Gratis, Buku Husein Mutahar dalam Pengabdian dan Karyanya


Sejarah H MutaharH. Mutahar adalah penyelamat Bendera Pusaka, pendiri Paskibraka, pencipta lagu Syukur dan Himne Satya Darma Pramuka.

H. Mutahar tokoh Pandu Rakyat Indonesia dan berjasa dalam penyatuan pandu menjadi Gerakan Pramuka. Ia pernah menjabat Menteri dan Duta Besar. H. Mutahar dalah seorang Mayor TNI AD, komponis, menguasai 8 bahasa asing.

Buku berikut dilengkapi dengan lagu-lagu monomental karyanya, diterbitkan Direktorat Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, November 2019.

Untuk mengunduh buku PDF silakan klik di sini.

Sejarah H. Mutahar


Husein Mutahar atau dikenal dengan H. Mutahar pencipta adalah lagu Syukur, Himne Satya Darma Pramuka, dan lagu nasional lainnya. Beliau lahir pada 5 Agustus 1916, di Semarang dan meninggal di Jakarta9 Juni 2004 (pada umur 87 tahun) di makamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta.

Ia memperdalam pendidikan setahun di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada periode 1946-1947. setelah tamat dari MULO B (1934) dan AMS A-I (1938).

Pada 1945, Mutahar bekerja sebagai Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI di Jogjakarta, kemudian menjadi pegawai tinggi Sekretariat Negara di Jogjakarta (1947). Selanjutnya, ia mendapat jabatan-jabatan yang meloncat-loncat antardepartemen. Puncak kariernya barangkali adalah sebagai Duta Besar RI di Tahta Suci (Vatikan) (1969-1973).[4] . Jabatan terakhirnya adalah sebagai Pejabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri (1974).

Husein Mutahar memiliki kecakapan dalam berbahasa dan menguasai 8 bahasa selain Bahasa Indonesia yaitu bahasa Jawa, Melayu, Arab, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, dan Spanyol.

H. Mutahar adalah salah seorang tokoh utama Pandu Rakyat Indonesia, gerakan kepanduan independen yang berhaluan nasionalis. Ia juga dikenal anti-komunis. Ketika seluruh gerakan kepanduan dilebur menjadi Gerakan Pramuka, Mutahar juga menjadi tokoh di dalamnya. Namanya juga terkait dalam mendirikan dan membina Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), tim yang beranggotakan pelajar dari berbagai penjuru Indonesia yang bertugas mengibarkan Bendera Pusaka dalam upacara peringatan Hari KemerdekaanRI.

Sebagai salah seorang ajudan Presiden, Mutahar diberi tugas menyusun upacara pengibaran bendera ketika Republik Indonesia merayakan hari ulang tahun pertama kemerdekaan, 17 Agustus 1946. Menurut pemikirannya, pengibaran bendera sebaiknya dilakukan para pemuda yang mewakili daerah-daerah Indonesia. Ia lalu memilih lima pemuda yang berdomisili di Yogyakarta (tiga laki-laki dan dua perempuan) sebagai wakil daerah mereka.

Pada tahun 1967, sebagai Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Mutahar diminta Presiden Soeharto untuk menyusun tata cara pengibaran Bendera Pusaka. Tata cara pengibaran Bendera Pusaka disusunnya untuk dikibarkan oleh satu pasukan yang dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok 17 sebagai pengiring atau pemandu; kelompok 8 sebagai kelompok inti pembawa bendera; kelompok 45 sebagai pengawal. Pembagian menjadi tiga kelompok tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pegetahuan lebih luas tentang perjuangan dan pengabdian terhadap bangsa, kemerdekaan, dan kepanduan atau Gerakan Pramuka dapat dibaca pada buku gratis berikut.

Buku Gratis

Buku gratis yang dimaksud ini adalah terbitan Direktorat Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mengisahkan biografi H. Mutahar  termasuk jasa pengabdian bagi bangsa dan karyanya yang monomental.

Buku dengan judul Husein Mutahar, Pengabdian dan Karyanya, diterbitkan pada November 2019, berisi perjalanan hidup H. Mutahar yang berjasa besar bagi perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, antara laian:  kisah sebagai Pandu Sejati, jejak langkah, penyelamat Bendera Pusaka (hlm. 8),  Bapak Pengerek Bendera Pusaka,  Husein Mutahar dan Sukarno, Husein Mutahar dan Suharto, pengabdian dari Kepanduan hingga Pramuka, dan kisah akhir Hayat Sang Maestro.

Dokumen untuk Diunduh:

Link 1 : Buku Husein Mutahar, Pengabdian dan Karyanya. 

Link 2 (alternatif) : Buku Husein Mutahar, Pengabdian dan Karyanya

Presidien Jokowi Bintang APEC 2014


Pidato Presiden Joko Widodo di KTT APEC 2014 mendapatkan aplaus, jadi rebutan foto selfie, mendapatkan tempat terhormat sesi foto pemimpin APEC, dan mencatat rekor baru di forum APEC dengan mengalahkan Presiden AS Obama dan SBY.

Nama Joko Widodo mendunia. Fenomena dari seorang pengusaha mebel, wali kota, gubernur hingga menjadi presiden sudah cukup membuat mata dunia terbuka. Kini, Presiden Republik Indonesia itu kembali menjadi buah bibir internasional usai melakoni debut ke luar negeri, dalam ajang Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) CEO Summit, di Beijing, 10-11 November.

Di ajang APEC ini, Jokowi sudah mencatakan rekor baru. Torehannya sudah mengalahkan apa yang dicatatkan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, dan juga Presiden RI sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono. Apa rekornya?

Video presentasi Jokowi yang berjudul: Joko Widodo, President of Indonesia, at the APEC CEO Summit, menjadi yang paling populer alias paling banyak dikunjungi. Video berdurasi 13.31 menit itu diunggah oleh apecsec, sebuah saluran resmi APEC di Youtube.

Sejak diunggah Minggu (10/11) hingga Rabu (12/11) pagi ini, video Jokowi ini sudah menembus angka 265.695 penonton. Ini merupakan angka fantastis, dibanding 139 video yang selama lima tahun belakangan ini resmi diunggah apecsec.

Di urutan kedua, muncul video berjudul, APEC: Imagine the Possibilities. Video yang diunggah 2 tahun yang lalu ini hanya disaksikan 15.113 penonton.

Sedangkan di urutan ketiga, video Obama yang berjudul Barack Obama, President of the United States, at the APEC CEO Summit, ditonton sebanyak 3.979 kali.

Sementara pidato SBY di forum APEC yang berjudul: Indonesia President Susilo Bambang Yudhoyono remarks at APEC CEO Summit 2011, ditonton sebanyak 2.263 kali. (Lihat Video Populer apecsec Di Sini). Sumber: www.jpnn.com

Pidato Bung Karno Berkaitan 1 Oktober 1965


Tanggal 1 Oktober bagi bangsa Indonesia merupakan hari bersejarah yang teramat historis berkaitan dengan peristiwa G 30 s/PKI yang ingin mengganti Pancasila sebagai Dasar Negara dengan dasar komunis. Oleh karena kegagalan upaya itu maka Pancasila tetap kukuh sebagai dasar negara.

Keberhasilan para tokoh mempertahankan Pancasila itulah yang pada akhirnya dijadikan bagian dari tonggak sejarah perjuangan bangsa dengan ditetapkannya tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Untuk memahami rekam sejarah berkaitan dengan peristiwa itu, berikut pidato Soekarno yang saya akses dari situs Kepustakaan Presiden RI http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/.

AMANAT P.J.M. PRESIDEN/ PANGLIMA TERTINGGI ABRI PEMIMPIN BESAR REVOLUSI BUNG KARNO JANG DIUTJAPKAN MELALUI RRI PADA TGL.3 OKTOBER 1965 DJAM 01.30.

Saudara-Saudara sekalian.

Mengulangi perintah saja sebagai Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata/Pemimpin Besar Revolusi jang telah diumumkan pada tanggal 1 Oktober ’65, dan untuk menghilangkan semua keragu-raguan dalam kalangan rakjat, maka dengan ini saja sekali lagi menyatakan bahwa saja berada dalam keadaan sehat wal’afiat dan tetap memegang tampuk pimpinan Negara dan tampuk pimpinan Pemerintahan dan Revolusi Indonesia.

Pada hari ini tanggal 2 Oktober ’65 saja telah memanggil semua Panglima Angkatan Bersendjata bersama wakil Perdana Menteri kedua Dr. Leimena dan para pejabat penting lainnya dengan maksud untuk segera menyelesaikan persoalan apa yang disebut peristiwa 30 September.

Untuk dapat menyelesaikan persoalan ini saja telah perintahkan supaja segera ditjiptakan satu suasana yang tenang dan tertib, dan untuk itu perlu dihindarkan segala kemungkinan bentrokan dengan sendjata.

Dalam tingkatan perdjoangan Bangsa lndonesia sekarang ini, saja perintahkan kepada seluruh rakyat untuk tetap mempertinggi kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam rangka meningkatkan pelaksanaan Dwikora.

Kepada seluruh Rakjat lndonesia saja serukan untuk tinggal tetap tenang dan kepada semua menteri dan petugas- petugas negara lainnja untuk tetap mendjalankan tugasnya masing-masing seperti sediakala.

Pimpinan Angkatan Darat pada dewasa ini berada langsung dalam tangan saja dan untuk menyelesaikan tugas sehari-hari dalam Angkatan Darat sementara saja tundjuk Maj. Djen. Pranoto Reksosamodra, Ass keIII Men/ PANGAD. Untuk melaksanakan pemulihan keamanan dan ketertiban jang bersangkutan dengan peristiwa 30 September tersebut telah saja tundjuk Maj.Djen. Suharto, Panglima Kostrad sesuai dengan kebidjaksanaan jang telah saja gariskan.

Saudara-saudara sekalian.

Marilah kita tetap membina semangat persatuan dan kesatuan Bangsa; marilah kita tetap menggelorakan semangat anti nekolim.

Tuhan bersama dengan kita semua.

Sumber dari buku : Memoar Mayor Jendral Raden Pranoto Reksosamodra. BAGIAN KE EMPATBELAS Halaman 239 sampai dengan 240, ip Penerbit Syarikat Indonesia. ISBN 979-96819-3-6.

Sumber: http://www.progind.net/modules/wfsection/article.php?articleid=151

Koleksi: Perpustakaan Nasional RI, 2006

Profil Jaksa Agung Hendarman Supandji


Jaksa Agung Hendarman Supandji kelahiran Klaten Jawa Tengah, 6 Januari 1947 adalah jaksa karir yang mengawali karirnya di Kejaksaan RI sejak tahun 1979. Alumni Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, serta Notariat Universitas Indonesia ini mengawali karirnya dengan menjadi jaksa di Kejaksaan Negeri Pusat. Selang tiga tahun kemudian, Hendarman Supandji dilantik menjadi Staf Pusat Operasi Intelijen Kejaksaan Agung. Ini adalah tugas pertama yang mendekatkannya dengan dunia intelijen dan ia diperbantukan di Badan Koordinasi Instruksi Presiden untuk masalah narkotika dan di Botasupal Bakin hingga tahun 1985. Setelah itu, Hendarman Supandji menjabat sebagai Kepala Seksi Penanggulangan Tindak Pidana Umum Intelijen Kejaksaan Agung pada periode 1985-1990.

Tak sampai setahun, Hendarman Supandji lalu ditugaskan sebagai Atase Kejaksaan di KBRI Bangkok pada periode 1990-1995. Setelah lima tahun di negeri candu itu, Hendarman Supandji  pulang untuk menjabat sebagai Kepala Pusdiklat Kejaksaan Agung pada 1995-1996. Setelah sempat menjadi  Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara di Kejaksaan Tinggi Sumeatera Selatan  pada 1996-1997, Hendarman Supandji lantas menjadi Staf Khusus Jaksa Agung pada tahun 1998. Pada tahun yang sama, ia juga diangkat untuk menduduki Kepala Biro Keuangan Kejaksaan Agung hingga tahun 2002.

Karirnya bersinar saat ia dipilih menjadi Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) pada masa kepemimpinan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh. Suami dari Dr. Sri Kusumo Amdani, DSA, MSc. ini, mengaku, sempat kaget dan was-was. Pasalnya, selama di kejaksaan ia lebih banyak berkecimpung di bagian intelijen dan pembinaan yang lebih cenderung berada di wilayah sumber daya manusia kejaksaan. Sementara, di bidang pidana khusus, ia harus memeriksa orang luar, bagian yang sejak  awal ingin djauhinya. Jika bukan mantan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh yang meminta, besar kemungkinan akan ditampiknya jabatan tersebut. Namun, mantan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh  tetap bersikukuh untuk mengangkat Hendarman Supandji menjadi JAM Pidsus. “Karena itu perintah pimpinan, saya mensyukuri saja apa yang menjadi kehendak pimpinan. Mungkin pimpinan lebih tahu, saya mungkin cocok di tempat itu,” ujarnya, dalam suatu wawancara dengan sebuah harian nasional.

Pilihan Abdul Rahman Saleh tepat. Hendarman Supandji segera memperlihatkan kualitasnya sebagai seorang JAM Pidsus. “Ikan kakap” seperti Neloe, Wakil Direktur Utama Bank Mandiri I Wayan Pugeg, dan Corporate Banking Director M. Sholeh Tasripan, harus meringkuk di ruang tahanan Kejaksaan Agung. Prestasi itu membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempercayakan Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Timtas Tipikor) ke tangan Hendarman Supandji. Presiden lalu membentuk lembaga ini untuk mengintensifkan upaya  pemberantasan korupsi untuk selanjutnya  langsung dilaporkan kepadanya, dengan tembusan kepada Jaksa Agung, Polri dan BPKP. Saat pelantikan, Presiden langsung memerintahkan Timtas Tipikor untuk langsung mengambil langkah hukum kepada 16 BUMN, empat departemen, tiga pihak swasta dan 12 koruptor yang melarikan diri ke luar negeri.

Atas permintaan ini, Hendarman Supandji langsung mengungkapkan rencananya kepada Presiden tentang “pembersihan” dari dalam lingkungan istana, seperti di lingkungan Sekretariat Kabinet dan Sekretariat Negara. Untuk memastikan kesungguhan Presiden dalam memberantas korupsi, Jaksa Agung Hendarman Supandji sempat bertanya kepada Presiden,“Seandainya dalam menjalankan tugas saya menemukan keterlibatan teman Bapak Presiden, sahabat Bapak, atau pembantu Bapak, apa yang akan Bapak Presiden lakukan?” tanya Hendarman Supandji tanpa basa-basi. “Silakan jalan terus. Saya tidak akan pernah intervensi,” jawab Presiden singkat. Kalimat itulah yang terus dipegang  oleh Hendarman Supandji dalam menjalankan tugasnya.
________________________________________________________________________________________

CURRICULUM VITAE

Nama                                : HENDARMAN SUPANDJI, SH.
Tempat, Tanggal Lahir  : Klaten, 6 Januari 1947

Pendidikan
•    Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, 1972
•    Pendidikan dan Pembentukan Jaksa (PPJ)
•    Notariat Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Karier

  • Jaksa pada Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat, 1979 -1981
  • Staf Pusat Operasi Intelijen Kejaksaan Agung, 1982-1983
  • Diperbantukan pada Badan Koordinasi Instruksi Presiden untuk masalah narkotika
  • Diperbantukan di Botasupal Bakin, 1984-1985.
  • Kepala Seksi Penanggulangan Tindak Pidana Umum intelijen Kejaksaan Agung, 1985-1990
  • Atase Kejaksaan di KBRI Bangkok, 1990-1995
  • Kepala Pusdiklat Kejaksaan Agung, 1995-1996
  • Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara di Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, 1996-1997
  • Staf khusus Jaksa Agung, 1998
  • Kepala Biro Keuangan Kejaksaan Agung, 1998-2002
  • Kepala Kejaksaan Tinggi DI. Yogyakarta
  • Sekretaris Jaksa Agung Muda Pengawasan
  • Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus 25 April, 2005 – 2007
  • Ketua Timtas Tipikor 2005 – 2007
  • Jaksa Agung Republik Indonesia Mei 2007 s/d sekarang.

Sumber: http://www.kejaksaan.go.id/

Alhamdulillah, Maradona Tidak Jadi Bugil


Diego Armando Maradona, pelatih tim Argentina berjanji akan lari dalam keadaan bugil bila tim Argentina berhasil sebagai Juara Piala Dunia 2010. Namun, langkah tim Tango itu dihentikan oleh tim Panser dengan sekor telak 4-0.

Nah, Maradona jadi pusing. Langkah Argentina hanya sampai pada perempat final. Atau, pusing karena tidak jadi “lari bugil’? Ada-ada saja! Janji untuk motivasi dan pesta keberhasilan sah-sah saja, tapi kalau keberhasilan dibalas dengan “lari bugil”, apa kata dunia?

Riwayat Bung Karno Beserta Keluarga


Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika..

Dokumen yang siap diunduh ini memuat riwayat Soekarno (Presiden I RI) beserta 15 keluarga sebagai berikut:

  1. Soekarno
  2. R. Soekeni Sosrodihardjo (Ayah)
  3. Ida Ayu Nyoman Rai  (Ibu)
  4. Raden Soekarmini (Kakak)
  5. Fatmawati (Istri)
  6. Hartini Soekarno  (Istri)
  7. Inggit Garnasih (Istri)
  8. Ratna Sari Dewi Soekarno (Istri)
  9. Siti Oetari (Istri)
  10. Sukmawati Sukarnoputri (Anak)
  11. Diah Pramana Rachmawati Soekarno (Anak)
  12. Mohammad Guruh Irianto (Anak)
  13. Karina Kartika Sari Dewi Soekarno (Anak)
  14. Megawati Sukarno Putri (Anak)
  15. Lettu (Penerbang) Surindro (Suami Ke-1 Megawati)
  16. Taufiq Kiemas (Suami Ke-2 Megawati)

Dokumen

Download Teks Pidato Bung Karno tanggal 17-8-1945

%d blogger menyukai ini: