Sebuah Renungan Kehidupan Menyambut Hari Ibu


Tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu. Hari Ibu, sungguh ini suatu motivasi mulia bagi umat manusia: menghormati sang ibu dengan segala keadaan dan dalam situsi bagaimana pun. Ibu telah bersusah payah berjuang sehingga sang anak lahir. Ketika masih dalam kandungan, ibu harus berjuang menjaga dan merawat agar sang bayi tumbuh sehat sebelum dan sampai hadir di dunia fana. Pengorbanan harta tanpa batas. Pengorbanan mental tulus dipersembahkan sebagai amal ibadah.

Di zaman kerasnya kehidupan dunia yang membawa degradasi sikap dan moral, ada pertanyaan untuk peran sang ibu: apa yang telah dilakukan ibu? Seorang ibu pasti tersenyum mendengar pertanyaan ini. Senyum ikhlas dan kasih sayang dari diri seorang pahlawan yang telah berjuang dan berkorban untuk sang anak . Senyum ibu ini pun dilakukan sebagai pengorbanan dalam berjuang membimbing, mendidik, dan melatih agar anak dapat “membaca” dunia.

Dan, senyum ibu ini adalah jawaban atas pertanyaan “apa yang telah dilakukan ibu untuk anak?” Maka ibu menjawab, “Mengapa anakku seperti ini?” Sungguh jawaban yang tak diharapkan anak. Inilah bahasa kasih sayang ibu. Ibu menjawab seperti ini karena ibu memiliki seluruh jawaban. Ya, jawaban atas pertanyaan dari anak, baik yang ditanyakan sekarang maupun mendatang. Walau pertanyaan sang anak belum muncul, jawaban sang ibu sudah tersedia dan selalu siap setiap saat.

Saya telah mempertaruhkan nyawa

Saya telah mengorbankan harta

Saya telah mendoakan

Saya telah membimbing

Saya telah mendidik

Saya telah melatih

Saya telah menangis

Saya telah tersenyum

Saya telah sengsara

. . .

Pembaca yang budiman,

Semoga ungkapan terakhir ibu, yakni “saya telah sengsara” merupakan kesimpulan. Ya, kesimpulan keikhlasan dari apa yang “telah” dikatakan dan dilakukan. Kesimpulan karena rasa malu ibu untuk mengungkapkan atas semuanya. Dan, bukan kesimpulan sebagai akibat ulah sang anak.

Sekilas kisah ini semoga bermanfaat bagi pembaca untuk sebuah harapan: ibu jangan sengsara karena perbuatan anak sebagaimana peringatan Allah dalam surat Al Baqarah [2], ayat 233:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, Dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.

Satu Tanggapan

  1. salam dari bandung

    masih layakkah hari ibu di peringati di saat para ibu takmampu membeli susu untuk anaknya karena suaminya di PHK kemudian bunuh diri karana di negeri para bandit mati adalah mimpi indah kaum jelata

    artikel terbaruku …… perempuan yang berhati kudus (artikel ini buat saudaraku kaum perempuan yang memperingati hari ibu di negeri para bandit di mana kemiskinan menantang langit, membuat kami tak mampu lagi menggurat kasih ibu di batu yang berlumut tapi kasih ibu hanya bisa di permainkan lewat iklan-iklan politik)
    http://esaifoto.wordpress.com

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: