Renungan Tahun Baru: Introspeksi Jati Diri Manusia


http://www.tunas63.wordpress.com

Renungan Tahun Baru: Introspeksi Jati Diri Manusia

Alhamdulillahirabbil aalamiin, atas nikmat usia yang panjang sehingga diberi kesempatan untuk menghirup udara 1430 H.

Memasuki tahun baru, sebagian ada yang memaknai sebagai bertambahnya usia. Tapi, kita sebagai hamba Allah, meyakini dengan bertambahnya tahun (usia) berarti semakin dekat “jatah” hidup kita. Karena, kita tidak mengetahui kapan kita mati. Bahkan, di bumi mana kita mati, kita tidak memiliki sedikitpun ilmunya. Allah menjelaskan dalam surat Luqman, ayat 34:

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Selama setahun, lembaran kehidupan pasti penuh dengan catatan baik dan buruk. Dari sejuta catatan itu, hanya sebagain kecil yang mampu kita ingat. Tapi, kita yakin seyakin-yakinnya bahwa selama ini kita menumpuk dosa dari waktu ke waktu; setiap hari, selama hidup.

Kondisi ekonomi, hubungan dengan keluarga dan sahabat, hubungan dengan teman kerja dan siapa pun manusia yang pernah kita ajak komunikasi, semuanya memberi andil terhadap sikap perbuatan. Sikap inilah yang mengisi lembaran catatan kehidupan: bila langkah kita tepat dan benar sesuai petunjuk Allah maka inilah cahaya kebaikan. Sebaliknya, bila salah dan melanggar ketentuan Allah maka ini merupakan api yang kita ciptakan yang kelak membakar diri kita.

Sikap mulia memasuki tahun baru adalah introspeksi, yakni berfikir apa yang telah kita perbuat selama ini: meningkatkan taqwa atau menjauhi taqwa. Harapannya, hari depan harus lebih taqwallah; jangan sampai semakin terjerumus oleh godaan dunia.

Dalam surat Al Hasyr ayat 18-20 dengan jelas Allah mengingatkan :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka itulah orang-orang yang fasik. Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni sorga; penghuni-penghuni sorga itulah orang-orang yang beruntung.

Introspeksi dengan memohon hidayah Allah akan membawa pada hakikat hidup kita sebagai manusia. Manusia ada yang menciptakan yaitu Allah SWT, dan Allah juga telah menetapkan tujuan menciptakan manusia.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (Surat Ad-Dzariyat: 56).

Setiap perbuatan pasti membawa akibat. Siapa menabur padi pasti akan menuai padi. Perbuatan jahat akan menerima balasan kejahatan, dan perbuatan baik akan menerima balasan yang lebih baik. Setiap balasan adalah untuk (pribadi) pelaku dan tidak seorang pun dapat menolong. Balasan akhirat pasti datang, dan pepatah Jawa “suwarga nunut neraka katut (Indonesia: sorga ikut neraka juga ikut) tidak berlalku. Orang tua pun tidak dapat menolong, demikian Allah menegaskan dalam Surat Luqman ayat 33:

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.

Dan, dalam surat Al Zalzalah [99], ayat 7 dan 8 Allah SWT menjelaskan:

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Akhirnya, kita hanya mohon kepada Allah SWT semoga hidayah Allah selalu menuntun setiap langkah kita. Nikmat waktu, usia, harta dan benda, keluarga, dan sahabat semuanya dapat berperan menjadi pendorong untuk meningkatkan iman dan taqwa. Sehingga kita terhindar dari golongan orang-orang yang rugi. Karena, pada hakikatnya, setiap manusia akan mengalami kerugian.

Firman Allah dalam surat Al Ashr:

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Selamat memasuki tahun baru Hijriyah dan Masehi semoga catatan perjalanan langkah hidup kita dapat kita jadikan motivasi untuk menatap masa depan yang lebih mulia di sisi Allah SWT. Sikap dan perbuatan yang positip dapat kita pertahankan dan kita tingkatkan. Sebaliknya, sikap dan perbuatan jahat dapat kita buang dan Allah mengampuni kesalahan, kekhilafan, dan dosa kita. Amiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: