuk mengunduh buku PDF silakan klik di sini.

Sejarah H. Mutahar


Husein Mutahar atau dikenal dengan H. Mutahar pencipta adalah lagu Syukur, Himne Satya Darma Pramuka, dan lagu nasional lainnya. Beliau lahir pada 5 Agustus 1916, di Semarang dan meninggal di Jakarta9 Juni 2004 (pada umur 87 tahun) di makamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta.

Ia memperdalam pendidikan setahun di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada periode 1946-1947. setelah tamat dari MULO B (1934) dan AMS A-I (1938).

Pada 1945, Mutahar bekerja sebagai Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI di Jogjakarta, kemudian menjadi pegawai tinggi Sekretariat Negara di Jogjakarta (1947). Selanjutnya, ia mendapat jabatan-jabatan yang meloncat-loncat antardepartemen. Puncak kariernya barangkali adalah sebagai Duta Besar RI di Tahta Suci (Vatikan) (1969-1973).[4] . Jabatan terakhirnya adalah sebagai Pejabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri (1974).

Husein Mutahar memiliki kecakapan dalam berbahasa dan menguasai 8 bahasa selain Bahasa Indonesia yaitu bahasa Jawa, Melayu, Arab, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, dan Spanyol.

H. Mutahar adalah salah seorang tokoh utama Pandu Rakyat Indonesia, gerakan kepanduan independen yang berhaluan nasionalis. Ia juga dikenal anti-komunis. Ketika seluruh gerakan kepanduan dilebur menjadi Gerakan Pramuka, Mutahar juga menjadi tokoh di dalamnya. Namanya juga terkait dalam mendirikan dan membina Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), tim yang beranggotakan pelajar dari berbagai penjuru Indonesia yang bertugas mengibarkan Bendera Pusaka dalam upacara peringatan Hari KemerdekaanRI.

Sebagai salah seorang ajudan Presiden, Mutahar diberi tugas menyusun upacara pengibaran bendera ketika Republik Indonesia merayakan hari ulang tahun pertama kemerdekaan, 17 Agustus 1946. Menurut pemikirannya, pengibaran bendera sebaiknya dilakukan para pemuda yang mewakili daerah-daerah Indonesia. Ia lalu memilih lima pemuda yang berdomisili di Yogyakarta (tiga laki-laki dan dua perempuan) sebagai wakil daerah mereka.

Pada tahun 1967, sebagai Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Mutahar diminta Presiden Soeharto untuk menyusun tata cara pengibaran Bendera Pusaka. Tata cara pengibaran Bendera Pusaka disusunnya untuk dikibarkan oleh satu pasukan yang dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok 17 sebagai pengiring atau pemandu; kelompok 8 sebagai kelompok inti pembawa bendera; kelompok 45 sebagai pengawal. Pembagian menjadi tiga kelompok tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pegetahuan lebih luas tentang perjuangan dan pengabdian terhadap bangsa, kemerdekaan, dan kepanduan atau Gerakan Pramuka dapat dibaca pada buku gratis berikut.

Buku Gratis

Buku gratis yang dimaksud ini adalah terbitan Direktorat Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mengisahkan biografi H. Mutahar  termasuk jasa pengabdian bagi bangsa dan karyanya yang monomental.

Buku dengan judul Husein Mutahar, Pengabdian dan Karyanya, diterbitkan pada November 2019, berisi perjalanan hidup H. Mutahar yang berjasa besar bagi perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, antara laian:  kisah sebagai Pandu Sejati, jejak langkah, penyelamat Bendera Pusaka (hlm. 8),  Bapak Pengerek Bendera Pusaka,  Husein Mutahar dan Sukarno, Husein Mutahar dan Suharto, pengabdian dari Kepanduan hingga Pramuka, dan kisah akhir Hayat Sang Maestro.

Dokumen untuk Diunduh:

Link 1 : Buku Husein Mutahar, Pengabdian dan Karyanya. 

Link 2 (alternatif) : Buku Husein Mutahar, Pengabdian dan Karyanya

Presidien Jokowi Bintang APEC 2014


Pidato Presiden Joko Widodo di KTT APEC 2014 mendapatkan aplaus, jadi rebutan foto selfie, mendapatkan tempat terhormat sesi foto pemimpin APEC, dan mencatat rekor baru di forum APEC dengan mengalahkan Presiden AS Obama dan SBY.

Nama Joko Widodo mendunia. Fenomena dari seorang pengusaha mebel, wali kota, gubernur hingga menjadi presiden sudah cukup membuat mata dunia terbuka. Kini, Presiden Republik Indonesia itu kembali menjadi buah bibir internasional usai melakoni debut ke luar negeri, dalam ajang Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) CEO Summit, di Beijing, 10-11 November.

Di ajang APEC ini, Jokowi sudah mencatakan rekor baru. Torehannya sudah mengalahkan apa yang dicatatkan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, dan juga Presiden RI sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono. Apa rekornya?

Video presentasi Jokowi yang berjudul: Joko Widodo, President of Indonesia, at the APEC CEO Summit, menjadi yang paling populer alias paling banyak dikunjungi. Video berdurasi 13.31 menit itu diunggah oleh apecsec, sebuah saluran resmi APEC di Youtube.

Sejak diunggah Minggu (10/11) hingga Rabu (12/11) pagi ini, video Jokowi ini sudah menembus angka 265.695 penonton. Ini merupakan angka fantastis, dibanding 139 video yang selama lima tahun belakangan ini resmi diunggah apecsec.

Di urutan kedua, muncul video berjudul, APEC: Imagine the Possibilities. Video yang diunggah 2 tahun yang lalu ini hanya disaksikan 15.113 penonton.

Sedangkan di urutan ketiga, video Obama yang berjudul Barack Obama, President of the United States, at the APEC CEO Summit, ditonton sebanyak 3.979 kali.

Sementara pidato SBY di forum APEC yang berjudul: Indonesia President Susilo Bambang Yudhoyono remarks at APEC CEO Summit 2011, ditonton sebanyak 2.263 kali. (Lihat Video Populer apecsec Di Sini). Sumber: www.jpnn.com

Pidato Bung Karno Berkaitan 1 Oktober 1965


Tanggal 1 Oktober bagi bangsa Indonesia merupakan hari bersejarah yang teramat historis berkaitan dengan peristiwa G 30 s/PKI yang ingin mengganti Pancasila sebagai Dasar Negara dengan dasar komunis. Oleh karena kegagalan upaya itu maka Pancasila tetap kukuh sebagai dasar negara.

Keberhasilan para tokoh mempertahankan Pancasila itulah yang pada akhirnya dijadikan bagian dari tonggak sejarah perjuangan bangsa dengan ditetapkannya tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Untuk memahami rekam sejarah berkaitan dengan peristiwa itu, berikut pidato Soekarno yang saya akses dari situs Kepustakaan Presiden RI http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/.

AMANAT P.J.M. PRESIDEN/ PANGLIMA TERTINGGI ABRI PEMIMPIN BESAR REVOLUSI BUNG KARNO JANG DIUTJAPKAN MELALUI RRI PADA TGL.3 OKTOBER 1965 DJAM 01.30.

Saudara-Saudara sekalian.

Mengulangi perintah saja sebagai Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata/Pemimpin Besar Revolusi jang telah diumumkan pada tanggal 1 Oktober ’65, dan untuk menghilangkan semua keragu-raguan dalam kalangan rakjat, maka dengan ini saja sekali lagi menyatakan bahwa saja berada dalam keadaan sehat wal’afiat dan tetap memegang tampuk pimpinan Negara dan tampuk pimpinan Pemerintahan dan Revolusi Indonesia.

Pada hari ini tanggal 2 Oktober ’65 saja telah memanggil semua Panglima Angkatan Bersendjata bersama wakil Perdana Menteri kedua Dr. Leimena dan para pejabat penting lainnya dengan maksud untuk segera menyelesaikan persoalan apa yang disebut peristiwa 30 September.

Untuk dapat menyelesaikan persoalan ini saja telah perintahkan supaja segera ditjiptakan satu suasana yang tenang dan tertib, dan untuk itu perlu dihindarkan segala kemungkinan bentrokan dengan sendjata.

Dalam tingkatan perdjoangan Bangsa lndonesia sekarang ini, saja perintahkan kepada seluruh rakyat untuk tetap mempertinggi kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam rangka meningkatkan pelaksanaan Dwikora.

Kepada seluruh Rakjat lndonesia saja serukan untuk tinggal tetap tenang dan kepada semua menteri dan petugas- petugas negara lainnja untuk tetap mendjalankan tugasnya masing-masing seperti sediakala.

Pimpinan Angkatan Darat pada dewasa ini berada langsung dalam tangan saja dan untuk menyelesaikan tugas sehari-hari dalam Angkatan Darat sementara saja tundjuk Maj. Djen. Pranoto Reksosamodra, Ass keIII Men/ PANGAD. Untuk melaksanakan pemulihan keamanan dan ketertiban jang bersangkutan dengan peristiwa 30 September tersebut telah saja tundjuk Maj.Djen. Suharto, Panglima Kostrad sesuai dengan kebidjaksanaan jang telah saja gariskan.

Saudara-saudara sekalian.

Marilah kita tetap membina semangat persatuan dan kesatuan Bangsa; marilah kita tetap menggelorakan semangat anti nekolim.

Tuhan bersama dengan kita semua.

Sumber dari buku : Memoar Mayor Jendral Raden Pranoto Reksosamodra. BAGIAN KE EMPATBELAS Halaman 239 sampai dengan 240, ip Penerbit Syarikat Indonesia. ISBN 979-96819-3-6.

Sumber: http://www.progind.net/modules/wfsection/article.php?articleid=151

Koleksi: Perpustakaan Nasional RI, 2006

Profil Jaksa Agung Hendarman Supandji


Jaksa Agung Hendarman Supandji kelahiran Klaten Jawa Tengah, 6 Januari 1947 adalah jaksa karir yang mengawali karirnya di Kejaksaan RI sejak tahun 1979. Alumni Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, serta Notariat Universitas Indonesia ini mengawali karirnya dengan menjadi jaksa di Kejaksaan Negeri Pusat. Selang tiga tahun kemudian, Hendarman Supandji dilantik menjadi Staf Pusat Operasi Intelijen Kejaksaan Agung. Ini adalah tugas pertama yang mendekatkannya dengan dunia intelijen dan ia diperbantukan di Badan Koordinasi Instruksi Presiden untuk masalah narkotika dan di Botasupal Bakin hingga tahun 1985. Setelah itu, Hendarman Supandji menjabat sebagai Kepala Seksi Penanggulangan Tindak Pidana Umum Intelijen Kejaksaan Agung pada periode 1985-1990.

Tak sampai setahun, Hendarman Supandji lalu ditugaskan sebagai Atase Kejaksaan di KBRI Bangkok pada periode 1990-1995. Setelah lima tahun di negeri candu itu, Hendarman Supandji  pulang untuk menjabat sebagai Kepala Pusdiklat Kejaksaan Agung pada 1995-1996. Setelah sempat menjadi  Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara di Kejaksaan Tinggi Sumeatera Selatan  pada 1996-1997, Hendarman Supandji lantas menjadi Staf Khusus Jaksa Agung pada tahun 1998. Pada tahun yang sama, ia juga diangkat untuk menduduki Kepala Biro Keuangan Kejaksaan Agung hingga tahun 2002.

Karirnya bersinar saat ia dipilih menjadi Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) pada masa kepemimpinan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh. Suami dari Dr. Sri Kusumo Amdani, DSA, MSc. ini, mengaku, sempat kaget dan was-was. Pasalnya, selama di kejaksaan ia lebih banyak berkecimpung di bagian intelijen dan pembinaan yang lebih cenderung berada di wilayah sumber daya manusia kejaksaan. Sementara, di bidang pidana khusus, ia harus memeriksa orang luar, bagian yang sejak  awal ingin djauhinya. Jika bukan mantan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh yang meminta, besar kemungkinan akan ditampiknya jabatan tersebut. Namun, mantan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh  tetap bersikukuh untuk mengangkat Hendarman Supandji menjadi JAM Pidsus. “Karena itu perintah pimpinan, saya mensyukuri saja apa yang menjadi kehendak pimpinan. Mungkin pimpinan lebih tahu, saya mungkin cocok di tempat itu,” ujarnya, dalam suatu wawancara dengan sebuah harian nasional.

Pilihan Abdul Rahman Saleh tepat. Hendarman Supandji segera memperlihatkan kualitasnya sebagai seorang JAM Pidsus. “Ikan kakap” seperti Neloe, Wakil Direktur Utama Bank Mandiri I Wayan Pugeg, dan Corporate Banking Director M. Sholeh Tasripan, harus meringkuk di ruang tahanan Kejaksaan Agung. Prestasi itu membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempercayakan Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Timtas Tipikor) ke tangan Hendarman Supandji. Presiden lalu membentuk lembaga ini untuk mengintensifkan upaya  pemberantasan korupsi untuk selanjutnya  langsung dilaporkan kepadanya, dengan tembusan kepada Jaksa Agung, Polri dan BPKP. Saat pelantikan, Presiden langsung memerintahkan Timtas Tipikor untuk langsung mengambil langkah hukum kepada 16 BUMN, empat departemen, tiga pihak swasta dan 12 koruptor yang melarikan diri ke luar negeri.

Atas permintaan ini, Hendarman Supandji langsung mengungkapkan rencananya kepada Presiden tentang “pembersihan” dari dalam lingkungan istana, seperti di lingkungan Sekretariat Kabinet dan Sekretariat Negara. Untuk memastikan kesungguhan Presiden dalam memberantas korupsi, Jaksa Agung Hendarman Supandji sempat bertanya kepada Presiden,“Seandainya dalam menjalankan tugas saya menemukan keterlibatan teman Bapak Presiden, sahabat Bapak, atau pembantu Bapak, apa yang akan Bapak Presiden lakukan?” tanya Hendarman Supandji tanpa basa-basi. “Silakan jalan terus. Saya tidak akan pernah intervensi,” jawab Presiden singkat. Kalimat itulah yang terus dipegang  oleh Hendarman Supandji dalam menjalankan tugasnya.
________________________________________________________________________________________

CURRICULUM VITAE

Nama                                : HENDARMAN SUPANDJI, SH.
Tempat, Tanggal Lahir  : Klaten, 6 Januari 1947

Pendidikan
•    Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, 1972
•    Pendidikan dan Pembentukan Jaksa (PPJ)
•    Notariat Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Karier

  • Jaksa pada Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat, 1979 -1981
  • Staf Pusat Operasi Intelijen Kejaksaan Agung, 1982-1983
  • Diperbantukan pada Badan Koordinasi Instruksi Presiden untuk masalah narkotika
  • Diperbantukan di Botasupal Bakin, 1984-1985.
  • Kepala Seksi Penanggulangan Tindak Pidana Umum intelijen Kejaksaan Agung, 1985-1990
  • Atase Kejaksaan di KBRI Bangkok, 1990-1995
  • Kepala Pusdiklat Kejaksaan Agung, 1995-1996
  • Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara di Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, 1996-1997
  • Staf khusus Jaksa Agung, 1998
  • Kepala Biro Keuangan Kejaksaan Agung, 1998-2002
  • Kepala Kejaksaan Tinggi DI. Yogyakarta
  • Sekretaris Jaksa Agung Muda Pengawasan
  • Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus 25 April, 2005 – 2007
  • Ketua Timtas Tipikor 2005 – 2007
  • Jaksa Agung Republik Indonesia Mei 2007 s/d sekarang.

Sumber: http://www.kejaksaan.go.id/

Alhamdulillah, Maradona Tidak Jadi Bugil


Diego Armando Maradona, pelatih tim Argentina berjanji akan lari dalam keadaan bugil bila tim Argentina berhasil sebagai Juara Piala Dunia 2010. Namun, langkah tim Tango itu dihentikan oleh tim Panser dengan sekor telak 4-0.

Nah, Maradona jadi pusing. Langkah Argentina hanya sampai pada perempat final. Atau, pusing karena tidak jadi “lari bugil’? Ada-ada saja! Janji untuk motivasi dan pesta keberhasilan sah-sah saja, tapi kalau keberhasilan dibalas dengan “lari bugil”, apa kata dunia?

Riwayat Bung Karno Beserta Keluarga


Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika..

Dokumen yang siap diunduh ini memuat riwayat Soekarno (Presiden I RI) beserta 15 keluarga sebagai berikut:

  1. Soekarno
  2. R. Soekeni Sosrodihardjo (Ayah)
  3. Ida Ayu Nyoman Rai  (Ibu)
  4. Raden Soekarmini (Kakak)
  5. Fatmawati (Istri)
  6. Hartini Soekarno  (Istri)
  7. Inggit Garnasih (Istri)
  8. Ratna Sari Dewi Soekarno (Istri)
  9. Siti Oetari (Istri)
  10. Sukmawati Sukarnoputri (Anak)
  11. Diah Pramana Rachmawati Soekarno (Anak)
  12. Mohammad Guruh Irianto (Anak)
  13. Karina Kartika Sari Dewi Soekarno (Anak)
  14. Megawati Sukarno Putri (Anak)
  15. Lettu (Penerbang) Surindro (Suami Ke-1 Megawati)
  16. Taufiq Kiemas (Suami Ke-2 Megawati)

Dokumen

Download Teks Pidato Bung Karno tanggal 17-8-1945

Kumpulan Artikel tentang Kebesaran Gus Dur


Perjuangan dan pengabdian Gus Dur bagi bangsa dan kemanusian masih menjadi topik penting bagi para tokoh.  Tokoh dunia dan nasional, tokoh NU/orang dekat beliau, bahkan tokoh yang pernah berbeda pendapat, Amin Rais (Muhammadiyah)  mengakui akan “kebesaran” Gus Dur.

Untuk menambah referensi dan memahami pengabdian hidup Gus Dur, berikut kumpulan artikel dan berita yang mengurai kegigihan perjuangan beliau sang Guru Bangsa, Bapak Pluralisme, Pahlawan Nasional, Tokoh Ulama, Pendiri PKB, . . .

Dokumen yang siap diunduh berisi artikel dengan judul sebagi berikut:

  • Mengenang Gus Dur
  • Gus Dur dan Islam
  • Yahya C. Staquf: (Bukan) Wasiat Gus Dur
  • Memulihkan Nama Gus Dur-Bung Karno
  • Bandul Pendulum Gus Dur Oleh Arif Afandi
  • Gus Dur Pahlawan untuk Semua Oleh: Ma’mun Murod
  • Pelajaran dari Gus Dur Oleh: Ahmad Tohari
  • Inayah: Gus Dur Ayah Terbaik
  • Esok, DPR Bahas Gelar Pahlawan Gus Dur
  • Sekjen OKI: Gus Dur Pendukung Kuat OKI
  • Dukungan Gus Dur Sebagai Pahlawan Terus Mengalir
  • PBB Beri Penghormatan untuk Gus Dur

Dokumen dilengkapi dengan sumber dan tanggal penulisan/terbit. Untuk membaca dokumen, silakan unduh file dengan klik teks berikut:

Download Kumpulan Artikel tentang Kebesaran Gus Dur

Detik-detik Menjelang Gus Dur Wafat


Ada kisah yang memberi petunjuk sebagai tanda-tanda bahwa Gus Dur akan dipanggil Allah SWT. Setidaknya, tercatat dalam enam hari Gus Dur meninggalkan kisah-kisah manusiawi sebagai hamba Allah SWT. 

24 Desember 2009 Gus Dur minta diantar berziarah ke Rembang, Jateng, dan Jombang, Jatim
08.00 Bertemu Gus Mus di Rembang
11.00 Meninggalkan Rembang menuju Jombang
  Di Jombang berziarah ke makam KH Wahab Chasbullah di Ponpes Tambak Beras, Jombang. Di sini Gus Drop lalu dibawa ke RSUD Swadana Jombang.

Semula Gus Dur dirujuk ke RSUD dr. Sutomo. Namun, ketika sampai sekitar Trowulan, Mojokerto, dia mendadak minta diantar baik lagi ke Jombang untuk berziarah ke makam ayahnya, Wahid Hasyim. Di kompleks Ponpes Tebuireng, Jombang.

25 Desember 2009 Batal di rawat di Surabaya, Gus Dur siterbangkan ke Jakarta. Kadar gulanya turun drastis, masuk RSCM untuk cuci darah.
26 Desember 2009 Gus Dur mengeluhkan gigi geraham kiri sakit.
27 Desember 2009 Gus Dur meninggalkan RSCM empat jam sejak pukul 10.30 untuk mengecek kantor PB NU.
28 Desember 2009 Gus Dur menjalani operasi pencabutan gigi geraham kiri bawah. Operasi berlangsung 35 menit dengan bius total. Hingga malam kondisi Gus Dur stabil dan sadar. Pernapasan dan sirkulasi darah pun dalam keadaan baik.
29 Desember 2009 Dalam pantauan tim dokter, Gus Dur bisa berkomunikasi seperti biasa.
30 Desember 2009  
11.00-11.30 Gus Dur minta dinacakan majalah yang memuat berita tentang PM Israel yang terancam hukuman mati. Putri bungsu, Inayah Wulandari, menyuapkan puding cokelat (masuk tiga suapan)
11.30-12.00 Melai mengeluh kesakitan di bagian paha ke bawah.
12.00-12.30 Dokter dipanggil dan melakukan analisis intensif.
13.30-15.00 Dipindahkan dari kamar 116 lantai 1 gedung A ke Pelayanan Jantung Terpadu (PJT) lantai 5. Keluarga diminta menunggu di luar.
15.00-17.00 Minta diambilkan audio book yang tertinggal di lantai 1, ingin menyelesaikan seri buku yang belum tuntas dibacanya.
17.00 Dokter Yusuf Misbach menyampaikan kepada keluarga bahwa kondisi Gus Dur benar-benar butuh penanganan khusus.
18.30-18.35 SBY bersama rombongan datang menjenguk ke RSCM, langsung menemui isteri Gus Dur, Sinta Nuriyah.
18.35-18.45 SBY melakukan pertemuan dengan tim dokter yang menangani Gus Dur.
18.45

Kamis, 31 Desember 2009.

SBY masuk ruang. Oleh tim dokter, Gus Dur sudah dinyatakan wafat.

Pk. 13.30 di makamkan di komplek pemakaman keluarga di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, Jawa Timur.

Sumber: Jawa Pos, edisi31 Desember 2009

Biografi Gus Dur dan Keluarga


Innalillahi wainna ilaihi raajiuun . . . Gus Dur meninggalkan kita. Bukan hanya bangsa Indonesia yang merasa kehilangan melainkan dunia juga merasa kehilangan. Jasa Gus Dur terhadap bangsa Indonesia sangat banyak. Di antaranya, gigih memperjuangkan demokrasi, dan peduli terhadap umat manusia tanpa membeda-bedakan. Selamat jalan Gus, bersama rahmat Allah SWT.

Untuk mengenang kebesaran Gus Dur, berikut biografi Gus Dur, Ny. Sinta Nuriyah Wahid (istri), Sholichah (Ibu), dan Yenny Wahid (anak).

1. Gus Dur

Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur menjabat Presiden RI ke-4 mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001. Beliau lahir tanggal 4 Agustus 1940 di desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama, yang bernama KH. Wahid Hasyim. Sedangkan Ibunya bernama Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Dari perkawinannya dengan Sinta Nuriyah, mereka dikarunia empat orang anak, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari .

Sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu beliau juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku. Di samping membaca, beliau juga hobi bermain bola, catur dan musik. Bahkan Gus Dur, pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.

Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, beliau bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian beliau menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.

Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.

Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin. Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap `menyimpang`-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Beliau juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987.

Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-`aqdi yang diketuai K.H. As`ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Selama menjadi presiden, tidak sedikit pemikiran Gus Dur kontroversial. Seringkali pendapatnya berbeda dari pendapat banyak orang.

2. Ny. Sinta Nuriyah Wahid

Sinta Nuriyah Wahid Lahir di Jombang, 8 Maret 1948 mendapat gelar First Lady (Ibu Negara) ke-4
bersuamikan KH Abdurrahman Wahid. Menikah pada tanggal 11 September 1971, dikaruniai empat anak yaitu: Alissa Qotrunnada Munawaroh (Lissa), Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus (Nita), Inayah Wulandari (Ina).

Pendidikan terakhir Program S-2 Studi Kajian Wanita, Universitas Indonesia, Depok
Pekerjaan Pendiri dan Pimpinan Yayasan PUAN Amal Hayati, didirikan 3 Juli 2000 dan mulai beroperasi Maret 2001 dengan Penguasaan Bahasa:Inggris, Arab dan Perancis. Alamat:Jl. Warung Sila No. 10 Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan

Ibu Negara ke-4 ini sudah sangat terbiasa menghadapi perilaku suami yang kontroversial. Maka, ia pun tak terlalu merasa kaget ketika MPR RI tahun 1999 mengangkat suaminya, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden ke-4 RI. Ia juga tak perlu merasa kehilangan ketika oleh lembaga dan anggota yang sama, MPR di tahun 2001 menurunkan suaminya dari kursi kepresidenan.

Sebelum suaminya belum menjadi apa-apa, lalu menjabat Ketua Umum PBNU (1984-1999), menjadi Presiden, dan kembali menjadi anggota masyarakat biasa, tepatnya sebagai tokoh pejuang demokrasi, perdamaian dan multikulturalisme di sebuah negara yang justru sangat pluralistik, Sinta Nuriyah tetaplah sama. Ia tidak pernah berubah. Termasuk ketika suami yang sedang menjabat Presiden, itu diisukan melakukan perselingkuhan dengan seorang wanita Sinta Nuriyah Wahid tetap tegar sebagai istri yang percaya akan kebaikan suami.

Menolak poligami
Dra Sinta Nuriyah Wahid, M.Hum kelahiran Jombang 8 Maret 1948, itu tetap setia mendampingi Gus Dur yang penglihatannya semakin menurun sehingga harus dituntun oleh putrinya Yenny. Walau pendampingan itu sendiri harus ia lakukan dari kursi roda. Ia membutuhkan alat bantu itu setelah mengalami kecelakaan mobil pada tahun 1993, pada saat ia justru sedang memasuki semester kedua program studi S-2 Studi Kajian Wanita, di Universitas Indonesia, Depok. Keinginan kuat Sinta untuk memberikan yang terbaik bagi bangsanya tetap tidak berubah kendati sudah hidup di luar Istana. Ia memilih jalur pemberdayaan perempuan sebagai ikon perjuangan baru.

Maka itu ketika berlangsung Muktamar PBNU tahun 2004 ia dengan lantang menolak menu makanan yang disajikan oleh sebuah jaringan restoran waralaba, sebab pemiliknya dikenal luas sebagai penganut poligami. Sikap tegas Sinta itu segera menyadarkan pemikiran banyak orang tentang telah munculnya sebuah dobrakan baru, yang bermaksud mengubah persepsi lama pemikiran kaum lelaki mengenai perempuan. Ia memang tidak main-main dalam perjuangannya. Jauh sebelumnya, pada 3 Juli 2000 Sinta telah mendirikan sebuah lembaga Yayasan PUAN AMAL HAYATI. PUAN, yang diartikan Sinta sebagai “Pesantren Untuk Pemberdayaan Perempuan”.

Yayasan itu baru resmi beroperasi sejak Maret 2001. Ada alasan unik mengapa Sinta menundanya. Ia menghindari kemungkinan timbulnya persepsi buruk di masyarakat, sebab tidak mau dikatakan memanfaatkan kedudukan Ibu Negara untuk mendirikan Yayasan. Karena itu ada uang atau tidak Yayasan akan tetap jalan. Tetapi paling tidak pasti akan ada uang dari honor KH Abdurrahman Wahid, sang suami untuk membiayainya.

Sinta yang sudah dilamar oleh Gus Dur sebagai istri saat masih berumur 13 tahun, namun baru diwujudkan kemudian pada pernikahan 11 September 1971, itu memastikan tidak ada campur tangan lembaga dan orang-orang Kepresidenan ketika mendirikan Yayasan. Kecuali sumbangan nama “Amal” dari Alwi Shihab yang ketika itu menjabat Menteri Luar Negeri, yang lalu ditimpali oleh Presiden Gus Dur dengan nama “Hayati”. Sedangkan kata PUAN sudah disediakan Sinta sebagai ikon perjuangannya lewat Yayasan.

Kaji Ulang Kitab Kuning
Sinta bukan hanya lantang menyuarakan penolakan kehidupan poligami. Ia sekaligus menerobos dan memperbaiki persepsi para kiyai tentang perempuan, yang selama ini selalu saja menggunakan paradigma lama berpegang pada Kitab Kuning sebagai pedoman. Isi Kitab Kuning menurut Sinta sesungguhnya tidaklah sepenuhnya sesuai dengan isi al-Quran. Sinta mengatakan isi Kitab berisi relasi suami istri yang menggambarkan kedudukan istri sangat terpuruk. Di situ, disebutkan kedudukan seorang istri ibarat tawanan perang sang majikan (suami) di dalam rumah tangga.

Isi Kitab Kuning kata Sinta berbeda dengan ide kesetaraan gender. Karena itulah keseteraan gender tak akan bergaung di lingkungan pesantren sebab kiyai-kiyai masih tetap beranggapan lama sesuai dengan isi Kitab, dimana kedudukan istri digambarkan sebagai seorang budak di hadapan suami, atau seperti seorang yang menanggung hutang dengan suaminya. Kata Sinta, ada juga yang mengatakan seorang istri sekalipun menjilati nanah di muka suami, kalau suaminya itu tidak ridho maka tidak akan berarti apa-apa.

Hal itu membuat Sinta merasa ganjil, apakah memang benar Islam mengajarkan hal itu. Karena Sinta merasa itu tidak benar maka ia mengkaji ulang isi Kitab Kuning, dan ternyata hadits-hadits seperti itu adalah hadits-hadits palsu. Sinta harus mengkaji ulang Kitab Kuning setelah sebelumnya berhasil membuat tesis, berjudul “Perkawinan Usia Muda dan Kesehatan Reproduksi” dengan mengambil responden dari kalangan pesantren dan non pesantren.

Sinta menyarankan pihak-pihak yang berpendapat bahwa poligami boleh, itu sebaiknya mengkaji al-Qur’an lebih dalam, saksama, teliti, dan semua aspek mesti dikaji lagi. Sebab, menerjemahkan al-Qur’an tidak terbatas pada lingkup yang tekstual tapi juga kontekstual. Termasuk mencakup kajian asbâb al-nuzûl (sebab diturunkannya) dan melihat bahasanya.

Secara tekstual ayat poligami memang berbunyi, “fankihû mâ thâba lakum min al-nisâ’ matsnâ wa tsulâtsa wa rubâ’…”, (nikahilah dua atau tiga atau empat perempuan yang baik menurutmu). Ayat ini kata Sinta jangan dipotong sampai di situ saja, sebagaimana umumnya orang banyak memotong hanya hingga penggalan ayat tersebut. Sebab masih ada sambungan yang sering dilupakan yakni, “Fain khiftum allâ ta’dilû fawâhidah” (sekiranya kamu khawatir tidak dapat berlaku adil, maka kawini satu perempuan saja).

Masalahnya, kata Sinta, keadilan itu dilihat dari sudut mana dan ukuran siapa. Al-Qur’an memiliki dua padanan kosakata untuk kata keadilan yaitu qashata dan ‘adala. Qashata sering dipakai untuk pengertian “keadilan yang bersifat materil”. Sementara ‘adala untuk “keadilan yang bersifat immateril termasuk cinta, kasih sayang, perhatian dan lain sebagainya.” Nah, dalam ayat tadi al-Qur’an menggunakan kosakata ‘adala.

Jadi yang dituntut dalam ayat, yang justru sering dijadikan justifikasi teologis poligami, adalah keadilan yang bersifat immateril. Maka jika sudah bicara keadilan immateril itu dipastkan tidak bisa diwujudkan melalui poligami. Dalam al-Qur’an, masih dalam surat Al-Nisâ’, disebutkan, “Falâ tashtathî’u ‘an ta’dilû baina al-nisâ’ walau haratstum” (engkau tidak akan mampu berbuat adil atas perempuan meski engkau berusaha keras untuk itu). Jadi keadilan tidak akan mungkin terwujud melalui praktik-praktik poligami.

Sinta menyatakan bahwa poligami secara eksplisit tidak diperkenankan menurut al-Qur’an. Ia juga menyebut banyak hadits Nabi Saw yang tidak membolehkan poligami. Sebagai contoh, ketika Ali ra minta izin untuk menikahi Juwairiyyah Rasulullah langsung menolak. Dia tidak mengizinkan karena Fatimah (istri Ali, anak Rasulullah) adalah bagian dari Nabi. Nabi itu tegas-tegas mengatakan sampai tiga kali tidak mengizinkan. Itu tentu berarti poligami tidak diperkenankan.

Kalaupun ada pandangan populer bahwa poligami adalah bagian dari ajaran Islam, Sinta memastikan pandangan itu salah dan kesalahan terjadi karena ayat al-Qur’an diartikan secara tektual seperti halnya membaca secara letterlijk, dan ditambah lagi ada kepentingan laki-laki (male-biased) di dalamnya. Maka akibatnya adalah muncul pandangan populer yang salah, jadi bukan dilalah-nya (maksud utama) yang ditonjolkan.

Sinta menyebutkan salah satu tujuan Allah mengutus Nabi adalah untuk membebaskan kaum perempuan dari belenggu-belenggu yang mengikat. Setelah belenggu mulai terbuka dan teratasi, Nabi wafat, sayangnya muncul kembali keinginan laki-laki untuk menguasai perempuan. Sinta mencontohkan adanya hadits yang menyebutkan, bahwa malaikat akan melaknat perempuan semalam suntuk bila menolak “ajakan” suaminya. Menurut Sinta hadits ini justeru menunjukkan kelemahan laki-laki sebab tidak berani kepada perempuan. Untuk melakukan hubungan seksual saja laki-laki harus meminta bantuan laknat malaikat.

Tak Terhalang Keterbatasan Fisik
Ibu dari empat orang putri Alissa Qotrunnada Munawaroh (Lissa), Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus (Nita), dan Inayah Wulandari (Ina), ini tergolong aktivis organisasi. Ia adalah anggota Kongres Wanita Indonesia (Kowani) yang merupakan federsi berbagai organsiasi wanita di Indonesia, juga anggota Komite Nasional Kedudukan Wanita Indonesia (National Commission on the Status of Women).

Bersama organisasi-organisasi lain, sebelum mendirikan Yayasan PUAN Sinta sudah aktif memperjuangkan kepentingan-kepentingan perempuan. Hanya saja ia tidak mengerti betul apa yang menjadi tujuan perjuangan organisasi tersebut. Ia pun merasa sesungguhnya tidaklah tertarik untuk terjun ke dalam perjuangan perempuan.

Perubahan besar baru dapat dialaminya setelah mengkaji Kitab Kuning tadi, lalu iapun mendirikan Yayasan PUAN Amal Hayati. Di Yayasan ini Sinta mulai sangat mengerti betul, dan sekaligus ingin berjuang membela kepentingan perempuan baik perempuan yang berada di dalam maupun di luar rumah tangga yang sama-sama banyak mendapat ketidakadilan.

Keterbatasan gerak fisik akibat kecelakaan tak menghambat munculnya ide-ide segar dari Sinta Nuriyah. Kegigihannya berjuang menempatkan wanita Indonesia pada posisi yang terhormat justru makin mencuat setelah secara fisik ia tidak dapat berbuat apa-apa. Padahal tugas rutin mendampingi seorang tokoh yang sangat dan selalu kontroversial, Gus Dur, itu tak kurang rumitnya. Kecelakaan mobil tahun 1993 memang membuat Sinta harus berada di kursi roda.

Ia mengalami kelumpuhan tak dapat menggerakkan bagian tubuh dari leher hingga kaki. Ia membutuhkan waktu satu setengah tahun perawatan untuk dapat dikatakan sembuh, walau harus tetap menggunakan alat bantu kursi roda. Tentang kelanjutan kuliahnya di UI Sinta pernah meminta pihak kampus agar memberikan kelonggaran dengan menyediakan ruang kuliah khusus baginya, yang dapat dijangkau kursi roda seperti di lantai bawah. Namun permintaan itu tak dapat dipenenuhi dan Sinta harus kuliah di lantai empat.

Maka ketika sudah semester empat Sinta yang bertekad menyelesaikan kuliah dengan rendah hati sadar, ialah yang membutuhkan belajar bukan pihak kampus. Iapun bersedia kuliah di lantai empat. Tapi apa mau dikata lift kampus kemudian rusak. Tapi Sinta tak mau kehilangan akal. Ia kemudian memasuki ruang kuliah layaknya Jenderal Sudirman saat berjuang melawan penjajah, yakni digotong di atas tandu dinaik-turunkan dari bawah ke lantai empat dan sebaliknya. Kejadian seperti itu berlangsung satu semester penuh menunggu hingga liftnya selesai diperbaiki.

Bersuamikan Pria Romantis
Sinta sangat sadar ia bersuamikan seorang pria yang sangat kontroversial. Karena kontroversial itu banyak yang suka dan banyak pula yang tak suka terhadap suaminya. Gus Dur ketika menjabat Presiden banyak disanjung-sanjung hingga diberi gelar sebagai “Bapak Bangsa”. Namun serta-merta Sinta menolak jika disebut pula sebagai “Ibu Negara”. Sinta beralasan, yang namanya “Ibu Bangsa” tidak selalu harus pasangan dari “Bapak Bangsa”. Sebab bisa saja istri dari “Bapak Bangsa” kadang-kadang berpendidikan rendah sehingga tidak layak disebut “Ibu Bangsa”.

Walau menolak disebut “Ibu Bangsa” Sinta Nuriyah sangatlah berperan besar menunjang karir dan kesuksesan Gus Dur di kancah politik nasional. Ia berprinsip sederhana, seorang istri kalau bisa menciptakan ketenangan dalam rumahtangga berarti suami akan tenang. Jika di luaran Gus Dur banyak memainkan jurus-jurus ‘silat’ perpolitikan nasional, di rumah Sinta menawarkan tema pembicaraan keluar dari politik untuk masuk ke hal yang ringan-ringan.

Namun jika Gus Dur yang, kata Sinta ia tergolong pria romantis, itu memasuki pembicaraan area politik maka Sinta yang menguasai aktif bahasa Inggris, Arab, dan Perancis tetap mau meladeni dan mampu pula menanggapinya.

Sinta pun menjadi bisa memahami segala kegiatan Gus Dur. Diskusi adalah cara yang jitu bagi Sinta untuk bisa mengerti tentang Gus Dur. Setiap muncul ide-ide Gus Dur yang mendapat sorotan luas dari amsyarakat maka Sinta akan mencoba memahami, atau paling tidak keduanya berdiskusi dulu. Diskusi seolah telah menjadi ‘menu’ pengganti keromantisan Gus Dur, yang menjadi semakin sibuk sejak terpilih menjadi Ketua Umum PBNU. Jika Gus Dur ‘sibuk’ sendiri maka Sinta sebagai ibu yang baik akan tetap telaten mendidik anak-anak dan memelihara keharmonisan rumahtangga.

Sinta kerapkali memperlakukan Gus Dur sebagai teman yang baik, sebagaimana pernah ia tuangkan dalam tulisan “Sehari Bersama Abdurrahman Wahid”. Itu, adalah sebuah artikel reportase hasil ‘investigasi’ Sinta saat mengikuti keseharian kegiatan Gus Dur kemanapun suaminya pergi. Sinta, selain aktivis organisasi ternyata pernah pula berprofesi sebagai wartawan, yakni pada tahun 1980-1985 di Majalah “Zaman”. Profesi itu harus berhenti karena majalahnya ditutup, Sinta lalu sempat bekerja untuk Sybah Asa (Tempo).

Hidup diijinkan Sinta mengalir begitu saja tanpa harus dipersiapkan menjadi ini atau menjadi itu. What ever wil be, will be, kata Sinta. Prinsip what ever will be semakin ketika ia ‘harus’ menjadi “First Lady” Indonesia, sesuatu yang sesungguhnya tidak pernah ada dalam kamus dan skenario hidup Sinta. Maka itu ketika Gus Dur diminta mundur tahun 2001 Sinta dan keluarga tak perlu berkecil hati. Ia malah menganjurkan Gus Dur agar secepatnya saja mundur. Ia dan anak-anak tak harus shock atau down, karena sejak sebelum menjadi Presiden pun mereka sudah terbiasa akan kontroversialitas Gus Dur.

Apalagi, Gus Dur yang diminta menjadi Presiden maka ketika diminta tidak lagi menjadi Presiden pun menjadi tidak apa-apa pula. Sinta sudah menyerahkan hidup secara total ke dalam perlindungan Tuhan. Maka tak heran jika Sinta yang gemar membaca, sehingga kerapkali dikirimi buku ‘silat asli’ dari Cina oleh Gusdur sampai kecanduan, itu sesekali masih mau turun ke jalan berdemonstrasi sebagaimana kebiasaannya saat menentang pemerintahan Soeharto.

Sinta sangat percaya akan suaminya. Karena itulah isu perselingkuhan yang dituduhkan pada Gus Dur yang disertai dengan bukti-bukti otentik segala, itu tak membuat Sinta goyah. Ia tetap percaya, memahami, hingga mengagumi suami. Sebagai tokoh kontroverisial Sinta paham banyak yang ingin menjatuhkan suaminya.

Salah satunya menggunakan perempuan, untuk mengusung isu perselingkuhan yang ternyata tidak terbukti kebenarannya. Tanpa selingkuh pun, kata Sinta, sudah banyak orang yang menawari suaminya kawin lagi. Orang itu sekaligus menyodorkan anaknya segala, atau siapanya kepada Gus Dur sebab katanya untuk ngalap berkah. ►ti/ht

3. Solichah, Ibu Gus Dur

Solichah dilahirkan pada 11 Oktober 1922 di sebuah desa bernama Denanyar. Ibunya, Noer Khodijah, adalah keturunan seorang ulama besar dari pesantren Tambakberas dan ayahnya, Kyai Bishri Syansuri adalah seorang ulama keturunan kyai dari pesantren Lasem. Kelahiran Solichah diliputi oleh suasana perjuangan yang membingkai alam pikiran rakyat untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajah. Sebagai putri seorang kyai, Solichah kecil lebih sering berinteraksi dengan warga pesantren orang tuanya dan juga telah belajar makna status social dari dimensi prestige yang melekat dan diwarisinya sejak dilahirkan. Pada masa Solichah menginjak remaja, situasi kehidupan masyarakat diliputi kecemasan menyongsong malapetaka Perang Dunia II. Sebagai seorang remaja yang ruang interaksi sosialnya semakin meluas menjangkau masyakarat di luar pesantren, Solichah remaja mengalami transfer of learning pandangan hidup yang ditransmisikan oleh generasi pendahulunya, yaitu menekankan agar generasi remaja, terutama remaja perempuan kaum santri harus dijauhkan dari gaya hidup kaum colonial penindas yang kafir. Lingkungan pesantren di mana Solichah remaja hidup dalam kesehariannya juga memiliki selera budaya terutama kesenian yang berbeda dengan yang hidup di dunia para kolonialis dan yang digemari oleh para priyayi. Pada masa remajanya, Solichah menerima transmisi nilai-nilai budaya masyarakatnya yang terbingkai oleh pola pemilahan dua pandangan dunia yang antagonistik tersebut. Para gadis juga tidak memiliki kebebasan dalam memilih calon suami, dasar pertimbangan urusan perjodohan yang hidup di dunia pesantren berbeda dengan yang hidup di kalangan warga pedesaan pada umumnya. Laki-laki yang terpilih untuk mendampingi Solichah adalah pilihan Hadratus Syeh Hasyim Asy’ari, ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama dari pondok pesantren Tebuireng dan seorang Gus yang terpilih adalah Abdurrohim, putra Kyai Cholil dari Singosari. Namun, usia perkawinan mereka tidak lebih dari satu tahun karena Abdurrohim dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Pada usianya yang belum memasuki usia ke 15 tahun, Solichah telah menyandang status janda. Solechah kemudian diboyong kembali ke Denanyar untuk menjalani masa pingitan yang kedua. Calon suami yang kedua juga berasal dari keluarga pondok pesantren, hanya bedanya kali ini Solichah sudah mengenal lebih dahulu calon suaminya. Calon suami keduanya adalah Wahid Hasyim putra kandung Hadratus Syeh Hasyim Asy’ari yang pernah bertemu dengannya ketika ta’ziyah. Pernikahan mereka diselenggarakan pada tanggal 10 Syawal 1356 H atau 1938 M dan kemudian dikaruniai empat orang anak laki-laki dan dua orang perempuan. Usia perkawinan Solichah dan Wahid Hasyim hanya berlangsung selama kurang lebih 15 tahun, karena pada tahun 1953 suami tercintanya meninggal dunia dalam suatu kecelakaan sementara Solichah sedang mengandung anak keenam. Sepeninggal suaminya, Solichah tetap gigih dan bersemangat dalam mempertahankan keutuhan keluarganya dan mendidik anak-anaknya. Semangat dan kegigihan Solichah inilah yang sangat menentukan perjalanan hidup anak pertamanya, Abdurrahman Wahid, hingga berhasil menjadi seorang presiden. Solichah meninggal dunia pada hari Jum’at tanggal 29 Juli 1994 sekitar pukul 23.00 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, setelah menjalani rawat tinggal selama 17 hari akibat sakit jantung dan gula. Jenazahnya dimakamkan keesokan harinya di komplek pemakaman Tebuireng Jombang.

4.Yenny Wahid, Anak Gus Dur

Yenny Wahid bernama lengkap:Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid lahir di Jombang, Jawa Timur, 29 Oktober 1974 bersaudara antara lain Alissa Qotrunnada Munawaroh Rahman (anak), Anitta Hayatunnufus Rahman (anak), Inayah Wulandari Wahid (anak). Pendidikan: Sarjana desain dan komunikasi visual dari Universitas Trisakti dan Master dari Harvard University.

Pekerjaan:Koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne), 1997-1999, Direktur The Wahid Istitute (2004-sekarang), Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik, Sekjen DPP PKB, 2006-sekarang

Penghargaan:Australia`s Premier Journalistic Award – The Walkleys
Alamat:Jl Al Munawaroh No 10 Ciganjur, Jakarta Selatan

Yenny Wahid merupakan Regenerasi Politik Gus Dur

Dia selalu mendampingi Gus Dur. Kemudian dia dipercaya menjabat direktur The Wahid Institute, sebuah lembaga kajian Islam dan kebudayaan yang diprakarsai KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bersama rekan-rekannya. Bisa jadi, kehadiran mantan koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne), ini memberikan warna tersendiri bagi wajah politik di Indonesia. Sempat menjadi staf khusus Presiden SBY sebelum menjadi Sekjen DPP PKB 2006 sampai sekarang.

Keberadaannya menjadi awal dimulainya proses magang politik oleh generasi orangtua, yang kini menjadi pemain politik kunci –dalam hal ini Gus Dur. Salah satu ‘magang politik’ yang sedang dilakoninya adalah turut serta bersama-sama Susilo Bambang Yudhoyono, calon presiden RI, dalam berbagai hajatan. Itu artinya, keluarga Ciganjur ini menyusul model regenerasi serupa yang dilakukan keluarga Presiden Megawati. Keluarga Mega sudah lebih dulu melibatkan putri mereka, Puan Maharani, ke pelbagai kesempatan.

Selain menjadi mata dan telinga bagi Gus Dur, lulusan sarjana desain dan komunikasi visual dari Universitas Trisakti, ini juga sering memberikan berbagai masukan tentang isu yang sedang hangat terjadi baik di dalam maupun luar negeri. Ia mengakui bahwa mendampingi ayahnya tidaklah mudah. Perlu banyak kesabaran, pengertian dan cinta. Selain menemani Gus Dur, Yenny juga membacakan isi surat kabar untuk ayahnya meski terkadang beritanya termasuk berita buruk. Namun sekarang, ia sudah dibantu oleh asisten untuk melakukan itu.

Yenny Wahid yang bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid lahir di Jombang, Jawa Timur, 29 Oktober 1974 dalam lingkungan keluarga NU. Pola pikirnya pun tidak jauh dengan ayahnya yang lebih mengedepankan Islam yang moderat, menghargai pluralisme dan pembawa damai. Dengan adanya The Wahid Institute diharapkan dapat meneruskan apa yang selama ini Gus Dur perjuangkan bahkan tidak tertutup kemungkinan muncul pemikiran-pemikiran Islam yang lebih progresif.

“Tujuan The Wahid Institute sejalan dengan visi Gus Dur, yaitu membangun pemikiran Islam moderat, yang mendorong terciptanya demokrasi, pluralisme agama-agama, multikulturalisme dan toleransi di kalangan kaum Muslim Indonesia,” kata Yenny dalam acara peresmian The Wahid Institute yang diselenggarakan di ballroom Hotel Four Seasons (dahulu Regent), Jakarta, Selasa (7/9/2004).

Salah satu program The Wahid Institute, tambah Yenny, antara lain mengkampanyekan pemikiran Islam yang menghargai pluralitas dan demokrasi. Selain itu melalui program pendidikan, kita akan mendidik kyai-kyai muda yang ada di desa berdasarkan visi Gus Dur tadi,” jelas alumnus Harvard University ini.

Sebelum terjun secara khusus mendampingi ayahnya, Yenny bertugas sebagai reporter di Timor-Timur, sebuah provinsi di Indonesia yang penuh kekerasan militer yang kini memisahkan diri menjadi negara sendiri. Ia menjadi koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) antara tahun 1997 dan 1999. Saat itu, meski banyak reporter keluar dari Timor Timur, Yenny tetap bertahan dan melakukan tugasnya. Ia sempat kembali ke Jakarta setelah mendapat perlakuan kasar dari milisi, namun seminggu kemudian ia kembali ke sana.

Belum terlalu lama menekuni pekerjaannya, ia berhenti bekerja karena ayahnya, Gus Dur terpilih menjadi presiden RI ke-4 (20 Oktober 1999-24 Juli 2001). Ia menelepon kantornya dan mengatakan kepada pimpinannya bahwa ia tidak bisa pergi ke kantor karena ayahnya terpilih menjadi orang nomor satu di Indonesia. Sejak itu, kemanapun Gus Dur pergi, Yenny selalu berusaha mendampingi ayahnya.

Kini, dengan adanya kesibukan baru sebagai Direktur The Wahid Institute, Yenny harus semakin arif mengatur waktu. Ketika ditanya kapan waktu untuk pacaran, ia dengan tangkas mengatakan, “Sampai saat ini saya masih sendiri. Tidak ada waktu untuk pacaran. Bayangkan, dari pagi sampai malam saya melayani Bapak. Kalau ada yang menanyakan tentang pacar, tolong katakan saja bahwa hanya ada satu laki-laki dalam hidup saya.”

Dengan penuh penasaran wartawan balik bertanya, siapa orangnya. “Yaitu KH Abdurrahman Wahid,” kata Yenny dengan wajah serius tanpa senyum. “Bagaimana saya bisa pacaran, saya sesibuk ini. Saya tidak punya kehidupan pribadi,” tambah perempuan yang suka belanja sendiri bahan busananya ke Pasar Mayestik ini dengan singkat.

Meski mengaku sibuk, perempuan manis seperti Yenny pasti mempunyai segudang penggemar. Kecantikan yang terpancar dari dalam dirinya cukup membuat banyak lelaki jatuh hati padanya. Lihat saja senyumannya, gaya bicara saat berpidato, kecerdasannya dan keramahaannya sudah akrab kita temui dimanapun ia berada. ►tsl

Sumber: http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id

Presiden SBY: Doakan Gus Dur, Kibarkan Bendera Setengah Tiang 7 Hari


Presiden SBY mengajak seluruh rakyat Indonesia mendoakan Gus Dur dengan membacakan surat al Fatihah sebagai penghormatan atas jasa-jasanya kepada rakyat dan bangsa Indonesia.

“Saya mengajak rakyat Indonesia membaca surat Al Fatihah,” jelas SBY dalam jumpa pers di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (30/12).

Bersama dengan sejumlah pejabat tinggi seperti Menko Perekenomian Hatta Rajasa, Menko Kesra Agung Laksono, Mensesneg Sudi Silalahi, dan Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri SBY memimpin pembacaan doa tersebut dengan khidmat.

Kibarkan Bendera Setengah Tiang 7 Hari

Selain itu, sebagai bentuk duka cita, Presiden memerintahkan masyarakat untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama tujuh hari yang dimulai Kamis (31/12/2009) sampai Rabu (6/1/2010). “Ini sebagai rasa duka dan berkabung kita yang sangat mendalam,” ujar SBY.

Secara pribadi, SBY mengaku sangat menghormati Gus Dur sebagai mantan presiden ke-4 RI dan ia juga berharap agar masyarakat memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada almarhum Gus Dur. (mkf)

Sumber: nu online

Gus Dur Meninggal Dunia


Inna lillahi wa inna ilaihi raajiuun, mantan presiden RI KH Abdurrahman Wahid atau biasa dikenal Gus Dur telah meninggal dunia pada Rabu, 30 Desemer 2009, pukul 18.45 WIB.

Kepala tim dokter yang menangani Gus Dur dr Yusuf Misbah, mengatakan kondisi Gus Dur sebenarnya sempat membaik namun pada Rabu siang tadi, pukul 11 kembali memburuk karena penyakit komplikasi antara diabetes, ginjal, stroke dan jantung.

Pada pukul 18.15 kondisi gus dur dinyatakan kritis dan pada pukul 18.45 dinyatakan meninggal dunia. Mala mini juga, jenazah Gus Dur akan dibawa ke kediamannya di Ciganjur.

Adik Gus Dur, Gus Solah menyatakan sampai saat ini belum ada keputusan jenazah Mantan Ketua Umum PBNU ini akan dimakamkan dimana karena masih menunggu rapat keluarga, Namun, ada kemungkinan akan dimakamkan di Jombang, tanah kelahirannya. “Kami menunggu keputusan keluarga untuk dimakamkan di mana,” tuturnya.

Sampai berita ini diturunkan, RSCM telah dipenuhi para aktifis, wartawan dan simpatisan Gus Dur. Para pengurus PBNU juga telah tampak hadir melayat. Tampak Lily Wahid, menteri PDT Helmy Faisal, Mudji Sutrisno, dan lainnya. (mkf)

Sumber: http://www.nur.or.id

Daftar Penerima Upakarti 2009


Penghargaan Upakarti adalah pengahargaan dari pemerintah yang diberikan kepada usahawan dan perusahaan yang berjasa di bidang industri. Penghargaan Upakarti ini telah diberikan sejak tahun 1985 mencakup lima kategori, yakni Jasa Pengabdian, Jasa Pelestarian, Jasa Kepeloporan, Jasa Kepedulian, dan IKM Modern,” kata MS Hidayat.

Untuk tahun 2009, Penghargaan Upakarti diberikan dengan lima kategori untuk 15 orang ditambah 10 perusahaan, penghargaan Rintisan Teknologi Informasi 4 perusahaan, Penghargaan Indonesia Good Desaign Selection (IGDS) 18 perusahaan, dan Penghargaan Kreasi Prima Mutu 6 perusahaan. “Secara kumulatif penghargaan Upakarti sejak 1985 hingga 2009 telah diberikan kepada 1004 penerima, terdiri dari 420 jasa pengabdian, 15 jasa pelestarian, 483 jasa kepeloporan, 68 jasa kepedulian, dan 18 IKM.

Berikut daftar lengkap penerima Penghargaan Upakarti 2009:

I. PENGHARGAAN UPAKARTI
A. Upakarti Jasa Pengabdian
1. D. Syahrial, Banda Aceh, Provinsi Aceh, Banda Aceh, bidang usaha Aneka Kerajinan
2. Evi Meiroza Herman, Pekanbaru, Provinsi Riau, bidang usaha Industri Tenun
3. Fauziah Mawardi Yahya, Ogan Ilir, PRovinsi Sumatera Selatan, bidang usaha Industri tenun
4. Caccilia Valeriana Uduk, Belu, Nusa Tenggara Timur, bidang usaha Industri Gerabah dan Makanan

B. Upakarti Jasa Pelestarian
1. Katura, Cirebon, Provinsi Jawa Barat, bidang usaha Industri Batik
2. Koperasi Jaa Menenun mandiri, intang, Provinsi Kalimantan Barat, bidang usaha Industri Tenun
3. Achmad Irawan, Batu, Provinsi Jawa Timur, bidang usaha Industri Batik
4. Farida Ekawati Pattisahusiwa, Maluku Tengah, Provinsi Maluku, bidang usaha Industri Batik dan Makanan

C. Upakarti Jasa Kepeloporan
1. Putra Dunia Baru, Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, bidang usaha Anyaman
2. PT House of Rattan, Cirebon, Jaw Barat, bidang usaha Industri Rotan
3. Mega – Rasa, Pekanbaru, Provinsi Riau, bidang usaha Industri Makanan
4. CV Matan, Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, bidang usaha Industri Anyaman
5. UD Jatayu, Badung, provinsi Bali, bidang usaha Kerajinan Ukiran Kayu

D. Upakarti Jasa Kepedulian
1. Ongku P. Hasibuan, Bupati Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara
2. Triyono Budi Sasongko, Bupati Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah
3. Mohammad Idham Samawi, Bupati Bantul, Provinsi D. I. Yogyakarta
4. Muhammad Safii, Bupati Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan
5. Adi Rudianto Asapa, Bupati Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan
6. Rusdy Mastura, Walikota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah
7. Eddy Santana Putra, Walikota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan

E. Upakarti Industri Kecil Menengah Modern
1. PT. Yogya Presisi Tehnikatama Industri
2. PD Adi Anugrah Food Industry
3. PT Laksana Tekhnik Makmur
4. US Naga Mas
5. CV Muda Kreatif

II. PENGHARGAAM RINTISAN TEKNOLOGI INDUSTRI
1. PT Hartono Istana Teknologi
2. PT Global Deorub Industry
3. PT Katama Suryabumi
4. PT LEN Industry

III. PENGHARGAAN DESAIN TERBAIK
A. Grand Award Desain Terbaik Indonesia 2009
1. PT Formcase Industries

B. Special Craftmanship Desain Terbaik
1. Kaya Tenun

C. Gold Award Deain Terbaik Indonesia Kategori Desain Produk Indutri Massal
1. PT Insera Sena Polygon, produk Zenith Urban Comuting Belt Drive
2. PT Terang Dunia Interbusa, produk Lagoon Susp 26″ Sepeda Cruiser
3. Suriyana, produk Necklace Daun Perpaduan Ukiran,
4. Kate – Mas Handicraf, produk Ladies Bag Recycle Paper
5. Kaya Tenun, produk Kain Sutera Yarn Dye Motif Seno Kawung
6. Wonderful, produk Selendang
7. PT Hartono Istana Teknologi, produk Halo Halo Portable Voice Amplifier
8. PT Panasonic Manufacturing Indonesia, produk Lemari Es NR – A 191 M/D
10. PT Mitra Timur Lestari, produk Portition Sofa
11. Kain Wedana, produk Kipas lukis

D. Gold Award Desain Terbaik Indonesia Kategori Desain Produk Inovasi Riset Desain Industri
1. Herwibowo, produk Srikandi (E-3211 Bag)
2. Ilham Fahmi Arifin, produk Root Chair
3. Toni Fatoni, produk Peanut Guest Room Furniture
4. Helmi Siswanto, produk Helmi 01 Dining Set
5. PT. Datascript, produk Flexmo Alto

IV. PENGHARGAAN KREASI PRIMA MUTU
1. UD Kamasan, Provinsi Bali, Kerajinan Uang Kepeg
2. PT Aneka Banu Sakti, Provinsi Jawa Timur, produk Komponen Kendaraan Bermotor
3. CV Sispra Jaya Logam, Provinsi Riau, produk Komponen Mesin
4. Replika Produk Fiberglass, Provinsi D. I. Yogyakarta, produk kerajinan fiberglass
5. CV Surya Lestari, Provinsi Sulawesi Selatan, produk Sirup Markisa
6. PT. Arto Metal Internasional, Provinsi Jawa Timur, produk Komponen Logam dan Kompor.

Sumber: http://www.presidensby.info

Sejarah Singkat Hari Ibu (Peringatan Tahun 2009)


Hari Ibu jatuh pada 22 Desember. Mengapa tanggal ini ditetapkan sebagai Hari Ibu?

Berikut sejarah singkat Hari Ibu; teks yang dibaca pada peringatan Hari Ibu tahun 2009. Tema  peringatan  Hari  Ibu  (PHI) tahun  ini  adalah Kesetaraan  Perempuan  dan  Laki-laki  dalam  Pembangunan Nasional.

Sejarah Singkat Hari

Gema  Sumpah  Pemuda  dan  lantunan  lagu  Indonesia Raya  yang pada tanggal 28 Oktober 1928 digelorakan dalamKongres  Pemuda  Indonesia,  menggugah  semangat  para pimpinan  perkumpulan  kaum  perempuan  untuk  mempersatukan  diri dalam satu  kesatuan wadah mandiri.  Pada  saat itu sebagian besar perkumpulan masih merupakan bagian dari organisasi pemuda pejuang pergerakan bangsa.

Selanjutnya, atas  prakarsa  para  perempuan  pejuang pergerakan kemerdekaan pada  tanggal 22-25 Desember 1928

diselenggarakan Kongres Perempuan  Indonesia  yang pertama kali  di  Yogyakarta.  Salah  satu  keputusannya  adalah  di bentuknya satu  organisasi  federasi  yang  mandiri  dengan nama  Perikatan  Perkoempoelan  Perempoean  Indonesia (PPPI).

Melalui PPPI tersebut terjalin kesatuan semangat  juang kaum perempuan untuk  secara bersama-sama kaum Laki-laki berjuang  meningkatkan  harkat  dan  martabat bangsa Indonesia  menjadi  bangsa  yang  merdeka, dan  berjuang bersama-sama  kaum  perempuan  untuk meningkatkan  harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju.

Pada  tahun  1929  Perikatan  Perkoempoelan  Perempuan Indonesia  (PPPI)  berganti  nama  menjadi  Perikatan Perkoempoelan  Istri  Indonesia  (PPII). Pada  tahun  1935 diadakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta. Kongres tersebut  disamping  berhasil membentuk  Badan  Kongres Perempuan  Indonesia,  juga  menetapkan  fungsi  utama Perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa, yang berkewajiban menumbuhkan  dan  mendidik  generasi  baru  yang  lebih menyadari dan lebih tebal rasa kebangsaannya.

Pada  tahun  1938  Kongres  Perempuan  Indonesia  III di Bandung  menyatakan  bahwa  tanggal 22  Desember  sebagai Hari Ibu.  Selanjutnya, dikukuhkan  oleh  Pemerintah  dengan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959,yang  menetapkan  bahwa  Hari Ibu  tanggal  22  Desember merupakan  hari  nasional  dan  bukan  hari libur.  Tahun  1946 Badan  ini menjadi  Kongres  Wanita  Indonesia  di  singkat KOWANI, yang sampai saat  ini terus berkiprah sesuai aspirasi dan  tuntutan  zaman. Peristiwa  besar  yang  terjadi  pada tanggal  22  Desember  tersebut  kemudian  dijadikan  tonggak sejarah bagi Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia.

HariIbu  oleh bangsa  Indonesia  diperingati  tidak  hanya  untuk menghargai jasa-jasa perempuan  sebagai seorang ibu, tetapi juga  jasa  perempuan  secara  menyeluruh, baik sebagai ibu dan istri  maupun  sebagai  warga  negara,  warga  masyarakat dan sebagai abdi Tuhan Yang Maha Esa, serta sebagai pejuang dalam merebut,  menegakan  dan  mengisi  kemerdekaan dengan pembangunan nasional.

Peringatan  Hari Ibu  dimaksudkan  untuk  senantiasa mengingatkan  seluruh  rakyat  Indonesia  terutama  generasi muda,  akan  makna  Hari Ibu  sebagai  Hari kebangkitan dan persatuan  serta kesatuan  perjuangan  kaum perempuan  yang tidak terpisahkan dari kebangkitan perjuangan bangsa. Untuk itu  perlu  diwarisi  api  semangat  juang  guna  senantiasa mempertebal  tekad  untuk melanjutkan  perjuangan  nasional menuju  terwujudnya  masyarakat  yang  adil dan  makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Semangat  perjuangan  kaum  perempuan  Indonesia tersebut  sebagaimana tercermin dalam lambang Hari Ibu berupa setangkai  bunga melati dengan kuntumnya,  yang menggambarkan:

1. kasih sayang kodrati antara ibu dan anak;

2. kekuatan, kesucian antara ibu dan pengorbanan anak;

3. kesadaran  wanita  untuk  menggalang  kesatuan  dan

persatuan,  keikhlasan bakti  dalam pembangunan bangsa

dan negara.

Semboyan pada  lambang  Hari Ibu  Merdeka Melaksanakan  Dharma mengandung  arti  bahwa  tercapainya persamaan  kedudukan,  hak,  kewajiban  dan  kesempatan antara  kaum  perempuan  dan  kaum  laki-laki  merupakan kemitrasejajaran  yang  perlu  diwujudkan  dalam kehidupan berkeluarga,  bermasyarakat,  berbangsa  dan  bernegara  demi keutuhan, kemajuan dan kedamaian bangsa Indonesia.

Hari Ibu, 22 Desember 2009

Download

Pedoman Penyelenggaraan Peringatan Hari Ibu 2009

(berisi antara lain maksud dan tujuan, tata upacara, logo dan maknanya)

Foto-foto Baden Powell, Bapak Pramuka Dunia


Foto-foto Baden Powell dengan berbagai pose dan juga dalam situasi yang berbeda ini dapat memberi gambaran tentang pribadi seorang tokoh besar dalam dunia pandu.

Baden-powell

Baden_narrowweb__300x353,0     bptua bp-018

bp-002  bp-011  Baden-powell  bp-016

bp

B Powell

bp

Tulisan terkait:

UU 12/2010 ttg Gerakan Pramuka

AD Gerakan Pramuka 2009

Lagu Himne Pramuka Not Balok

Kumpulan Lagu Pramuka MP3

Kumpulan Logo Jamnas

Model Menara Perkemahan

Model Jembatan Pramuka

Model Pakaian Seragam Pramuka

Logo Satuan Karya Pramuka

%d blogger menyukai ini: