11 Salah Kaprah pada Pramuka


pramuka_pancasila_NKRI_kwarcab kediri-kwarda jatimBanyak yang gagal paham tentang pengertian Pramuka dan Gerakan Pramuka. Juga, Kursus Mahir Dasar, Mars Pramuka, Himne Pramuka. Berikut 11 salah kaprah yang berhasil saya himpun.

1. HUT Pramuka
Berdasar Keputusan Munas Gerakan Pramuka Nomor 11 Tahun 2013 tentang AD dan ART Gerakan Pramuka disebutkan pada Pasal 1 ayat (5) Hari Pramuka tanggal 14 Agustus.
Jadi, yang benar, adalah Hari Pramuka. Dalam Gerakan Pramuka tidak dikenal Hari Ulang Tahun Pramuka” juga tidak dikenal istilah “Hari Ulang Tahun Gerakan Pramuka.”

2. Ketua Regu
Penyebutan Ketua Barung, ketua Regu, Ketua Sangga adalah salah kaprah. Dalam berbagai peraturan pada Gerakan Pramuka, penyebutan yang benar adalah Pemimpin Barung, Pemimpin Regu, Pemimpin Sangga. Kalu ada ketua memberi makna yang lain adalah anak buah tetapi dengan kedudukan Pemimpin, antara pemimpin dan lainnya memiliki derajat sama dalam hal belajar dan berlatih. Maka, Pemimpin Regu perlu bergantian.

3. Tingkatan Pramuka
Salah kaprah ini muncul biasanya untuk maksud menyebut Siaga, Penggalang, Penegak, Pandega (peserta didik). Dalam GP, peserta didik S/G/T/D itu namanya golongan yang diadasarkan pada usia: Siaga 7-10 tahun, Penggalang 11-15 tahun, Penegak 16-20 tahun, Pandega 21-25 tahun. Maka, yang benar adalah Golongan Siaga, Golongan Penggalang, Golongan Penegak, Golongan Pandega.

4. Himne pramuka
Himne yang biasa kita nyanyikan dengan judul Satya Darma Pramuka ini adalah himne untuk organisasi (Gerakan Pramuka) bukan untuk pramuka (anggota GP).
AD dan ART GP 2013, Pasal 51 ayat (1) menyebutkan Himne Gerakan Pramuka adalah lagu Satya Darma Pramuka yang diciptakan oleh Husein Mutahar.
Maka ada tiga istilah yang benar (a) Himne Gerakan Pramuka (b) Himne Satya Darma Pramuka, dan (c) Lagu Satya Darma Pramuka.

5. Mars Pramuka
Sama halnya dengan Himne Gerakan Pramuka, salah kaprah juga terjadi dengan menyebut Mars Pramuka.
Pada AD dan ART GP 2013, Pasal 51 ayat (2) menyebutkan Mars Gerakan Pramuka adalah lagu Jayalah Pramuka yang diciptakan oleh Munatsir Amin.
Maka ada tiga istilah yang benar (a) Mars Gerakan Pramuka (b) Mars Jayalah Pramuka atau (c) Lagu Jayalah Pramuka.

6. Hari Tunas
Salah kaprah ini terjadi untuk menyebut Hari Tunas Gerakan Pramuka yang jatuh tanggal 9 Maret. Makna tunas dengan tunas gerakan pramuka berbeda.
Tunas itu memiliki arti umbuhan muda yang baru timbul atau bakal cabang (ranting) yang baru mulai tumbuh. Sedangkan tunas gerakan pramuka, memuat nilai anak atau pemuda sebagai generasi bangsa yang dilahirkan oleh Gerakan Pramuka. Ia memiliki satya dan darma selaku warga negara dan warga masyarakat untuk berkarya bagi bagsa. Maka, istilah yang benar adalah Hari Tunas Gerakan Pramuka bukan Hari Tunas.

7. Kursus Mahir Dasar
Gerakan Pramuka mempunyai tugas menyelenggarakan pendidikan untuk meningkatkan kualitas anggota muda (peserta didik) maupun anggota dewasa dewasa.
Salah satu anggota dewasa adalah Pembina Pramuka yang bertugas melakukan proses pembinaan dan pendidikan kepramukaan bagi anggota muda. Untuk meningkatkan kualitas Pembina Pramuka, Gerakan Pramuka menyelenggarakan kursus bagi pembina pramuka. Ada dua tingkatan dalam kursus ini yaitu tingkat dasar dan tingkat lanjutan.
Maka istilah yang benar adalah Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) dan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Lanjutan (KML). Setelah mengikuti KMD atau KML, peserta mendapatkan ijazah sebagai pengakuan formal kemahiran.

8. Anggota Pramuka dan Gerakan Pramuka
UU 12/2010 tentang Gerakan Pramuka, Pasal 1 menyebutkan ayat (1) Gerakan Pramuka adalah organisasi yang dibentuk oleh pramuka untuk menyelenggarakan pendidikan kepramukaan; ayat (2). Pramuka adalah warga negara Indonesia yang aktif dalam pendidikan kepramukaan serta mengamalkan Satya Pramuka dan Darma Pramuka.
Nah, jadi jelas, yang memiliki anggota itu adalah organisasi. Organisasi bagi pramuka adalah Gerakan Pramuka maka istilah yang benar adalah Anggota Gerakan Pramuka.
Biasanya munculnya istilah itu seperti dalam kalimat berikut: Kita sebagai anggota pramuka … . Kalimat ini perlu diperbaiki menjadi (a) Kita sebagai Pramuka … atau (b) Kita sebagai anggota Gerakan Pramuka . . . .

9. Mengheningkan cipta mengenang arwah pahlalawan
Di dalam upacara bendera atau upacara selain upacara bendera sering ada kegiatan mengheningkan cipta yang dipimpin oleh Pembina Upacara. Pembina Upacara ada yang memberi kalimat pengantar ada juga yang tanpa kalimat pengantar.
Nah kalimat pengantar yang sering kita dengar seperti berikut: Untuk mengenang arwah pahlawan yangtelah gugur mendahului kita, mengheningkan cipta…mulai.
Mengenag itu bermakna “membangkitkan kembali dalam ingatan; mengingat-ingat; membayangkan” sesuatu yang pernah terjadi. Dalam hal mengheningkan cipta pada upacara, mengheningkan cipta memiliki maksud “membangkitkan kembali ingatan tentang perjuangan, peran serta, pengorbanan seseorang” bukan “membangkitkan kembali ingatan tentang perjuangan, peran serta, pengorbanan arwah.”
Jadi, kalimat pengantar harus kita perbaiki menjadi “ Untuk mengenang jasa …” bukan untuk mengenang arwah…”

10. Persiapan pasukan
Istilah dalam Gerakan Pramuka semuanya memiliki maksud dan tujuan serta nilai sejarah perjuangan bangsa. Isitilah Pasukan dalam Gerakan Pramuka adalah untuk menyebut kelompok besar pramuka penggalang yang terdiri dari empat regu. Pada saat upacara kepramukaan dengan peserta anggota muda GP (S, G,T,D) dan anggota dewasa GP maka penggunaan istilah “pasukan” tidaklah tepat karena selain ada pasukan, juga ada perindukan, Ambalan, Racana, dan barisan orang dewasa.
Jadi istilah yang tepat adalah “persiapan barisan”

11. Badan Eksekutif Pasukan Penggalang
Salah kaprah yang terakhir ini bahwa istilah Badan Eksekutif Pasukan Penggalang tidak dikenal dalam Gerakan Pramuka. Sepertinya, Badan ini dibentuk dengan tugas mirip seperti tugas Dewan Penggalang.
Dewan Penggalang merupakan wadah untuk pendidikan kepemimpinan dalam pasukan Pramuka Penggalang atau disebut secara singkat Dewan Penggalang, atau Dewan Galang. Anggota Dewan Galang adalah pemimpin regu, wakil pemimpin regu, pemimpin regu utama, pembina pramuka penggalang, dan pembantu pembina pramuka penggalang.

Salah kaprah yang luar biasa parah adalah jika dalam pasukan ada Badan Eksekutif Pasukan Penggalang dan ada Dewan Galang, bagaimana tugas pokok fungsi (tupoksi) keduanya?
Tapi, jika dalam pasukan penggalang itu hanya ada Badan Eksekutif Pasukan Penggalang dan tidak ada Dewan Galang maka salah kaprah ini mudah diatasi yakni dengan jalan mengubah nama menjadi Dewan Galang dan tupoksinya mengikuti petunjuk yang ada dalam Gerakan Pramuka.

Yang perlu kita perhatikan adalah Gerakan pramuka bertujuan untuk membentuk setiap pramuka agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup (UU 12/2010, Pasal 4).
Kesimpulannya, tidak perlu ada “Badan Eksekutif Pasukan Penggalang” karena tidak ada dasar petunjuk dalam Gerakan Pramuka.Bahkan untuk meningkatkan nilai kepemimpinan dan kesadaran akan rasa tanggung jawab, sudah petunjuk perlu adanya Dewan Kehormatan Pasukan Penggalang.
Mari kita jalankan tugas pendidikan kepramukaan sesuai dengan petunjuk penyelenggaraan yang ada.

Salam semangat bakti : Mari biasakan yang benar bukan tidak membenarkan yang biasa. Pramuka Perekat NKRI

Salam Pramuka!

#kwarnasGerakanPramuka
#pusdiklanasGerakanPramuka
#kwardajatim
#kwarcabkediri

Mulai 2019 NISN Dihapus


kartu nisnMuhadjir Effendy Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengatakan, mulai tahun ini tidak ada lagi Nomor Induk Siswa Nasional (NISN), tetapi diganti dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK).

“Itu mudah tinggal diubah saja, kan datanya sudah ada di sekolah. Tinggal dicek, termasuk di daerah mana, tinggal di mana, keluarganya siapa. Saya kira secara teknis tidak ada kesulitan gitu hanya kita perlu menselaraskan datanya saja,” ujar Mendikbud usai bertemu dengan Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakhrulloh di Jakarta, dilansir Antara Selasa (22/1/2019).

Dengan dijadikannya NIK sebagai pengganti NISN, maka akan mempermudah pendataan anak-anak yang masuk dalam usia sekolah. Dalam hal ini peranan pendidikan nonformal menjadi strategis bukan lagi pelengkap tapi memiliki peran utama.

“Terutama untuk memberikan kesempatan pada peserta didik, yang dengan alasan tertentu tidak dapat masuk ke jalur formal. Sehingga nanti target kita dengan disatukannya data yang ada di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dengan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), maka wajib belajar dapat terwujud,” tambahnya.

Mendikbud menjelaskan, pihaknya didukung oleh Kemendagri terutama dalam mengatur sistem penerimaan siswa baru. Melalui kerja sama itu, jika sebelumnya orang tua yang mendaftarkan anaknya maka sekarang justru sekolah bersama aparat desa yang mendata anak untuk masuk ke sekolah.

Zudan Arif Fakhrulloh Dirjen Dukcapil Kemendagri mengatakan dengan NIK dapat mengetahui anak-anak yang putus sekolah. Sehingga Mendikbud bisa memerintahkan dinas pendidikan daerah untuk mengecek kondisi anak tersebut.

“Kalau ternyata tidak punya biaya untuk sekolah, kita bisa mengurusnya dan memberikan Kartu Indonesia Pintar (KIP),” kata Zudan. (ant/wil)

Sumber: http: //kelanakota.suarasurabaya.net/news/2019/215696-Mendikbud:-Tidak-Ada-Lagi-Nomor-Induk-Siswa-Nasional

Devi Novita Sari Pramuka Penegak Kediri ke Korea Selatan


Devi Novita Sari bersama Kak Ichsan Pengurus Kwarcab Kediri (kiri) dan Kak AR Purmadi Waka Kwarda Jatim

DEVI NOVITA SARI pramuka penegak dari Pangkalan Gugus Depan SMAN 2 Pare Kab. Kediri mendapatkan kesempatan studi banding ke Korea Selatan.

Kesempatan berkunjung ke Korea Selatan diperoleh Devi Novita Sari sebagai hadiah atas prestasi yang diraih  dalam Festival Wirakarya Kampung Kelir tahun 2017 yang diselenggarakan Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur.

Devi Novita Sari bersama Kak Ichsan

Festival yang diselenggarakan atas kerja sama Kwarda Jatim dan Jawa Pos ini diikuti 11.000 penegak di Jatim yang terbagi dalam 11 zona. Dari 11 zona ini, terpilih 22 putra dan 22 putri terbaik untuk mengikuti putaran final tingkat Kwarda Jatim.

Pada putaran final, panitia menentukan 8 putra dan 8 putri terbaik yang berhak mendapatkan hadiah studi banding ke Korea Selatan tanggal 12 – 18 Oktober 2017.

Devi bersama 15 temannya dilepas oleh Kwarda Jatim dalam suatu upacara tanggal 11 Oktober kemudian tanggal 12 Oktober terbang ke Korea Selatan melalui bandara Juanda Surabaya.

Kisi-kisi UN 2016 SMP/MTs/SMA/SMK/MA/Paket B dan C


Berikut kisi-kisi Ujian Nasional (Unas) 2015/2016 yang siap diunduh untuk persiapan prediksi soal UN. Dengan kisi-kisi, dapat disiapkan contoh soal sebagai try out UN.

  1. Peraturan Badan Standar Nasional Pendidikan Nomor 0035/P/BSNP/IX/2015 tentang Kisi-Kisi Soal Ujian Nasional untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (Peraturan BSNP Kisi-kisi UN Dasar Menengah 2015-2016);
  2. Kisi-Kisi Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Tahun Pelajaran 2015/2016 (KISI-KISI UJIAN NASIONAL 2016 SMP);
  3. Kisi-Kisi Ujian Nasional Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah/Sekolah Menengah Teologi Kristen/Sekolah Menengah Agama Katolik Tahun Pelajaran 2015/2016 (KISI-KISI UJIAN NASIONAL 2016 SMA);
  4. Kisi-Kisi Ujian Nasional Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan Tahun Pelajaran 2015/2016 (KISI-KISI UJIAN NASIONAL 2016 SMK);
  5. Kisi-Kisi Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan Tahun Pelajaran 2015/2016 (Kisi Kisi Ujian Nasional Paket B & C).

Untuk mulai medownload kisi-kisi, silakan klik di sini. Semoga bermanfaat!

Gambar Model Seragam Sekolah, Topi, Atribud


Berikut gambar lengkap kelengkapan seragam nasional sesuai Permendikbud 45/2014 tentang Pakaian Seragam
Sekolah bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah;

Unduh Permendikbud 45/2014 klik di sini

atribud badge dan lokasi seragam sekolah model dasi sd smp sma smk model topi seragam sekolah sd smp sma smk seragam sd seragam SMA SMK seragam smp

Peraturan Seragam Sekolah


Apa tujuan seragam sekola? Bagaimana model, macam, jenis, dan warna seragama sekolah sesuai peraturan yang beralku?

Seragam sekolah jenjang SD, SMP, SMA, SMK diatur berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 45 Tahun 2014, tentang Pakaian Seragam Sekolah bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah.

Tujuan

Tujuan penetapan pakaian seragam sekolah sebagaimana ketentuan Pasal 2 Permendikbud Nomor 45 Tahun 2014 adalah:
a. menanamkan dan menumbuhkan rasa nasionalisme, kebersamaan, serta memperkuat persaudaraan sehingga dapat menumbuhkan semangat kesatuan dan persatuan di kalangan peserta didik;
b. meningkatkan rasa kesetaraan tanpa memandang kesenjangan sosial ekonomi orangtua/wali peserta didik;
c. meningkatkan disiplin dan tanggungjawab peserta didik serta kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku; dan
d. menjadi acuan bagi sekolah dalam menyusun tata tertib dan disiplin peserta didik khususnya yang mengatur pakaian seragam sekolah.

Macam, Jenis, dan Warna Pakaian Seragam Sekolah (Pasal 3 Permendikbud 45/2014)

(1) Pakaian seragam sekolah terdiri dari:
a. Pakaian seragam nasional;
b. Pakaian seragam kepramukaan; atau
c. Pakaian seragam khas sekolah.
(2) Jenis pakaian seragam sekolah terdiri dari:
a. Pakaian seragam sekolah untuk peserta didik putra;
b. Pakaian seragam sekolah untuk peserta didik putri.
(3) Warna pakaian seragam nasional untuk:
a. SD/SDLB: kemeja putih, celana/rok warna merah hati;
b. SMP/SMPLB: kemeja putih, celana/rok warna biru tua;
c. SMA/SMALB/SMK/SMKLB: kemeja putih, celana/rok warna abu-abu.

Atribut  (Lampiran I Permendikbud 45/2014)
a. Badge dijahitkan pada saku kemeja;
b. Badge merah putih dijahitkan pada atas saku kemeja;
c. Badge nama peserta didik dijahitkan pada kemeja bagian dada sebelah kanan;
d. Badge nama sekolah dan nama kabupaten/kota dijahitkan pada lengan kemeja sebelah kanan.

Pengadaan (Pasal 4 Permendikbud 45/2014)

(1) Pengadaan pakaian seragam sekolah diusahakan sendiri oleh orangtua atau wali peserta didik.
(2) Pengadaan pakaian seragam sekolah tidak boleh dikaitkan dengan pelaksanaan penerimaan peserta didik baru atau kenaikan kelas.

Penggunaan (Pasal 4 Permendikbud 45/2014)

(1) Pakaian seragam nasional dikenakan pada hari Senin, Selasa, dan pada hari lain saat pelaksanaan Upacara Bendera.
(2) Pada saat Upacara Bendera dilengkapi topi pet dan dasi sesuai warna seragam masing-masing jenjang sekolah, dilengkapi dengan logo tut wuri handayani di bagian depan topi.
(3) Selain hari sebagaimana dimaksud pada ayat (1) peserta didik dapat mengenakan pakaian seragam kepramukaan atau pakaian seragam khas sekolah yang diatur oleh masing-masing sekolah.

Unduh Permendikbud 45/2014 klik di sini

Juknis BOS 2015


Juknis BOS 2015 SD/SMP/SMA/SMK, dan MI/MTs/MA berikut siap diunduh. Besar Dana BOS 2015 naik dibanding 2014, baik untuk SD maupun SMP. Juga bayak murid yang dijadikan dasar minimal penerimaan.

BOS 2014

a. SD/SDLB : Rp 580.000,-/peserta didik/tahun
b. SMP/SMPLB/SMPT/Satap : Rp 710.000,-/peserta didik/tahun

Sekolah dengan jumlah peserta didik minimal 80 (SD/SDLB) dan
120 (SMP/SMPLB/Satap). Artinya, SD/SDLB yang memiliki murid kurang dari 80 tetap menerima dana BOS sebanyak 80 siswa. Demikian juga pada SMP/SMPLB/Satap, sedikitnya akan menerima dana BOS sebanyak 120 siswa.

BOS 2015

Berdasarkan Peraturan  Menteri  Pendidikan  dan  Kebudayaan Nomor 161 Tahun 2014 tentang Juknis BOS 2015, dijelaskan sebagai berikut.

Sekolah dengan jumlah peserta didik minimal 60, baik untuk SD/SDLB maupun SMP/SMPLB/Satap BOS yang diterima oleh sekolah, dihitung berdasarkan jumlah peserta didik dengan ketentuan:
a. SD/SDLB : Rp 800.000,-/peserta didik/tahun

b. SMP/SMPLB/SMPT/Satap  :  Rp  1.000.000,-/peserta didik/tahun

Bagi sekolah setingkat SD dan SMP dengan jumlah peserta didik kurang dari 60 akan diberikan dana BOS sebanyak 60 peserta didik.

Bahan Unduhan

Petunjuk Teknis BOS Dikbud Tahun 2015

Surat Pembentukan Tim BOS Tahun 2015

Bahan Pelatihan Juknis BOS Tahun 2015

Juknis BOS 2015 MA

Juknis BOS 2015 MI, MTs

Pola PPGJ (PLPG) 2015


Mulai tahun 2015, program PLPG berganti Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan (PPGJ). Sertifikasi guru melalui PPGJ ini menggunakan pola Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Pola pelaksanaan PPGJ

Semua guru calon peserta sertifikasi guru melalui PPGJ yang telah memenuhi persyaratan administrasi diikutkan dalam seleksi akademik berbasis data hasil Uji Kompetensi (UKA dan UKG).
Bagi peserta yang lulus seleksi akademik dilanjutkan dengan penyusunan RPL.

  1. rekognisi pembelajaran lampau (RPL),
  2. workshop/pelatihan di LPTK 16 hari, dan
  3. Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) di sekolah (tempat tugas sehari-hari) selama 2 (dua) bulan,
  4. ujian akhir dilaksanakan di sekolah.

Kegiatan Workshop

Workshop dilaksanakan selama 16 hari (168 JP) di LPTK meliputi kegiatan pendalaman materi, pengembangan perangkat pembelajaran, Penelitian Tindakan Kelas (PTK)/Penelitian Tindakan layanan Bimbingan dan Konseling (PTBK) dan peer teaching/peer counceling yang diakhiri dengan ujian tulis formatif (UTF) dengan instrumen yang disusun oleh LPTK penyelenggara. Peserta sertifikasi guru melalui PPGJ yang lulus UTF akan dilanjutkan dengan melaksanakan Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) di sekolah tempat guru bertugas.

  • Bagi peserta sertifikasi guru melalui PPGJ yang tidak lulus UTF, diberi kesempatan mengikuti UTF ulang maksimum 2 (dua) kali dan apabila tidak lulus setelah 2 (dua) kali mengikuti ujian ulang, dikembalikan ke dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota untuk memperoleh pembinaan dan dapat langsung diusulkan kembali untuk mengikuti workshop pada tahun berikutnya.

Kegiatan PKM

PKM dilaksanakan di sekolah selama 2 bulan (di luar libur antarsemester) dengan kegiatan-kegiatan sesuai tugas pokok guru yang meliputi penyusunan perangkat pembelajaran (RPP/RPPBK), melaksanakan proses pembelajaran/layanan konseling/layanan TIK, implementasi PTK/PTBK, melaksanakan penilaian, pembimbingan, dan kegiatan persekolahan lainnya.

Peserta PKM wajib melaksanakan dan membuat laporan PTK/PTBK sesuai dengan format dan waktu yang ditentukan dan disahkan oleh kepala sekolah dan dipublikasikan di perpustakaan/ruang baca sekolah.

Uji kinerja dilaksanakan di akhir PKM oleh Asesor LPTK. Peserta yang belum lulus ujian kinerja, diberikan kesempatan menempuh ujian ulang maksimum 2 (dua) kali.

Ujian Tulis Nasional (UTN) dilaksanakan secara on-line dan untuk
daerah tertentu secara off-line.

Kelulusan PPGJ

  • Peserta sertifikasi guru melalui PPGJ yang lulus uji kinerja dan UTN akan memperoleh sertifikat pendidik,
  • sedangkan peserta yang belum lulus, diberi kesempatan mengulang sebanyak 2 (dua) kali untuk ujian yang belum memenuhi syarat kelulusan. Bagi peserta yang tidak lulus pada ujian ulang kedua, peserta dikembalikan ke dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota untuk memperoleh pembinaan dan dapat diusulkan mengikuti PKM tahun berikutnya.

Sumber Rujukan: Buku 1 Pedoman Penetapan Peserta Sertifikasi Guru melalui Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan Tahun 2015

Buku Pedoman PPGJ 2015 dapat diunduh di sini.

Tantangan dan Tujuan Kurikulum 2014


Berdasarkan Permendikbud 67/2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SD/MI bahwa Kurikulum 2013 (K-13) mulai diberlakukan pada  tahun  ajaran  2013/2014. K-13 ini diberlakukan untuk memenuhi dua dimensi kurikulum, yaitu pertama adalah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yang kedua adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Dua dimensi ini sebagaimana rumusan pengertian kurikulum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Tantangan dan tujuan K-13 sebagaimana diuraikan dalam Permendikbud 67/2013 adalah sebagai berikut.

Tantangan Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan faktor-faktor: tantangan internal dan eksternal, Penyempurnaan Pola Pikir, Penguatan Tata Kelola Kurikulumm dan Penguatan Materi.

a. Tantangan Internal

Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.
Tantangan internal lainnya terkait dengan perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. Saat ini jumlah penduduk Indonesia usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari usia tidak produktif (anak-anak berusia 0-14 tahun dan orang tua berusia 65 tahun ke atas). Jumlah penduduk usia produktif ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2035 pada saat angkanya mencapai 70%. Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar sumberdaya manusia usia produktif yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban. 

b. Tantangan Eksternal

Tantangan eksternal antara lain terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif dan budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional. Arus globalisasi akan menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern seperti dapat terlihat di World Trade Organization (WTO), Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Community, Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), dan ASEAN Free Trade Area (AFTA). Tantangan eksternal juga terkait dengan pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas teknosains serta mutu, investasi, dan transformasi bidang pendidikan. Keikutsertaan Indonesia di dalam studi International Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Program for International Student Assessment (PISA) sejak tahun 1999 juga menunjukkan bahwa capaian anak-anak Indonesia tidak menggembirakan dalam beberapa kali laporan yang dikeluarkan TIMSS dan PISA. Hal ini disebabkan antara lain banyaknya materi uji yang ditanyakan di TIMSS dan PISA tidak terdapat dalam kurikulum Indonesia.

Tujuan Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.

 

 

Buku Kurikulum 2013 MI/MTs/MA


Berikut buku K-13 yang siap diunduh. Buku-buku PAI dan Bahasa Arab yang siap di-download berikut untuk jenjang Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah adalah buku Guru juga buku Siswa.

Madrasah Aliyah

 

Madrasah Tsnawiyah

 

 

Madrasah Ibtidaiyah

Kelas I

 

Kelas IV

 

Jika tautan-tautan di atas bermasalah, silakan coba pilih buku dimaksud pada sumber http://pendis.kemenag.go.id/

 

Detik-detik Kelud Meletus 2014


Gunung Kelud di Kediri Jawa Timur meletus pada Kamis, 13 Februari 2014 pukul 22.50 Wib. Semburan asap dan material vulkanik mencapai ketinggian 3000 meter.

Gunung Kelud adalah gunung vulkanik terakhir meletus pada November 2007. Gunung ini diketahui aktif 7 tahun kemudian, tepatnya pada Januari 2014.

“Aktivitas terakhir terjadi pada tahun 2007 diawali dengan peningkatan aktivitas kegempaan dan diakhiri dengan erupsi efusif (peristiwa keluarnya magma dalam bentuk lelehan lava, red) pada tanggal 3-4 November 2007 berupa kubah lava di tengah danau kawah,” demikian kata Pusat ulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sepertidari laman PVMBG, Jumat (14/2/2014).

Proses terjadinya anak gunung Kelud

Gunung Kelud berbentuk strato, secara administratif terletak di tiga Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur dan secara geografis terletak pada posisi 7º 56’ 00” LS, 112º 18’ 30” BT dengan ketinggian puncak 1.731 meter di atas permukaan laut.

Berikut kronologi aktifnya Gunung Kelud hingga meletus pada 2014:

Januari 2014. 

  • Terjadi peningkatan jumlah kegempaan di Gunung Kelud yang didominasi oleh Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Vulkanik Dalam (VA).
  • Gempa vulanik dalam meningkat sejak tanggal 15 Januari 2014 dengan kisaran 22-157 kejadian per hari atau rata-rata harian 90 kejadian.

Tanggal 27

  • Gempa vulkanik dangkal teramati meningkat signifikan dalam kisaran 13-90 kejadian per hari atau rata-rata 37 kejadian/hari.

Tanggal 2 Februari 2014

  • Berdasarkan peningkatan kegempaan vulkanik yang cukup signifikan tersebut, status Gunung Kelud dinaikkan dari Normal (Level I) menjadi Waspada (Level II).
  • Kegempaan didominasi oleh Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Vulkanik Dalam (VA).

Tanggal 5-8 Februari 2014

  • Teramati adanya peningkatan energi sejak tanggal 6 Februari.
  • Gempa tersebar di sekitar Gunung Kelud, dengan kedalaman di bawah 5 km, dari bawah puncak dan umumnya terkonsentrasi pada kedalaman 1,5 km sampai 2,5 km.

Tanggal 9 Februari 2014

  • Terjadi peningkatan energi di mana amplitudo (simpangan yang paling jauh pada getaran, red) gempa-gempa vulkanik relatif membesar dan jumlah yang meningkat. Kalkulasi hiposenter gempa-gempa Vulkanik memperlihatkan sebaran gempa di sekitar Gunung Kelud dengan kedalaman mencapai 3 km di bawah puncak.

Tanggal 13 Februari 2014

  • Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya Gunung Kelud, pukul 21.15 WIB status kegiatan Gunung Kelud dinaikkan dari SIAGA (level III) menjadi AWAS (level IV).Masyarakat di sekitar Gunung Kelud dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dan mendekati kawah dan yang ada di puncak Gunung Kelud dalam radius 10 km dari kawah aktif.

Detik-detik letusan Kelud Kamis, 13 Februari 2014.

  1.  pkl. 22.55
  2. pkl. 23.00
  3. pkl. 23.23
  4. pkl. 23.29 terjadi letusan besar
  5. pkl. 23.36 hujan batu sampai ke Pare
  6. pkl. 23.41 Hujan krikil sampai ke Wates dan Pesantren Kota Kediri
  7. pkl. 23. 55 hujan krikil sampai di SLG
  8. pkl. 00.05 hujan krikil sampai ke pace nganjuk
  9. pkl. 22.50 petugas vulkanologi meninggalkan pos kelud saat letusan ke 3
  10. pkl. 01.10 pengungsi dari Trisulo dan Sugihwaras sebanyak 2 truk diungsikan ke posko Utama Convention Center SLG
  11. Semburan atau letusan mencapai ketinggian 17 km atau 50.000 kaki yang terjadi pada pukul 23.23 hari kamis tgl 13 februari 2014, kata bapak Gede Swantika, Ini Merupakan Letusan Gunung Kelud Terdasyat Dibandingkan Th. 1990 .

Sumber berita dan gambar: www.kedirikab.go.id

 

Tim Khusus untuk Tuntaskan Honorer


Mendikbud akan membentuk tim khusus bersama PGRI untuk mengatasi masalah honorer. Rencana ini disampaikan Mendikbud Moh. Nuh pada acara audensi dengan PGRI tanggal 1 Mei 2013 di ruang rapat Gedung A lantai 2 Kemdikbud, Jakarta.

Menanggapi aspirasi seorang guru mengenai status guru honorer yang masih banyak di daerah-daerah, Mendikbud memutuskan untuk membentuk tim khusus yang akan bekerja sama mengatasi permasalahan status guru honorer. Tim tersebut terdiri dari perwakilan Kemdikbud, dan perwakilan dari PGRI. Perwakilan dari Kemdikbud akan dikoordinir Kepala Badan Pengembangan SDM Pendidikan dan Kebudayaan, Syawal Gultom, sedangkan perwakilan dari PGRI dikoordinir Ketua PGRI, Sulistiyo.

“Kalau perlu SK, akan di-SK-kan sehingga memiliki kekuatan hukum,” ujar Mendikbub. Dibentuknya tim khusus ini supaya permasalahan mengenai status guru honorer bisa cepat selesai. Mendikbud menambahkan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Azwar Abubakar, juga memiliki semangat yang sama mengenai penyelesaian status guru honorer. (Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/berita/1296)

Rencana kebijakan ini jelas sebagai berita gembira bagi para pendidik honorer yang belum masuk K-2. Semangat pengabdian tenaga honorer layak untuk diapresiasi. Banyak tenaga honorer yang memiliki semangat keihklasan yang luar biasa, tentu juga ada yang bekerja tidak tulus.

Walaupun masih wacana, kita berharap, semoga rencana itu segera diwujudkan. Untuk ini, menurut saya, tenaga honorer dan PGRI perlu ada upaya positif :

  1. Tenaga honorer. Tenaga honorer perlu memiliki kualifikasi sesuai standar, yakni memiliki ijazah yang relevan dengan bidang tugas yang diampu. 
  2. PGRI. Sebagai organisasi para guru, perlu terus melakukan pendekatan kepada Mendikbud dan mendesak untuk sesegera mungkin mewujudkan pembentukn tim khusus secara legal, yakni ditetapkan dalam produk hukum (SK). Di sisi yang lain, PGRI juga harus meningkatkan para anggotanya sehingga memiliki kompetensi dan profesionalitas.

Semangat terus rekan honorer, maju terus PGRI!

Data Guru PAI Pelatihan Kurikulum 2013


Sebanyak 46.405 guru PAI disiapkan mengikuti diklat Kurikulum 2013. Guru PAI ini berasal dari SD, SMP, SMA dan SMK yang akan dilatih oleh Kementerian Agama. Pelatihan ini bertujuan untuk mendukung suksesnya pelaksanaan Kurikulum PAI 2013 di sekolah yang akan diberlakukan pada tahun pelajaran 2013/2014.

Kurikulum 2013 akan dilaksanakan pada tahun pelajaran 2013/2014 untuk Kelas 1 dan 4 tingkat SD, Kelas 7 tingkat SMP dan Kelas 10 tingkat SMA dan SMK.

Sesuai dengan rencana yang dibuat oleh Direktorat PAIS, tahun 2013 ini, Sosialisasi Kurikulum 2013 akan diikuti oleh 46.405 guru PAI pada sekolah, dengan rincian

Guru PAI SD = 22.135

Guru PAI SMP = 12.135

Guru PAI SMA dan SMK = 12.135

Jumlah tersebut baru sekitar 20-an persen dari jumlah guru PAIyang ada sebanyak 200.254 orang.

Sumber: http://pendis.kemenag.go.id/kerangka/pais.htm

 

Data Pelaksanaan Kurikulum Baru Tahun 2013


Kurikulum baru akan diterapkan pada sekolah tertentu dan kelas tertentu sesuai dengan mekanisme pemilihan sekolah. Sekolah yang memenuhi syarat, akan melaksankan Kurikulum 2013 yang menggunakan model tematik. Untuk pelaksanaan ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyiapkan berbagai sarana pendukung.

 Jumlah Sekolah dan Siswa Pelaksana Kurikulum 2013

  • SD = 44.609 sekolah
  • SMP = 36.434 sekolah dengan jumlah siswa kelas VII sebanyak 3.250.717.
  • SMA = 11.535 sekolah dengan jumlah siswa kelas X sebanyak 1. 420.933.
  • SMK = 9.875 sekolah dengan jumlah siswa kelas X sebanyak 1.131.549.

Jenjang Sekolah Dasar

Berikut data berkaitan dengan pelaksanaan Kurikulum 2013 Tahap I (2013/2014) pada jenjang SD yang menggunakan basis data pada data pokok pendidikan.

Kiteria pemilihan sekolah

1. Level  akreditasi = akreditasi A dan B

2. ketenagaan dan sumber daya manusia di sekolah tersebut harus lengkap. Di SD, ada enam guru kelas, satu kepala sekolah, guru agama, dan guru pendidikan jasmani dan kesehatan (penjaskes).

3.  Kriteria sarana dan prasarana = sarana dan prasarananya memadai

4. Sekolah pelaksana kurikulum 2013 = 44.609 (30 persen dari 148.695 SD)

5. Kriteria sekolah pelaksana:

  • SD negeri 90 dan swasta 10 persen
  • Level akreditasi = akreditasi A dan B
  • Kelas = kelas 1 dan 4

6. Buku tematik = tersedia 28.779.198 eksemplar, dengan rincian perhitungan:

  • 8 buku tematik siswa untuk kelas 1,
  • 9 buku tematik siswa untuk kelas 4,
  • buku agama kelas 1 dan kelas 4 masing-masing memiliki enam variasi,
  • buku penjaskes kelas 1 dan kelas 4,
  • buku cadangan sebanyak lima persen, dan
  • buku guru.

Contoh penghitungan buku jatah sekolah:

  • Jika sebuah sekolah memiliki 40 siswa kelas 1, maka buku yang disiapkan untuk kelas 1 sekolah tersebut adalah 40 siswa dikali 8 buku tematik, ada 320 buku tema. Ditambah 40 buku agama, 40 buku penjaskes, dan 8 buku guru.
  • Begitu pula dengan kelas 4, jika ada 40 siswa maka buku yang disiapkan adalah 40 siswa dikali 9 buku tematik, yaitu 360 buku. Ditambah 40 buku agama, 40 buku penjaskes, dan sembilan buku guru. Dari total jumlah buku untuk kelas 1 dan kelas 4 sekolah tersebut, ditambah lagi lima persen buku cadangan untuk ditaruh di perpustakaan.

Pelaksanaan pada tahap 2 (tahun 2014), menjangkau kelas 2 dan 5. Dengan begini maka pada tahun pelajaran 2014/2015, kurikulum sudah diterapkan untuk kelas 1, 2, 4, dan 5.

Pelaksanaan pada tahap 3 (tahun 2015), menjangkau kelas 3 dan 6. Sehingga, untuk tahun pelajaran 2015/2016, seluruh kelas di SD sudak melaksanakan Kurikulum 2013.

Sumber: http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita

Tawuran Pelajar: Tersangka Dijerat Pasal Pembunuhan


Aparat Kepolisian Resor Metropolitan (Polrestro) Jakarta Selatan menangkap FR yang diduga sebagai pelaku pembacokan siswa SMAN 6 Bulungan, Alawy Yusianto Putra, 15. FR tertangkap di Jogja.

Tawuran berdarah yang mengakibatkan tewasnya Alawy terjadi saat puluhan pelajar SMAN 70 menyerang SMAN 6 Jakarta di kawasan Bulunganpada Senin (24/9/2012) sekitar pukul 12.00 WIB. Seorang siswa Kelas X SMAN 6, Alawy Yusianto Putra, 15, meninggal dunia akibat dibacok pada bagian dada menggunakan celurit, sedangkan tiga orang lainnya mengalami luka. Alawy sebenarnya tidak terlibat tawuran itu, hanya kebetulan saja ia tengah mencari makan di lokasi itu ketika bentrokan pecah.

Penyidik kepolisian telah menetapkan tersangka terhadap siswa SMAN 70 berinisial FR yang berstatus buron karena diduga sebagai pelaku utama pembacokan terhadap Alawy. FR sempat buron selama empat hari setelah membacok Alawy dan melarikan diri dari kejaran polisi.

Setelah tertangkap di Jogja, FR, tersangka pembacokan murid SMAN 6 Jakarta, Alawy Yusianto Putra, bakal dijerat pasal pembunukan, karena pelaku bukan kategori anak-anak.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Jakarta Selatan AKBP Hermawan mengutarakan bahwa dari investigasi awal FR berusia 19 tahun, sehingga bukan kategori anak-anak. Polisi bakal menjerat murid SMAN 70 itu pasal pidana umum. “Pelaku itu si FR kelahiran 1993. Pelaku artinya sudah bukan anak-anak lagi. Dengan demikian, kami bisa menggunakan pasal KUHP,” ujarnya kepada media di Jakarta, hari ini.

Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak, definisi anak-anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Hermawan memastikan FR yang ditangkap polisi memang murid SMAN 70, seperti yang sudah diberitakan selama ini. FR ditangkap Tim Reskrim Polres Jakarta Selatan semalam di Jogja setelah dalam pelarian selama tiga hari.

FR dituduh melakukan pembunuhan terhadap Alawy saat tawuran antara pelajar SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta. FR kabur setelah melakukan penusukan Alawy pada Senin siang (24/9/2012) di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan. Menurut keterangan kepolisian, FR pernah memiliki catatan kriminal tawuran yang mengakibatkan nyawa melayang. Namun, waktu itu gugatan dari pelapor tanpa ada keterangan yang jelas. Selain itu, FR sempat tinggal kelas dua kali. (Sumber: http://www.solopos.com/2012/09/27/)

Peristiwa tawuran pelajar membuat hati siapa pun sangat prihatin. Dunia pelajar (pemuda) memang penuh warna. Ketika mengalami masalah, seharusnya penyelesainnya tetap dalam batas kepribadian seorang pelajar. Siapa yang salah, kalau pelajar menyelesaikan maslah dengan teman memilih tawuran? Padahal, di sekolah menerima pendidikan etika dan demokrasi?

Tanggung jawab pendidikan adalah pada pemerintah (sekolah), orang tua, dan masyarakat. Meskipun ketiga pilar pembentuk kepribadian itu telah berperan dengan baik, masih ada satu lagi yang pengaruhnya tidak kecil, yakni ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Akibat kemajuan iptek  yang membawa derasnya informasi global pasti akan mengikis kepribadian manakala tidak tersedia filter.

Kita semua harus terus berperan serta memberi sumbangsih pendidikan positif kepada siapa pun: di rumah, di sekolah, di tetangga, dan di tempat kerja. Peran sekecil apapun asal postif sangat berarti bagi masa depan yang lebih cerah.

Semoga berbagai pihak meningkatkan kepedulian untuk memberi teladan, bimbingan, dan pelatihan  sehingga tawuran pelajar dapat dicegah.

 

 

 

%d blogger menyukai ini: