TKI Berjalan Kaki 12 Hari Menembus Hutan


Kisah sengsara TKI yang bekerja di Malaysia tak pernah habis. Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia yang menghadapi masalah selama tahun 2009 tercatat 1.170 kasus, yang keseluruhannya dapat diselesaikan. “Permasalahan yang dihadapi TKI tersebut sebagian besar menyangkut upah dengan majikannya,” kata Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia, Tatang Budi Utama Razak, di Kuta, Bali, 7 April 2010.

Sementara itu, pesatnya perkembangan proyek pembangunan di Malaysia, khususnya bidang kontruksi di semenanjung kota Johorbaru memberikan kesempatan sedikitnya kepada 200 ribu tenaga kerja Indonesia (TKI). “Peluang yang ada di negeri tangga itu dimanfaatkan secara maksimal dalam mengatasi masalah tenaga kerja di Indonesia,” kata Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNT2TKI) Moh Jumhur Hidayat di Kuta, Bali Rabu.       (http://www.republika.co.id)

Jawa Pos, edisi 7 April 2010 memberitakan, Tenaga kerja Indonesia (TKI), yang berjumlah 28 orang, kabur dari perusahaan tempat mereka bekerja di Malaysia Sabtu 13 Maret lalu. Setelah 12 hari berjalan menembus hutan, mereka sampai ke wilayah Indonesia di Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur. Inilah kisah perjalanan mereka menembus hutan perbatasan Indonesia-Malaysia.

Para TKI itu bekerja di Malaysia lewat PJTKI (perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia) ACL yang berkantor di Pontianak, Kalimantan Barat. Dalam perekrutan, mereka dijanjikan bekerja di kota dengan penghasilan banyak. “Nyatanya, kami dipekerjakan di tengah hutan,” ungkap Suhendi, salah seorang di antara 28 TKI tersebut.

Gaji besar pun sekadar janji. Selama bekerja di perusahaan di Malaysia itu, mereka diupah MYR 18 (setara dengan Rp 54 ribu) sehari. Upah itu mereka terima untuk 12 jam kerja dalam sehari.

Aturannya memang cuma delapan jam sehari. Yang empat jam adalah lembur. Meski disebut lembur, faktanya wajib dilakukan. Kalau tidak ikut lembur, yang delapan jam tidak diakui. Artinya, upah sehari itu hilang. “Bahkan, dipotong MYR 100,” tambah Suhendi.

Aturan di perusahaan itu benar-benar ketat. Keterlambatan satu menit saja sudah dianggap terlambat satu jam yang berarti kena potongan lagi. “Kami merasa tertipu,” ujar Suhendi yang dibenarkan tiga rekannya -Dadan, Sulaiman, dan Muhammad Yacob- saat ditemui Radar Tarakan (Grup Jawa Pos) di rumah Dinas Kapolsek Kayan Hulu Ipda Alyadi kemarin (6/4).

Merasa tidak nyaman lagi bekerja di perusahaan tersebut, mereka memutuskan kabur dari perusahaan. Tujuannya kembali ke wilayah Indonesia dengan menembus hutan perbatasan.

Persiapan untuk melakukan perjalanan itu apa adanya. Mereka hanya membawa pakaian dan makanan seadanya. Selama perjalanan tanpa arah itu, mereka pernah menginap satu malam di kampung Dayak Punan di kawasan Sarawak, Malaysia.

Pertolongan mereka dapatkan dari warga di kampung Dayak tersebut. Seorang warga memberi mereka peta perjalanan menuju wilayah Indonesia. “Yang memberi seperti tentara dan bisa berbahasa Jawa,” kata Suhendi.

Perjalanan selama 12 hari menembus hutan itu bisa menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan bagi mereka. Suhendi, yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat, menuturkan bahwa mereka hanya membawa dua kilogram beras dan lauk seadanya yang mereka beli secara patungan.

Untuk menghemat perbekalan, mereka lebih sering makan daun singkong yang banyak mereka temukan di hutan. Mereka juga membawa panci kecil untuk memasak. “Panci itu kami bawa dari kamp di perusahaan,” ujar Muhammad Yacob, yang mengatakan baru satu setengah bulan bekerja di perusahaan tersebut.

Selama dalam perjalanan, mereka tidur di tempat terbuka dan berjaga bergiliran. Untung, selama 12 hari itu, mereka tidak bertemu dengan binatang buas. “Paling hanya babi hutan dan monyet,” tambah Yacob.

Berbekal peta pemberian warga Dayak Punan tersebut, mereka sampai juga di perbatasan Sarawak (Malaysia) dan Long Bawang, Kayan Hulu (Indonesia). Setelah sampai di perbatasan itu, mereka menginap di pos pengamanan perbatasan (pamtas). Mereka menumpang tidur dan bergabung dengan anggota TNI selama dua malam.

Selama bergabung di pos pamtas, para TKI itu memasak beras mereka sendiri dari sisa bekal yang mereka bawa selama perjalanan. Pada hari kedua bersama anggota pamtas, persediaan TKI habis. Untung, petugas di pamtas berbaik hati dengan merelakan sebagian jatah logistik untuk mereka.

Mereka meninggalkan pos perbatasan tersebut sore hari dan menginap di sebuah pondok di tengah ladang. Sekitar pukul 10.00 pada 25 Maret mereka sampai di Polsek Long Nawang, Malinau. “Lumayan jauh, sekitar 28-30 kilometer dengan kondisi jalan naik turun,” terang Suhendi.

Kemudian, rombongan melanjutkan jalan kaki menuju Long Ampung yang berjarak 12 kilometer dari polsek tersebut. Jarak tersebut mereka tempuh tiga jam.

Para TKI itu bersyukur karena sudah bisa menginjakkan kaki di negara sendiri meski belum sampai ke kampung halaman di Jawa Barat. Rencananya, mereka pulang kampung Kamis besok (8/4), setelah keluarga mereka mengirimi uang.

Mereka tidak berencana untuk menuntut balik para jasa penghubung yang merekrut mereka. “Baru kalau mereka menuntut kami, kami akan tuntut balik,” kata Suhendi.

Rencananya, Suhendi kembali berjualan es campur khas Cirebon yang sudah dirintisnya, sambil menggarap sawahnya jika musim hujan. Sementara, Sulaiman akan membantu orang tuanya berjualan di pasar, Yacob akan kembali melakukan aktivitas sebagai tukang ojek. Dadan akan bergabung dengan Suhendi berjualan es campur khas Cirebon.

“Kami ucapkan terima kasih kepada Pak Kapolsek (Ipda Alyadi) Kayan Hulu dan keluarga serta keluarga besar Suku Sunda di Malinau yang telah menampung kami dan membantu kami selama di Malinau,” ujar Suhendi, menutup kisahnya. (jpnn/c1/ruk)

Sumber: http://jawapos.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: