Tawuran Pelajar: Tersangka Dijerat Pasal Pembunuhan


Aparat Kepolisian Resor Metropolitan (Polrestro) Jakarta Selatan menangkap FR yang diduga sebagai pelaku pembacokan siswa SMAN 6 Bulungan, Alawy Yusianto Putra, 15. FR tertangkap di Jogja.

Tawuran berdarah yang mengakibatkan tewasnya Alawy terjadi saat puluhan pelajar SMAN 70 menyerang SMAN 6 Jakarta di kawasan Bulunganpada Senin (24/9/2012) sekitar pukul 12.00 WIB. Seorang siswa Kelas X SMAN 6, Alawy Yusianto Putra, 15, meninggal dunia akibat dibacok pada bagian dada menggunakan celurit, sedangkan tiga orang lainnya mengalami luka. Alawy sebenarnya tidak terlibat tawuran itu, hanya kebetulan saja ia tengah mencari makan di lokasi itu ketika bentrokan pecah.

Penyidik kepolisian telah menetapkan tersangka terhadap siswa SMAN 70 berinisial FR yang berstatus buron karena diduga sebagai pelaku utama pembacokan terhadap Alawy. FR sempat buron selama empat hari setelah membacok Alawy dan melarikan diri dari kejaran polisi.

Setelah tertangkap di Jogja, FR, tersangka pembacokan murid SMAN 6 Jakarta, Alawy Yusianto Putra, bakal dijerat pasal pembunukan, karena pelaku bukan kategori anak-anak.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Jakarta Selatan AKBP Hermawan mengutarakan bahwa dari investigasi awal FR berusia 19 tahun, sehingga bukan kategori anak-anak. Polisi bakal menjerat murid SMAN 70 itu pasal pidana umum. “Pelaku itu si FR kelahiran 1993. Pelaku artinya sudah bukan anak-anak lagi. Dengan demikian, kami bisa menggunakan pasal KUHP,” ujarnya kepada media di Jakarta, hari ini.

Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak, definisi anak-anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Hermawan memastikan FR yang ditangkap polisi memang murid SMAN 70, seperti yang sudah diberitakan selama ini. FR ditangkap Tim Reskrim Polres Jakarta Selatan semalam di Jogja setelah dalam pelarian selama tiga hari.

FR dituduh melakukan pembunuhan terhadap Alawy saat tawuran antara pelajar SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta. FR kabur setelah melakukan penusukan Alawy pada Senin siang (24/9/2012) di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan. Menurut keterangan kepolisian, FR pernah memiliki catatan kriminal tawuran yang mengakibatkan nyawa melayang. Namun, waktu itu gugatan dari pelapor tanpa ada keterangan yang jelas. Selain itu, FR sempat tinggal kelas dua kali. (Sumber: http://www.solopos.com/2012/09/27/)

Peristiwa tawuran pelajar membuat hati siapa pun sangat prihatin. Dunia pelajar (pemuda) memang penuh warna. Ketika mengalami masalah, seharusnya penyelesainnya tetap dalam batas kepribadian seorang pelajar. Siapa yang salah, kalau pelajar menyelesaikan maslah dengan teman memilih tawuran? Padahal, di sekolah menerima pendidikan etika dan demokrasi?

Tanggung jawab pendidikan adalah pada pemerintah (sekolah), orang tua, dan masyarakat. Meskipun ketiga pilar pembentuk kepribadian itu telah berperan dengan baik, masih ada satu lagi yang pengaruhnya tidak kecil, yakni ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Akibat kemajuan iptek  yang membawa derasnya informasi global pasti akan mengikis kepribadian manakala tidak tersedia filter.

Kita semua harus terus berperan serta memberi sumbangsih pendidikan positif kepada siapa pun: di rumah, di sekolah, di tetangga, dan di tempat kerja. Peran sekecil apapun asal postif sangat berarti bagi masa depan yang lebih cerah.

Semoga berbagai pihak meningkatkan kepedulian untuk memberi teladan, bimbingan, dan pelatihan  sehingga tawuran pelajar dapat dicegah.

 

 

 

3 Tanggapan

  1. […] C.    Tawuran pelajar: Tersangka Dijerat Pasal Pembunuhan […]

    Suka

  2. dulu ketika kami sekolah di SLTA juga ada yang namanya tawuran, tapi kami saat itu takut terhadap yang namanya guru, lah sekarang mana takut ama guru, wong gurunya takut ama yang namanya HAM anak , salah-salah guru berurusan dengan pihak berwajib karena bertindak keras terhadap siswa yang melanggar aturan sekolah, jaman sekarang sedikit-sedikit guru dilaporkan pada polisi karena kekerasan, wah susahnya…….bagaimana tak menjamurnya preman-preman sekolah.

    Suka

  3. Dimana-mana banyak kesalahan sistem di sekolah dalam menerapkan kurikulum pembelajaran. Mengapa ? ….sekolah lebih mengunggulkan aspek kognitifnya dan bangga bila lulus 100 % menyampingkan aspek afektifnya akhirnya pelayanan bimbingan konseling di kelas tidak dihiraukan oleh pimpinan. Mengapa tidak dihiraukan:
    1.Mungkin menganggap BK hampir sama dengan mapel PPKN, fiqih, aqidah ahlak, SKI, B.Arab dll BK cukup menjaga pintu gerbang sehingga BK tidak perlu masuk kelas.
    2. Mungkin kualitas guru itu sendiri.lihat KTSP) peranan BK sama dengan mata pelajaran Inti terjadinya tawuran kurangnya pemahaman dan kurangnya informasi peserta didik pada 9 tugas perkembangan remaja Siapa yang curang dengan bimbingan koseling percayalah akan datang malapetaka dan akan siap menghancurkan karena perilaku dari anak didik jaman sekarang (Tidak hanya tawuran kota besar, kota kecil anak SMP sudah banyak yang berbuat asusila /oral sex. Tergantung kita bisa mengungkap kasus itu kepermukaan apa tidak ?. Jangan menganggap sekolah kita baik-baik saja.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: