UN 2010: 154.079 Siswa SMA dan SMK Tak Lulus


Sebanyak 154.079 peserta unas SMA, MA, dan SMK 2010 dinyatakan tak lulus. Namun, mereka tetap memiliki kesempatan untuk mengikuti unas ulang tanggal 10-14 Mei.

Angka kelulusan tahun ini hanya 89,88 persen. Persentase ini menurun dibanding tahun lalu yang tingkat kelulusan 93,4 persen.

Dari total 1.522.162 peserta unas tingkat SMA, lebih dari sepuluh persen yang tidak lulus. Menurut Kemendiknas Nuh, pengawasan ketat yang melibatkan tim pengawas independen dan pakta kejujuran ikut berpengaruh kepada tingkat kelulusan. ”Bukan berarti tahun lalu tidak diawasi secara ketat,” katanya.

Nuh mencontohkan, di Gorontalo tingkat kelulusan mencapai 90 persen tahun lalu. Tetapi, tahun ini hanya 53 persen. Selain Gorontalo, ada beberapa daerah yang tingkat kelulusannya menurun secara drastis. Yakni, NTT, Kalimantan Tengah, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Timur.

Rencananya, kata dia, Kemendiknas memetakan masalah itu. ”Apa dan bagaimana meningkatkan kelulusan, setiap sekolah memiliki permasalahan yang berbeda,” terangnya.

Nuh menjelaskan, meski banyak seiswa yang tidak lulus, Kemendiknas memberikan kesempatan seluruh siswa yang tidak lulus untuk mengikuti unas ulang pada 10-14 Mei nanti. ”Mata pelajaran yang diuji dan waktunya sama dengan unas sebelumnya,” paparnya.

Dia mendorong siswa yang tidak lulus unas tidak berkecil hati. Bahkan, dia berharap agar semua sekolah yang siswanya gagal pada unas memberikan pelajaran tambahan untuk mata pelajaran yang akan diujikan. ”Masih ada waktu untuk membahas latihan soal unas di sekolah-sekolah,” tuturnya.

Jika pada unas ulang nanti masih ada siswa yang tidak lulus, lanjut Nuh, masih ada kesempatan untuk mengikuti unas kesetaraan paket C pada 22 Juni mendatang. ”Intinya, akan tetap ada kesempatan buat mereka untuk terus belajar dan berusaha,” jelasnya.

Persentase siswa tidak lulus UN 2010 di beberapa provinsi sbb.:

  • Gorontalo: 46,22%
  • NTT: 52,08%
  • Kalimantan Tengah: 39,29%
  • Maluku Utara: 41,14%
  • Sulawesi Tenggara: 35,89%
  • Kalimantan Timur: 30,53%

Baca juga . . . .

Daftar Sekolah dan Siswa Peringkat Unas 2010 Jatim

Sumber : Koran Jawa Pos, edisi 24 April 2010

Iklan

Juara Lomba Wisata Jatim 2009


Setelah satu bulan lebih lomba (foto) wisata Jawa Timur tahun 2009 ditutup, panitia telah berhasil menetapkan pemenangnya.

Berikut para juara lomba:

Grandprize (Juara Tingkat Prov. Jatim)

  • Nama : Dhana_87
  • Karya : Grand Canyon Kawasan Pantai Sidem (Kab. Tulungagung)
  • Hadiah : Notebook

Juara 1 :

  • Nama : Aziz Cigroux
  • Karya: Air Terjun Cuban Rondo (Kab. Malang)
  • Hadiah : Fexyberry & speedy prepaid

Juara 2 :

  • Nama : Yulianto Efendy
  • Karya : Lontong Balap (Kota Surabaya)
  • Hadiah : Fexyberry

Juara 3 :

  • Nama : Badrus
  • Karya: Pagi di Kawah Ijen (Kab. Banyuwangi)
  • Hadiah : Modem flexynet

Sumber:  http://lombawisatajatim.com/  diakses pada 18 Maret 2010

Asal Mula Nama Indonesia


Kata Indonesia pertama dilontarkan oleh George Samuel Earl, bangsa Inggris, untuk menamai gugusan pulau di Lautan Hindia. Namun, para ilmuwan Eropa menyebutnya dengan Melayunesia. J.R. Logan, bangsa Inggris, dalam majalah Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (Volume IV, 1850:24) menyebut gagasan pulau di Lutan Hindia dengan Indonesian.

Kemudian, Adolf Bastian , bangsa Jerman, dalam bukunya Indonesian Order die Inseen des Malaysichien Archipel menggunakan kata Indonesia untuk menyebut nama kepulauan yang bertebaran di lautan Hindia tersebut. Kata Indonesia itu, kemudian dalam perjalanana sejarahnya menjadi nama sebuah negara dan banhgsa di Kepulauan Nusantara yang terletak di kawasan Asia Tenggara.

Sumber: http://pusatbahasa.depdiknas.go.id/

Pengajaran Bhs. Indonesia untuk Penutur Asing


Sejak tahun 2000, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Republik Indonesia, telah menyelenggarakan kegiatan pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing. Kegiatan ini diselenggarakan dalam kelas regular dan kelas khusus. Kelas regular dilaksanakan secara teratur setiap semester. Sementara itu, kelas khusus dilaksanakan selama dua minggu atau sesuai dengan kebutuhan pembelajar.

Latar Belakang

Kegiatan pengajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di Pusat Bahasa sudah dirintis sejak tahun 1990-an. Kemudian, sejak tahun 1999 telah dibentuk tim khusus yang menangani kegiatan BIPA. Penyelenggaraan kegiatan pengajaran BIPA dilandasi oleh pertimbangan bahwa di dalam era global, posisi bahasa Indonesia di dalam percaturan dunia internasional semakin penting dan potensial. Potensi bahasa Indonesia itu didukung oleh posisi geografis Indonesia yang terletak dalam lintas laut yang sangat strategis, sumber daya alam yang potensial, dan keragaman budaya Indonesia yang unik. Dengan demikian, bahasa Indonesia diharapkan dapat menjadi jembatan bagi bangsa lain untuk meningkatkan pemahamannya terhadap bangsa dan budaya Indonesia. Kenyataan itu telah menyebabkan banyak orang asing yang tertarik dan berminat untuk mempelajari bahasa Indonesia sebagai sarana untuk mencapai berbagai tujuan, seperti politik, ekonomi, perdagangan, pendidikan, seni-budaya, dan wisata.

Pengajar

Pengajar BIPA di Pusat Bahasa adalah orang-orang yang telah berpengalaman mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa asing. Mereka adalah para penutur asli bahasa Indonesia yang berlatar belakang pendidikan bahasa dan telah memahami seluk-beluk bahasa. Mereka juga memahami aneka kesulitan yang dialami oleh para pembelajar dari berbagai negara yang berbeda-beda latar belakang sosial dan budayanya.

Kelas BIPA

Pengajaran BIPA di Pusat Bahasa dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan, yaitu Tingkat Dasar/Pemula (BIPA I), Tingkat Madya (BIPA II), dan Tingkat Lanjut (BIPA III). Tiap tingkatan ditempuh selama satu semester dengan jumlah jam belajar 64 jam (per minggu 2 kali pertemuan 2 jam). Selain itu, diselenggarakan pula pengajaran BIPA untuk kelas khusus yang berlangsung selama dua minggu atau sesuai dengan kebutuhan pembelajar.

Fasilitas

Fasilitas yang tersedia dalam pengajaran BIPA di Pusat Bahasa, antara lain (1) ruang kelas, (2) buku, kaset, dan CD bahan ajar, (3) perpustakaan, (4) laboratorium bahasa.
Tempat Belajar

Tempat belajar di Pusat Bahasa, Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta, Indonesia, dan dapat pula di Balai/Kantor Bahasa yang tersebar di seluruh Indonesia.

Biaya

Biaya kuliah/kursus untuk kelas reguler US $640 per orang per semester. Setiap semester berlangsung selama 64 jam (16 minggu). Adapun untuk kuliah/kursus kelas khusus dikenai biaya khusus.
ALAMAT BIPA PUSAT BAHASA

PUSAT IFORMASI TIM BIPA

  • Pusat Bahasa, Depdiknas Jalan Daksinapati Barat IV Rawamangun, Jakarta, Indonesia
  • (+6221) 4896558, 4706288 Pesawat 150
  • Faksimile (+6221) 4750407
  • Laman: http://www.bipa-pb.net
  • Pos-el (e-mail): bipa_pb@yahoo.co.id

________________________________________________________________Sumber: http://pusatbahasa.depdiknas.go.id

Anugerah Cipta Karya Bidang Teknologi Pendidikan Kesetaraan Tahun 2010


Syarat dan ketentuan

Peserta adalah tutor, pamong belajar, NST atau penggiat Pendidikan Kesetaraan.

Cipta Karya merupakan produk orisinil atau diadaptasi dari karta orang lain (bukan adopsi).

Tuliskan Cipta Karya dengan sistematika penulisan karya ilmiah dalam Bahasa Indonesia.

  • Panjang tulisan 7 – 10 halaman kuarto A4, termasuk foto/gambar media pembelajaran yang diikutsertakan dalam lomba dan pendukungnya.
  • Hasil karya produk tidak perlu dilampirkan.
  • Jenis huruf Arial, ukuran 12, spasi 1,5.
  • Lampirkan referensi dan rekomendasi dari Dinas Pemda setempat.

Cantumkan data diri Anda secara lengkap bersama tulisan.
Kirim tulisan ke:
Direktur Pendidikan Kesetaraan
up. Subdit Pengembangan Teknologi
Gedung E, Lt. 7, Jl. Jenderal Sudirman Senayan – Jakarta 10270

paling lambat 28 Februari 2010 (cap pos) tulis kode ACKT 2010 dipojok kiri atas amplop.

Peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 karya untuk bidang Akademik dan atau Keterampilan, semua
tulisan yang masuk akan menjadi hak milik Direktorat Pendidikan Kesetaraan.

Penilaian Juri berdasarkan pada orisinalitas dan kebemanfaatan. Nominasi akan diundang pada Grand Final. Hasil Keputusan Juri tidak dapat diganggu gugat.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi
Subdit Pengembangan Teknologi
No. Telp. 021-57900348 atau
Teguh Imanto (Hp. 08161388416)
Pittor Parulian (Hp. 0818745967)
Yuyut Setyowati (Hp. 081316587099)

Sumber: http://www.depdiknas.go.id/

Homonim, Homograf, dan Homofon


Beberapa kata bahasa Indonesia ada yang mengalami homonim, homograf, dan homofon. Ketiga istilah ini memiliki perbedaan juga memiliki kesamaan. Berikut pengertian dan contohnya!

 

Homonim

Homonim adalah kata yang sama lafal dan ejaannya dengan kata yang lain tetapi berbeda maknanya karena berasal dari sumber yang berbeda .

Contoh pasangan kata yang termasuk homonim:

a. bisa : dapat
bisa : racun
b. buku : ruas
buku : kitab
c. salak : nama buah
salak : bunyi gonggongan anjing
c. bulan : waktu 30 hari
bulan : nama satelit bumi
d. genting : gawat
genting : benda penutup atap rumah
e. malam : nama waktu lawannya siang
malam : nama zat bahan membatik

 

Homograf

Homograf adalah kata  yang sama ejaannya dengan kata yang lain tertapi beda lafal dan maknanya.

Contoh kata-kata yang termasuk homograf:

a. apel (lafal e seperti pada teh) : upacara
apel (lafal e seperti pada teman) : nama buah
b. seminar (lafal e seperti  pada teman) : bersinar-sinar
seminar (lafal e seperti pada sate) : pertemuan ilmiah
c. teras (kayu) lafal e seperti pada tebu) : inti kayu
teras (rumah) lafal e seperti pada sate : bagian depan rumah   (beranda)

Homofon

Kata yang sama lafalnya dengan kata lain tetapi beda ejaan dan maknanya.

Contoh kata-kata yang termasuk homofon:

a. sangsi : ragu-ragu
sanksi : hukuman
b. bank : tempat menanbung
 

c.

bang

hak

 

: panggilan untuk orang laki-laki

: hak (sepatu)

: hak (asasi)

Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional Tahun 2009


Dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra yang jatuh pada Oktober ini, Pusat Bahasa menyelenggarakan berbagai kegiatan, di antaranya Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional.

1. Jadwal Kegiatan
Peserta sampai ke Pusat Bahasa : 22 Oktober 2009
Karantina di Pusat Bahasa : 22—27 Oktober 2009
OutBond : 25 Oktober 2009
Babak Penyisihan : 26 Oktober 2009
Babak Final/Pengumuman 8 pasang Pemenang : 27 Oktober 2009
f. Penyerahan hadiah : 28 Oktober 2009

2. Peserta
Peserta Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional 2009 adalah sebagai berikut.
a.Peserta adalah warga negara Indonesia.
b. Peserta adalah utusan resmi dari provinsi yang bersangkutan dibuktikan dengan surat keterangan dari instansi terkait.
c. Peserta yang dikirim harus lulus seleksi di daerah.
d. Peserta berusia antara 18—25 tahun dengan ketentuan dapat dibuktikan dengan surat keterangan penduduk.
e. Peserta harus sehat jasmani dan rohani dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter.
f. Peserta memiliki tinggi badan minimal 165 cm untuk laki-laki dan 155 cm untuk perempuan.
g. Peserta belum menikah
h. Peserta berpendidikan minimal SLTA dibuktikan dengan membawa ijazah terakhir.
i. Peserta berkepribadian baik dan berpenampilan menarik.
j. Peserta diutamakan telah lulus tes Uji Kemampuan Berbahasa Indonesia (UKBI) dan memperoleh nilai baik.
k. Peserta mampu berbahasa Indonesia lisan di depan umum
l. Peserta mampu berbahasa tulis/membuat dan mempresentasikan makalah.
m. Peserta mampu berbahasa lokal dan sekurang-kurangnya mampu berbahasa asing.
n. Setiap provinsi hanya mengirimkan satu putra dan satu putri
o. Transpor peserta pergi-pulang ditanggung oleh provinsi masing-masing; biaya akomodasi dan konsumsi peserta selama di Jakarta ditanggung oleh Pusat Bahasa.
p. Bersedia mengikuti tahapan-tahapan penyeleksian selama masa karantina.
q. Peserta wajib membawa pakaian daerah, olah raga, dan pakaian formal (termasuk jas dan batik)

6. Seleksi/Penilaian
Penilaian para peserta Pemilihan Duta Bahasa dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut.
Seleksi Provinsi
Peserta yang akan mengikuti Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional 2009 terlebih dahulu telah mengikuti penyeleksian di provinsi masing-masing. Penyeleksian tersebut diserahkan kepada Balai/Kantor Bahasa atau instansi yang berwenang.

Seleksi Pusat Bahasa
Penilaian dokumen dan penilaian masa karantina.

Babak Penyisihan
1) Mempresentasikan makalah
2) Menjawab pertanyaan

Babak Final
Menjawab pertanyaan dari juri (dalam bahasa lokal, Indonesia, dan asing).

Hadiah
Pemenang I (sepasang) @ Rp7.000.000,00
Pemenang II (sepasang) @ Rp6.000.000,00
Pemenang III (sepasang) @ Rp5.000.000,00
Pemenang IV (sepasang) @ Rp3.500.000,
Pemenang V (sepasang) @ Rp3.000.000,00
Pemenang VI (sepasang) @ Rp2.500.000,00
Pemenang Favorit (sepasang) @ Rp2.000.000,00

Informasi selanjutnya, silakan kunjungi http://pusatbahasa.depdiknas.go.id

%d blogger menyukai ini: