Seks dan Puasa Ramadlan


Seks merupakan kebutuhan biologis setiap manusia. Bagaimanakah ketentuan Allah mengenai hubungan suami istri saat berpuasa? Banyak saudara Islam yang menyangka bahwa junub sampai pagi (sampai terbit fajar) dalam bulan Ramadlan dapat membatalkan puasa. Sangkaan ini sebenarnya tidak beralasan. Hal ini sebetulnya tidak mengurangi puasa, baik junub karena bersetubuh ataupun sebab lain. Sebaiknya, segera mandi sebelum fajar karena dikhawatirkan terjadi hal-hal yang membatalkan, misalnya kemasukan air ketika mandi.

Bila bersetubuh pada siang hari maka puasanya batal dan wajib membayar kafarat (denda). Kafarat ini ada tiga tingkat (a) memerdekan hamba, (b) (kalau tidak sanggup memerdekan hamba) berpuasa dua bulan berturut-turut, (c) (kalau tidak sanggup berpuasa dua bulan berturut-turut) bersedekah dengan makanan yang mengenyangkan kepada enam puluh fakir miskin, tiap-tiap orang ¾ liter.

Berikut ini dasar-dasar ketentuan seperti diterangkan di atas:

(1) “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu” (Q.S. Al-Baqarah:187)

(2) “Sabda Rasul: dari Aisyah, “Sesungguhnya Nabi SAW pernah sampai waktu shubuh dalam keadaan junub karena bersetubuh, bukan karena mimpi, kemudian beliau terus puasa Ramadlan.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

(3) “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, ia berkata, “Celaka saya, ya Rasulullah.” Nabi besar SAW berkata, “Apakah yang mencelakakan engkau?” Jawab laki-laki itu, “Saya telah bersetubuh dengan istri saya pada siang hari Ramadlan.” Rasulullah SAW berkata, “Sanggupkan engkau memerdekan hamba?” Jawab laki-laki itu, “Tidak.” Rasulullah SAW berkata, “Kuatkah engkau berpuasa dua bulan berturut-turut?” Jawab laki-laki itu, “Tidak.” Kata Rasulullah SAW, “Adakah engkau mempunyai makanan guna memberi makanan enam puluh orang miskin?” Jawab laki-laki itu, “Tidak.” Kemudian laki-laki itu duduk. Maka diberikan orang kepada Nabi SAW sebakul besar berisi kurma. Rasulullah SAW berkata, “Sedekahkanlah kurma itu.” Kata laki-laki itu, “Kepada siapakah? Kepada yang lebih miskin dari saya? Demi Allah, tidak ada penduduk kampung ini yang lebih memerlukan makanan selain dari kami seisi rumah.” Nabi besar SAW tertawa, sehingga terlihat gigi serinya, dan (beliau) berkata, “Pulanglah, berikanlah kurma itu kepada keluargamu.” (Riwayat Bukharai dan Muslim)

3 Tanggapan

  1. trims atas wadah
    yang sangat membantu
    memudahkan dapat refrensi

    Suka

  2. Ass. Wr. Wb.
    Masya Allah, ampun ya Allah.
    Mudah-mudahan, saudaraku dan keluargaku tetap dalam keimanan.
    Alhamdulillah, untuk nasihat ini.

    Suka

  3. Tulisan yang mendidik, semoga disadari oleh saudara-saudara kita.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: