Instrumen Pendataan Laporan Individual Sekolah 2010/2011


Untuk kepentingan  proses pendataan pendidikan tahun pelajaran 2010/2011, Pusat Statistik Pendidikan Kementerian Diknas menyediakan formulir/instrumen laporan individu (LI) dalam format excel yang telah di-setting sehingga sangat membantu dalam pengisian.

Data yang diminta dalam LI menyeluruh: identitas sekolah/madrasah, siswa, rombel, Nilai Ujian, Ketenagaan (KS, Guru, tenaga lainnya), keuangan, sarana dan prasarana, dan juga layanan anak berkebutuhan khusus (inklusif).

Dalam instrumen ini, pengisian harus benar, dan bila salah dalam pengisian secara otomatis akan muncul “pemberitahuan salah.”.

Berikut instrumen yang dapat diunduh:

LI-TK-2010.xls

LI-SD-2010.xls

LI-SMP-2010.xls

LI-SMA-2010.xls

LI-SMK-2010.xls

Pedoman Teknis Pos PAUD


Pedoman teknis penyelenggaraan Pos PAUD telah diterbitkan oleh Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal melalui Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010.

Pos PAUD adalah bentuk  layanan PAUD yang penyelenggaraannya  dapat diintegrasikan dengan layanan Bina Keluarga Balita (BKB) dan Posyandu. Mengapa perlu POS PAUD?

Latar Belakang

Usia dini merupakan masa emas perkembangan. Pada masa  itu terjadi  lonjakan  luar  biasa  pada  perkembangan  anak  yang  tidak  terjadi pada  periode  berikutnya.  Para  ahli  menyebutnya  sebagai  usia  emas perkembangan  (golden  age).    Untuk  melejitkan  potensi  perkembangan tersebut, setiap anak membutuhkan asupan gizi seimbang, perlindungan kesehatan,  asuhan  penuh  kasih  sayang,  dan  rangsangan  pendidikan yang  sesuai  dengan  tahap  perkembangan  dan  kemampuan  masing-masing  anak. Pemberian  rangsangan  pendidikan  dapat  dilakukan  sejak lahir,  bahkan  sejak  anak  masih  dalam  kandungan.  Rangsangan pendidikan  ini hendaknya  dilakukan  secara  bertahap,  berulang, konsisten, dan tuntas, sehingga memiliki daya ubah (manfaat) bagi anak. Seiring bertambahnya usia, anak-anak membutuhkan rangsangan pendidikan yang lebih lengkap, sehingga memerlukan tambahan layanan pendidikan  di  luar  rumah  yang  dilakukan  oleh  lingkungan  maupun lembaga  pendidikan  anak  usia  dini  (PAUD).  Rangsangan  pendidikan yang dilakukan di  rumah  (home base) dan yang dilakukan di  luar rumah (center  base)  hendaknya  selaras  dan  saling  mendukung,  sehingga diperoleh manfaat yang optimal. Rangsangan  pendidikan  di  luar  rumah  sudah  dapat  dimulai setelah  anak  berusia  6  bulan  bahkan  sejak  usia  3  bulan.  Sayangnya layanan  anak  seusia  ini  keberadaannya  terbatas. Kalaupun  ada,  belum tentu terjangkau oleh masyarakat, baik dari sisi jarak maupun biayanya. Keberadaan Pos PAUD sebagai salah satu bentuk Satuan PAUD Sejenis  (SPS)  dimaksudkan untuk menjembatani  kebutuhan  ini.  Dalam pelaksanaannya  Pos  PAUD  dapat  diintegrasikan  dengan  layanan  Bina Keluarga  Balita  (BKB)  dan  Pos  Pelayanan  Terpadu  (Posyandu).  Pos PAUD diperuntukkan bagi masyarakat yang belum siap mengikutsertakan anaknya  dalam  layanan  PAUD  yang  lebih  intensif,  baik  karena  alasan kerepotan mengantar, biaya, maupun faktor lainnya.

Pengertian

1.  Pendidikan  anak  usia  dini  adalah  suatu  upaya  pembinaan  yang ditujukan  kepada  anak  sejak  lahir  sampai  dengan  usia  enam  tahun yang  dilakukan  melalui  pemberian  rangsangan  pendidikan  untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan  lebih  lanjut (UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas).

2.  Satuan  PAUD  Sejenis  adalah  bentuk-bentuk  Satuan  PAUD  jalur pendidikan nonformal selain Kelompok Bermain dan Taman Penitipan Anak  yang  penyelenggaraannya  dapat  diintegrasikan  dengan berbagai  program  layanan  anak  usia  dini  yang  telah  ada  di masyarakat  seperti  Posyandu,  Bina  Keluarga  Balita,  Taman Pendidikan Al-Qur’an, Pelayanan Anak Kristen, Bina Iman Anak, atau layanan terkait lainnya.

3.  Pos PAUD adalah bentuk  layanan PAUD yang penyelenggaraannya  dapat diintegrasikan dengan layanan Bina Keluarga Balita (BKB) dan Posyandu.

4.  Pedoman Teknis Penyelenggaraan Pos PAUD adalah acuan minimal dalam penyelenggaraan Pos PAUD.

Tujuan Pedoman

1.  Sebagai pedoman bagi para pembina, penyelenggara, pengelola, dan  Kader Pos PAUD.

2.  Sebagai  pedoman  bagi  aparat  terkait  dalam melakukan  pembinaan program Pos PAUD.

Tujuan Program

  1. Memberikan layanan PAUD yang dapat menjangkau masyarakat luas hingga ke pelosok pedesaan.
  2. Memberikan wahana bermain yang mendidik bagi anak-anak usia dini yang tidak terlayani PAUD lainnya.
  3. Memberikan contoh kepada orangtua dan keluarga tentang cara-cara pemberian  rangsangan  pendidikan  bagi  anak  usia  dini  untuk dilanjutkan di rumah.

Buku Pedoman Teknis

Pedoman teknis penyelenggaraan Pos PAUD telah diterbitkan oleh Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal melalui Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010.

Sebagai pedoman teknis, buku menjelaskan secara lengkap mulai dari latar belakang program, tujuan, mekanisme dan prosedur pengelolaan.

Buku pedoman yang terdiri atas 7 bab ditambah dengan lampiran ini, isinya sbb.:

Bab I  Pendahuluan: memuat latar belakang,pengertian, dasar hukum,  tujuan pedoman,   tujuan program, lingkup pedoman.

Bab II Prinsip Dasar Pos Paud:

A.  Berbasis masyarakat

B.  Prinsip kesederhanaan (Kesederhanaan program, mainan, pengelolaan, tempat, dan pakaian)

C.  Prinsip mudah, murah, dan bermutu

Bab III Peserta Didik, Pendidik, dan Pengelola: Peserta didik,   Orangtua, Pendidik, Pengelola, Tim pemantau, Pembina tingkat desa/kelurahan,Lembaga penyelenggara

Bab IV Teknis Pembentukan Pos Paud : Pemilihan posyandu, Identifikasi dukungan lingkungan  , Penentuan tempat kegiatan, Penyiapan ape (sesuai usia anak), Koordinasi dengan petugas terkait, Pelatihan kader, Peresmian pos paud, Penyiapan buku administrasi, Pembiayaan kegiatan, Pelaporan dan perijinan Pembinaan, Indikator keberhasilan.

Bab V Teknis Penyelenggaraan: Pendaftaran calon peserta didik  , Penyusunan rencana kegiatan  , Jadwal kegiatan harian, Jadwal kegiatan main bulanan, Kemampuan yang akan dikembangkan, Materi kegiatan, Pengelompokkan anak, Penanganan anak berkebutuhan khusus, Pelaksanaan kegiatan.

Bab VI Proses Kegiatan

A.  Pengasuhan bersama (usia 3-30 bulan): Penataan tempat main, Penyambutan kedatangan anak, Kegiatan main.

B.  Bermain bersama (usia 31-72+ bulan): Penataan tempat main, Penyambutan kedatangan anak, Main pembukaan dan ikrar bersama, Transisi menuju kelompok, Waktu lingkaran 1 (pijakan sebelum main), Waktu bermain, Waktu beres-beres Waktu lingkaran 2 (pijakan setelah main/recalling), Makan bekal bersama, Kegiatan penutup.

Bab VII Evaluasi Dan Pembinaan

A.  Evaluasi: Evaluasi program, Evaluasi perkembangan anak, Tata cara evaluasi perkembangan anak, Tindak lanjut.

B.  Pembinaan: Petugas pembina dan Lingkup pembinaan

C.  Pelaporan: Pelaporan perkembangan anak dan Pelaporan program

D.  Sertifikat tanda serta belajar

Daftar Lampiran

  • Contoh APE sesuai usia anak
  • Resep-resep membuat bahan main
  • Jadwal pelatihan kader tahap i
  • Jadwal pelatihan kader tahap ii
  • Format buku induk anak
  • Format buku data pengelola dan kader
  • Format daftar hadir pengelola dan kader
  • Format daftar hadir anak
  • Rencana kegiatan harian
  • Format catatan perkembangan anak
  • Daftar rekap iuran anak
  • Format buku kas
  • Format buku inventaris
  • Format buku tamu
  • Format penilaian keberhasilan program  pos paud
  • Formulir pendaftaran peserta pos paud
  • Jadwal kegiatan harian pos paud
  • Jenis kegiatan pengasuhan bersama
  • Laporan perkembangan anak
  • Format surat tanda serta belajar pos paud
  • Pengaturan jadwal hari masuk masing-masing  kelompok
  • Kegiatan main anak

Dokumen untuk diunduh:

Pedoman_Teknis_Penyelenggaraan_Pos_PAUD

Panduan Kegiatan Pengembangan Diri


Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai  bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah (SD/MI/SDLB – SMP/MTs/SMPLB – SMA/MA/SMALB/SMK). Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling  berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir, serta kegiatan ekstra kurikuler. Di samping itu, untuk satuan pendidikan kejuruan, kegiatan pengembangan diri, khususnya pelayanan konseling ditujukan guna pengembangan kreativitas dan karir. Untuk satuan pendidikan khusus, pelayanan konseling menekankan peningkatan kecakapan hidup sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik.

Kegiatan pengembangan diri berupa pelayanan konseling difasilitasi/ dilaksanakan oleh konselor, dan kegiatan ekstra kurikuler dapat dibina oleh konselor, guru dan atau tenaga kependidikan lain sesuai dengan kemampuan dan kewenangnya. Pengembangan diri yang dilakukan dalam bentuk kegiatan pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler dapat megembangankan kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

Buku Panduan Pengembangan Diri terbitan Pusat Kurikulum Kemendiknas memberi petunjuk kepada sekolah/guru apa, mengapa, dan bagaimana “pengembangan diri” harus dilaksanakan.

Tujuan

Tujuan Umum

Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat,  minat, kondisi dan perkembangan peserta didik, dengan memperhatikan kondisi sekolah/madrasah.

Tujuan Khusus

Pengembangan diri bertujuan menunjang pendidikan peserta didik dalam mengembangkan:

a.  Bakat

b.  Minat

c.  Kreativitas

d. Kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan

e.  Kemampuan kehidupan keagamaan

f.   Kemampuan sosial

g.  Kemampuan belajar

h.  Wawasan dan perencanaan karir

i.    Kemampuan pemecahan masalah

j.   Kemandirian

Ruang Lingkup

Pengembangan diri meliputi kegiatan terprogram dan tidak terprogram.

Kegiatan terprogram direncanakan secara khusus dan diikuti oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. Kegitan tidak terprogram dilaksanakan secara lansung oleh pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah/madrasah yang diikuti oleh semua peserta didik.

Kegiatan terprogram terdiri atas dua komponen:

  • Pelayanan konseling, meliputi pengembangan: (a).  kehidupan pribadi (b).  kemampuan sosial (c).  kemampuan belajar (d).  wawasan dan perencanaan karir
  • Ekstra kurikuler, meliputi kegiatan: (a).  kepramukaan (b).  latihan kepemimpinan, ilmiah remaja, palang merah remaja(c).  seni, olahraga, cinta alam, jurnalistik, teater, keagamaan

Bentuk Pelaksanaan

  1. Kegiatan pengembangan diri secara terprogram dilaksanakan dengan perencanaan khusus dalam kurun waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan peserta didik secara individual,  kelompok, dan atau klasikal melalui penyelenggaraan: (1) layanan dan kegiatan pendukung konseling (2) kegiatan ekstra kurikuler.
  2. Kegiatan  pengembangan diri secara tidak terprogram dapat dilaksanakan sebagai berikut.(a). Rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan terjadwal, seperti: upacara bendera, senam, ibadah khusus keagamaan bersama, keberaturan, pemeliharaan kebersihan dan kesehatan diri. (b). Spontan, adalah kegiatan  tidak terjadwal dalam kejadian khusus seperti: pembentukan perilaku memberi salam, membuang sampah pada tempatnya, antri, mengatasi silang pendapat (pertengkaran). (c). Keteladanan, adalah kegiatan dalam bentuk perilaku sehari-hari seperti:   berpakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan dan atau keberhasilan orang lain, datang tepat waktu.

Contoh Program

Pada bagian akhir buku panduan pengembangan diri ini, dilengkapi contoh-contoh, antara lain:

  • penugasan pengasuhan kepada konselor
  • program tahunan/semesteran/bulanan/mingguan/harian pelayanan konseling
  • jenis dan frekuensi layanan yang diterima peserta didik
  • laporan nilai hasil kegiatan pelayanan konseling
  • rincian kewajiban konselor
  • isian format perhitungan jam kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah (tidak penuh satu bulan)
  • rambu-rambu rencana kegiatan estra kurikuler
  • rambu-rambu pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler
  • rambu-rambu laporan kegiatan ekstra kurikuler
  • laporan keikutsertaan peserta didik dalam kegiatan estra kurikuler
  • nilai peserta didik dalam kegiatan ekstra kurikuler

Dokumen untuk diunduh

Model Pengembangan Diri SD/MI/SDLB-SMP/MTs/SMPLB-SMA/MA/SMALB/SMK

Pedoman Pembelajaran IPA-IPS Terpadu SMP/SMPLB/MTs


Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar merupakan kurikulum hasil refleksi, pemikiran, dan pengkajian ulang dari kurikulum yang telah berlaku sebelumnya. Kurikulum baru ini diharapkan dapat membantu mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan di masa depan.  Standar kompetensi dan kompetensi  dasar diarahkan untuk memberikan keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam kondisi yang penuh dengan berbagai perubahan, persaingan, ketidakpastian, dan kerumitan dalam kehidupan. Kurikulum ini disusun untuk menciptakan tamatan yang kompeten, cerdas dalam membangun integritas sosial, serta mewujudkan karakter nasional.

Dalam implementasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, telah dilakukan berbagai studi yang mengarah pada peningkatan efisiensi dan efektivitas layanan dan pengembangan  sebagai konsekuensi  dari suatu inovasi pendidikan. Sebagai salah satu bentuk efisiensi dan efektivitas implementasi kurikulum dikembangkan berbagai model implementasi kurikulum.

Model pembelajaran terpadu merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dianjurkan untuk diaplikasikan di sekolah. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996:3). Pembelajaran ini merupakan model yang mencoba memadukan beberapa pokok bahasan.

Buku panduan model pembelajaran terpadu ini merupakan terbitan Pusat Kurikulum (Puskur Kemendikas). Garis besar isi buku adalah sebagai berikut:

Bab satu, merupakan pendahuluan yang memuat penjelasan tentang latar belakang serta pentingnya keberadaan panduan. Selain itu juga mengungkapkan tujuan serta sistematika sajian.

Bab dua, berisi penjelasan tentang kerangka berpikir yang mencakup tentang  pengertian, karakteristik, tujuan, konsep keterpaduan IPA, dan model keterpaduan berdasarkan topik.

Bab tiga, berisi tentang strategi pelaksanaan pembelajaran IPA Terpadu, yang menjelaskan tahapan tentang perencanaan (meliputi pemetaan Kompetensi Dasar, pemilihan topik, penjabaran Kompetensi Dasar ke dalam indikator, penyusunan silabus, dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran), pelaksanaan pembelajaran (meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan akhir serta tindak lanjut), dan penilaian.

Bab empat, berisi tentang implikasi pembelajaran IPA Terpadu yang menjelaskan peran guru, siswa, serta sarana dan prasarana pembelajaran.

Lampiran:

Model pembelajaran IPA/IPS  Terpadu SMP/MTs

Unduh Buku Panduan

Silakan pilih dan klik tautan dokumen berikut:

Model Pembelajaran IPA Terpadu  SMP-MTS

Model Pembelajaran IPS  SMP-MTs

Olimpiade Sastra Indonesia SD/MI Tahun 2010


Direktorat Pembinaan TK danSD, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah,Kementerian Pendidikan Nasional, menyelenggarakan Olimpiade Sastra Indonesia tingkat nasional untuk siswa SD/MI. Melalui olimpiade sastra ini, diharapkan dapat memacu siswauntuk melakukan olah budi, penalaran, dan kreativitas siswa, sehinggamelahirkan generasi pemikir yang kelak akan dapat membangun danmenghiasi keindahan peradaban Indonesia.

Materi Olimpiade Sastra Indonesia terdiri dari tiga jenis, yaitu:

1. Naskah cerita

Naskah cerita ini merupakan karya siswa yang dituangkan dalambentuk cerita berdasarkan pengalaman hidup sehari-hari siswa, baikdi lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah.

2. Pantun

Pantun yang dibuat merupakan karya siswa dalam bentuk pantunanak yang menarik berisi tentang kehidupan sehari-hari, alamsemesta, atau pengalaman kemasyarakatan seperti: persahabatan,ketekunan, kepatuhan, dan lain-lain,

3. Laporan/resensi atau komentar buku

Laporan/resensi atau komentar buku, merupakan karya siswa dalammelaporkan, meresensi, atau memberikan komentar terhadap isibuku baik buku asli ataupun buku saduran setelah dibaca. Penyajianhasil laporan/resensi atau komentar buku tersebut harusmencantumkan judul, pengarang, jumlah halaman, penerbit, dan isibuku dengan kalimat yang runtut. Jenis buku yang dipilih dapatdilihat pada lampiran judul buku. Siswa dapat juga membuat resensidari buku sastra lainnya selain judul dimaksud sepanjang bukunyatelah mendapat pengesahan dari Pusat Perbukuan KementerianPendidikan Nasional.

Tema Kegiatan

“Melalui Olah Rasa Kita Tingkatkan Kreativitas Siswa dalam Sastra untuk Mencintai Bahasa dan Budaya Indonesia”

Persyaratan Peserta

  1. Peserta adalah siswa SD/MI, baik negeri maupun swasta.
  2. Peserta wajib melampirkan surat keterangan dari Kepala Sekolah.
  3. Setiap peserta hanya dapat mengirimkan 1 (satu) buah karya sastrasebagai kesatuan yang utuh, terdiri atas 3 komponen, yaitu (a)naskah cerita, (b) pantun, dan (c) laporan/resensi buku.
  4. Setiap naskah yang akan dilombakan harus disahkan keasliannyaoleh Kepala Sekolah yang bersangkutan dengan mencantumkanidentitas peserta (terlampir).
  5. Naskah yang dikirimkan harus asli dan belum dipublikasikan.
  6. Pengiriman naskah harus dikemas dengan baik dan rapi agar tidakrusak selama pengiriman,
  7. Karya sastra paling lambat diterima oleh panitia (Cap Pos) padatanggal 15 Agustus 2010, yang dikirim ke:

Panitia Olimpiade Sastra Indonesia untuk Siswa SD/MI Direktorat Pembinaan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Gedung E Kementerian Pendidikan Nasional, Lt.17 Jl. Jenderal Sudirman – Senayan Jakarta 10270 Telp. (021) 572-5641, 572-5635 Email: elvira_2345@yahoo.com gusmayadi@yahoo.com hoeshani@cbn.net.id

Pemenang dan Hadiah

Untuk pemenang yang meraih juara I, II, dan III, serta harapan I, II, danII akan memperoleh piala dan tabanas. Penghargaan khusus juga akandiberikan kepada naskah yang dianggap juri sebagai karya yang “unikdan menarik” sehingga layak untuk memperoleh penghargaan.

Petunjuk

Petunjuk penulisan karya secara lengkap dapat diunduh dengan klik tautan berikut:

Panduan Olimpiade-Sastra-2010-SD-MI

Fungsi, Tujuan, dan Jenis PAUD


Pendidikan  anak  usia  dini  adalah  suatu  upaya  pembinaan  yang  ditujukan  kepada anak  sejak  lahir  sampai  dengan  usia  6  (enam)  tahun  yang  dilakukan  melalui pemberian  rangsangan  pendidikan  untuk  membantu  pertumbuhan  dan perkembangan  jasmani  dan  rohani  agar  anak memiliki  kesiapan  dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Fungsi dan Tujuan PAUD

Berdasarkan PP 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidiukan, fungsi dan tujuan PAUD diatur dalam Pasal 61. Berikut bunyi lengkapnya:

(1)  Pendidikan anak usia dini berfungsi membina, menumbuhkan, dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya.

(2)  Pendidikan anak usia dini bertujuan:

a.  membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkepribadian luhur, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab; dan

b.  mengembangkan potensi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, kinestetis, dan social peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan.

Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan PAUD

PAUD Jalur Formal (Pasal 62)

(1) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat.

(2) TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki program pembelajaran 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun.

(3) TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan menyatu dengan SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat.

PAUD Jalur Nonformal (Pasal 107)

(1)       Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan pendidikan anak usia dini yang sejenis.

(2) Kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan pendidikan anak usia dini yang sejenis menyelenggarakan pendidikan dalam konteks:

a. bermain sambil belajar dalam rangka pembelajaran agama dan ahlak mulia;

b. bermain sambil belajar dalam rangka pembelajaran sosial dan kepribadian;

c. bermain sambil belajar dalam rangka pembelajaran estetika;

d. bermain sambil belajar dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan; dan

e. bermain sambil belajar dalam rangka merangsang minat kepada ilmu pengetahuan dan teknologi.

(3) Peserta didik kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan pendidikan anak usia dini jalur pendidikan nonformal yang sejenis dapat dievaluasi perkembangannya tanpa melalui proses yang bersifat menguji kompetensi.

Penerimaan Peserta Didik Pasal 63

Peserta didik TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun.

Informasi sekilas di atas adalah merupakan sebagain isi dari PP 17 tahun 2010. Bila berminat, PP ini dapat diunduh secara gratis dengan klik tautan derikut:

Tujuan, Prinsip, dan Filsafat Pendidikan TPA


Pengertian

Taman Penitipan Anak (TPA) merupakan salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus pengasuhan  dan  kesejahteraan  sosial  terhadap  anak  sejak  lahir  sampai dengan usia enam tahun.

Tujuan layanan Program TPA adalah:

a.  Memberikan  layanan  kepada  anak  usia  0  –  6  tahun  yang  terpaksa ditinggal orang tua karena pekerjaan atau halangan lainnya.

b.  Memberikan  layanan  yang  terkait  dengan  pemenuhan  hak-hak  anak untuk  tumbuh  dan  berkembang,  mendapatkan  perlindungan  dan  kasih sayang, serta hak untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosialnya

Pengelompokkan Usia

Kegiatan  pengasuhan  dan  bermain  di  TPA  dilakukan  dengan  cara

dikelompokkan berdasarkan usia, dengan pengelompokkan sebagai berikut:

a. Kelompok usia 3 bulan - < 2 tahun
b. Kelompok usia 2 tahun - < 4 tahun
c. Kelompok usia 4 tahun - < 6 tahun

Prinsip Umum Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini yang diterapkan dalam program TPA didasarkan atas prinsip-prinsip berikut:

  1. Berorientasi pada kebutuhan anak.
  2. Sesuai dengan perkembangan anak.
  3. Sesuai dengan keunikan setiap individu.
  4. Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain.
  5. Anak belajar dari yang konkrit ke abstrak, dari yang sederhana ke yang kompleks, dari gerakan ke verbal, dan dari diri sendiri ke sosial.
  6. Anak sebagai pembelajar aktif.
  7. Anak belajar melalui interaksi sosial
  8. Menyediakan lingkungan yang mendukung proses belajar.
  9. Merangsang munculnya kreativitas dan inovatif.
  10. Mengembangkan  kecakapan hidup anak.
  11. Menggunakan  berbagai  sumber  dan  media  belajar  yang  ada  di lingkungan sekitar.
  12. Anak belajar sesuai dengan kondisi sosial budayanya.
  13. Melibatkan  peran  serta  orangtua  yang  bekerja  sama  dengan  para pendidik di lembaga PAUD.
  14. timulasi  pendidikan  bersifat  menyeluruh  yang  mencakup  semua aspek perkembangan.

Berikut penjelasan prinsip-prinsip dimaksud:

1.  Berorientasi pada kebutuhan anak.

Pada  dasarnya  setiap  anak memiliki  kebutuhan  dasar  yang  sama,  seperti kebutuhan  fisik,  rasa aman, dihargai,  tidak dibeda-bedakan, bersosialisasi, dan kebutuhan untuk diakui. Anak tidak bisa belajar dengan baik apabila dia lapar, merasa tidak aman/ takut, lingkungan tidak sehat, tidak dihargai atau diacuhkan  oleh  pendidik  atau  temannya.  Hukuman  dan  pujian  tidak termasuk  bagian  dari  kebutuhan  anak,  karenanya  pendidik  tidak menggunakan  keduanya  untuk  mendisiplinkan  atau  menguatkan  usaha yang ditunjukkan anak.

2.  Sesuai dengan perkembangan anak.

Setiap usia mempunyai tugas perkembangan yang berbeda, misalnya pada usia 4 bulan pada umumnya anak bisa tengkurap, usia 6 bulan bisa duduk, 10 bulan bisa berdiri, dan 1 tahun bisa berjalan. Pada dasarnya semua anak memiliki pola perkembangan yang dapat diramalkan, misalnya anak akan bisa berjalan setelah bisa  berdiri.  Oleh  karena  itu  pendidik  harus  memahami  tahap  perkembangan anak  dan  menyusun  kegiatan  sesuai  dengan  tahapan  perkembangan  untuk mendukung pencapaian tahap perkembangan yang lebih tinggi.

3.  Sesuai dengan keunikan setiap individu.

Anak  merupakan  individu  yang  unik,  masing-masing  mempunyai  gaya belajar  yang  berbeda.  Ada  anak  yang  lebih  mudah  belajarnya  dengan mendengarkan  (auditori),  ada  yang  dengan melihat  (visual)  dan  ada  yang harus dengan bergerak (kinestetik). Anak juga memiliki minat yang berbeda-beda  terhadap  alat/  bahan  yang  dipelajari/digunakan,  juga  mempunyai temperamen  yang  berbeda,  bahasa  yang  berbeda,  cara  merespon lingkungan,  serta  kebiasaan  yang  berbeda.  Pendidik  seharusnya mempertimbangkan perbedaan  individual anak, serta mengakui perbedaan tersebut  sebagai  kelebihan  masing-masing  anak.  Untuk  mendukung  hal tersebut  pendidik  harus  menggunakan  cara  yang  beragam  dalam membangun  pengalaman  anak,  serta  menyediakan  ragam  main  yang cukup.

4.  Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain.

Pembelajaran dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Melalui bermain anak  belajar  tentang:  konsep-konsep  matematika,  sains,  seni  dan

kreativitas,  bahasa,  sosial,  dan  lain-lain.  Selama  bermain,  anak mendapatkan  pengalaman  untuk  mengembangkan  aspek-aspek/nilai-nilai moral,  fisik/motorik,  kognitif,  bahasa,  sosial  emosional,  dan  seni. Pembentukan  kebiasaan  yang  baik  seperti  disiplin,  sopan  santun,  dan lainnya dikenalkan melalui cara yang menyenangkan.

Dasar Filsafat Pendidikan Di TPA

Untuk mendukung mewujudkan  anak  usia  dini  yang  berkualitas, maju, mandiri, demokrasi,  dan  berprestasi, maka  filsafat  pendidikan  di  TPA  dapat  dirumuskan menjadi: Tempa, Asah, Asih, Asuh.

1.  Tempa

Yang dimaksud dengan  tempa adalah untuk mewujudkan kualitas  fisik anak usia  dini  melalui  upaya  pemeliharaan  kesehatan,  peningkatan  mutu  gizi, olahraga  yang  teratur  dan  terukur,  serta  aktivitas  jasmani  sehingga  anak memiliki fisik kuat, lincah, daya tahan dan disiplin tinggi.

2.  Asah

Asah  berarti  memberi  dukungan  kepada  anak  untuk  dapat  belajar  melalui bermain  agar  memiliki  pengalaman  yang  berguna  dalam  mengembangkan seluruh  potensinya.  Kegiatan  bermain  yang  bermakna,  menarik,  dan merangsang  imajinasi,  kreativitas  anak  untuk  melakukan,  mengekplorasi, memanipulasi,  dan  menemukan  inovasi  sesuai  dengan  minat  dan  gaya belajar anak.

3.  Asih

Asih  pada  dasarnya  merupakan  penjaminan  pemenuhan  kebutuhan  anak untuk  mendapatkan  perlindungan  dari  pengaruh  yang  dapat  merugikan pertumbuhan  dan  perkembangan, misalnya  perlakuan  kasar,  penganiayaan fisik dan mental dan ekploitasi.

4.  Asuh

Melalui  pembiasaan  yang  dilakukan  secara  konsisten  untuk  membentuk perilaku dan kualitas kepribadian dan jati diri anak dalam hal:

  • a.  Integritas, iman, dan taqwa;
  • b.  Patriotisme, nasionalisme dan kepeloporan;
  • c.  Rasa tanggung jawab, jiwa kesatria, dan sportivitas;
  • d.  Jiwa kebersamaan, demokratis, dan tahan uji;
  • e.  Jiwa tanggap (penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi), daya kritis dan idealisme;
  • f.  Optimis dan keberanian mengambil resiko;
  • g.  Jiwa kewirausahaan, kreatif dan profesional.

Buku Pedoman

Tulisan sederhana di atas adalah cuplikan isi dari buku Pedoman Teknis Penyelnggaraan TPA. Buku ini diterbitkan oleh  Kementerian Pendidikan Nasional melalui Direktorat PAUD Ditjen Pendidikan Formal Nonformal. Ada 7 bab yang dijelaskan dalam buku ini dan ditambah dengan 9 lampiran:

  • Bab 1   Pendahuluan: Latar belakang, Pengertian, Dasar hukum, Tujuan pedoman
  • Bab 2   Prinsip: Prinsip umum pendidikan anak usia dini, Dasar filsafat pendidikan di TPA.
  • Bab 3   Peserta didik, Pendidik, Pengelola
  • Bab 4   Pengelolaan dan layanan:  Kurikulum, Pengelompokkan peserta, Alokasi waktu layanan, Ratio guru/ guru pendamping dengan anak, Kalender pendidikan, Perencanaan kegiatan pembelajaran, Pengelolaan proses kegiatan, Penilaian, Layanan kesehatan dan Gizi,   Program orang tua, Indikator keberhasilan
  • Bab 5   Pengelolaan sarana dan prasarana: Tempat belajar, Sarana belajar, Alat permainan, Bahan ajar, Pemeliharaan kebersihan dan tindakan darurat
  • Bab 6   Pengelolaan administrasi:  Perizinan,  Jenis administrasi Pembiayaan,  Pengelolaan,
  • Bab 7   Evaluasi, pelaporan, dan pembinaan.

Lampiran-lampiran:

  • 1.  Jenis-jenis Layanan Minimal pada Taman Penitipan Anak
  • 2.  Formulir Pendaftaran Peserta Didik Taman Penitipan Anak
  • 3.  Contoh Buku Kas Sederhana
  • 4.  Contoh Kartu Pembayaran/Iuran
  • 5.  Contoh Format Buku Induk Anak
  • 6.  Contoh Format Buku Induk Pengelola, Pendidikan dan  Pengasuh
  • 7.  Buku Komunikasi/Penghubung
  • 8.  Contoh Surat Tanda Serta Belajar di  TPA
  • 9.  Grafik Berat Badan, Tinggi Badan, Panjang Badan,  Lingkaran Kepala

Melihat daftar isi sebagaimana disebut di atas, pedoman ini mutlak dimiliki oleh penyelenggara TPA. Bila berminat, buku dapat diunduh secara gratis dengan klik tautan berikut:

Buku Pedoman-Teknis-Penyelenggaraan-TPA

PP_17/2010_ttg Pengelolaan dan Penyelenggaraan_Pendidikan

Lomba Keterampilan dan Seni Agama Islam 2010


Lomba keterampilan dan seni agama Islam bagi siswa SD, SMP, SMA/SMK atau dinamakan PENTAS (Pekan Keterampilan dan Seni) tahun 2010 akan dilakasanakan 21-25 Juli 2010 di Asrama Haji Bekasi Jawa Barat.

PENTAS PAI ini diharapkan dapat memperkuat ukhuwah Islamiyah dan membina persaudaraan diantara siswa SD, SMP, SMA dan SMK yang pada gilirannya dapat menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Juga, dapat menjadi motivasi bagi siswa dalam mengikuti Pendidikan Agama Islam secara keseluruhan. Karenanya, dengan adanya lomba ini dapat memberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri, mengembangkan minat, bakat, dan kreatifitas di bidang keterampilan dan seni PAI.

Selain itu, PENTAS PAI diharapkan mendorong terwujudnya budaya keislaman di sekolah yang indah, yang pada gilirannya dapat meningkatkan keimanan, ketaqwaan dan akhlaq mulia para siswa.

Jenis lomba pada PENTAS PAI pada tahun 2010 ini meliputi :
1. Tingkat SD adalah membaca Al-Qur`an dan Saritilawah dan Pidato
2. Tingkat SMP adalah Cerdas Cermat dan Pidato
3. Tingkat SMA/SMK adalah Nasyid dan Lomba Cerita Remaja Islam (Ceris)

Pendaftaran peserta Pentas PAI 2010 dapat dilakukan melalui :
1. Dinas Pendidikan Provinsi menyampaikan peserta lomba ke Kanwil Kementerian Agama Provinsi cq. Bidang Mapenda/Kependa Islam setempat.
2. Untuk selanjutnya Bidang Mapenda mendaftarkan ke panitia penyelenggara, yaitu: Subdit Kesiswaan Direktorat Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI.
3. Pendaftaran peserta sudah diterima oleh Panitia paling lambat 15 hari sebelum pelaksanaan kegiatan.

Sumber: http://www.pendis.depag.go.id/

Peningkatan Kompetensi Pengawas Sekolah dalam Membimbing Guru


Program peningkatan mutu  guru untuk menjadi profesional tidak terlepas dari mutu Pengawas Sekolah/Pengawas Satuan Pendidikan, mengingat posisi strategis pengawas sekolah sebagai pembina di sekolah binannya, oleh karena itu upaya peningkatan kompetensi pengawas sekolah dalam melaksanakan pembimbingan dan pelatihan keterampilan guru dalam melaksanakan tugas pokoknya menjadi sangat penting dan strategis. Hal ini perlu dilakukan melalui kerjasama berbagai pihak yang terlibat. Tugas pengawas satuan pendidikan/pengawas sekolah dalam melakukan pembimbingan dan pelatihan profesional guru dalam melaksanakan tugas pokoknya yaitu merencanakan, melaksanakan dan menilai proses pembelajaran/pembimbingan, dan membina tenaga kependidikan lainnya baik pada satuan pendidikan maupun melalui KKG/MGMP/MKKS atau bentuk lain yang dapat meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan lainnya. Untuk memperoleh pemahaman bersama tentang pelaksanaan tugas pengawas satuan pendidikan sesuai dengan amanat peraturan perundang undangan, maka perlu disusun satu model pola pembimbingan terhadap guru maupun kepala sekolah melalui model perangkat pengawasan baik pengawasan akademik maupun pengawasan manajerial.

Dalam rangka implementasi tugas pengawasan sesuai dengan Permendiknas Nomor 39 tahun 2009 dan Permendiknas Nomor 21 tahun 2007, maka diperlukan adanya pengawas sekolah yang memiliki kemampuan menejerial, yaitu: (1) Pengawas sekolah yang mampu melakukan supervisi/kepengawasan pendidikan (2) Pengawas sekolah yang mampu atau memiliki kompetensi sebagai pengawas; (3) Pengawas sekolah memiliki kinerja yang baik; (4) Pengawas sekolah yang mampu menyusun program kerja kepengawasan, dan (5) Pengawas sekolah yang mampu menilai kinerja sekolah.

Dalam melaksanakan tugas pokoknya, pengawas sekolah harus mampu memotivasi, mendorong, menggalang, mengarahkan, membimbing, mensupervisi seluruh pendidik dan tenaga kependidikan yang menjadi tanggung jawabnya.

Berdasarkan rasional di atas pada tahun 2009 Direktorat Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional memprogramkan kegiatan peningkatan kompetensi pengawas sekolah dalam melakukan pembimbingan dan pelatihan profesionalisme guru dasn tugas pengawasan.

Kegiatan kompetensi pengawas diikuti oleh 600 orang yang terdiri dari pengawas TK/SD, SMP, dan PLB dari berbagai daerah yang terbagi dalam 4 region yaitu: Riau, Bandung Sawangan Bogor dan Makassar.

Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih atas peran aktif semua pihak yang telah memberikan kontribusinya bagi usaha peningkatan mutu tenaga kependidikan di Indonesia.

Program peningkatan mutu  guru untuk menjadi profesional tidak terlepas dari mutu Pengawas Sekolah/Pengawas Satuan Pendidikan, mengingat posisi strategis pengawas sekolah sebagai pembina di sekolah binannya, oleh karena itu upaya peningkatan kompetensi pengawas sekolah dalam melaksanakan pembimbingan dan pelatihan keterampilan guru dalam melaksanakan tugas pokoknya menjadi sangat penting dan strategis. Hal ini perlu dilakukan melalui kerjasama berbagai pihak yang terlibat. Tugas pengawas satuan pendidikan/pengawas sekolah dalam melakukan pembimbingan dan pelatihan profesional guru dalam melaksanakan tugas pokoknya yaitu merencanakan, melaksanakan dan menilai proses pembelajaran/pembimbingan, dan membina tenaga kependidikan lainnya baik pada satuan pendidikan maupun melalui KKG/MGMP/MKKS atau bentuk lain yang dapat meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan lainnya. Untuk memperoleh pemahaman bersama tentang pelaksanaan tugas pengawas satuan pendidikan sesuai dengan amanat peraturan perundang undangan, maka perlu disusun satu model pola pembimbingan terhadap guru maupun kepala sekolah melalui model perangkat pengawasan baik pengawasan akademik maupun pengawasan manajerial.

Dalam rangka implementasi tugas pengawasan sesuai dengan Permendiknas Nomor 39 tahun 2009 dan Permendiknas Nomor 21 tahun 2007, maka diperlukan adanya pengawas sekolah yang memiliki kemampuan menejerial, yaitu: (1) Pengawas sekolah yang mampu melakukan supervisi/kepengawasan pendidikan (2) Pengawas sekolah yang mampu atau memiliki kompetensi sebagai pengawas; (3) Pengawas sekolah memiliki kinerja yang baik; (4) Pengawas sekolah yang mampu menyusun program kerja kepengawasan, dan (5) Pengawas sekolah yang mampu menilai kinerja sekolah.

Dalam melaksanakan tugas pokoknya, pengawas sekolah harus mampu memotivasi, mendorong, menggalang, mengarahkan, membimbing, mensupervisi seluruh pendidik dan tenaga kependidikan yang menjadi tanggung jawabnya.

Berdasarkan rasional di atas pada tahun 2009 Direktorat Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional memprogramkan kegiatan peningkatan kompetensi pengawas sekolah dalam melakukan pembimbingan dan pelatihan profesionalisme guru dasn tugas pengawasan.

Kegiatan kompetensi pengawas diikuti oleh 600 orang yang terdiri dari pengawas TK/SD, SMP, dan PLB dari berbagai daerah yang terbagi dalam 4 region yaitu: Riau, Bandung Sawangan Bogor dan Makassar. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih atas peran aktif semua pihak yang telah memberikan kontribusinya bagi usaha peningkatan mutu tenaga kependidikan di Indonesia.

Sumber: http://pmptk.depdiknas.go.id/ diakses pada 24 Februari 2010.

Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia 2010


Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) tahun 2010 ini merupakan yang ke-9. Penyelenggara kegiatan adalah kerjasama antara Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan AJB Bumiputera 1912. Peserta yang dapat mengikuti adalah perseorangan/kelompok remaja Indonesia berusia 20-24 tahun terhitung pada tanggal 30 Oktober 2010 dan masih belum lulus program Strata I. Karya harus sudah diterima paling lambat 9 Oktober 2010 (stempel pos).

Berikut ketentuan lomba:
Bidang Lomba:

  1. Bidang Ilmu Pengetahuan Alam
  2. Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan
  3. Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik

Persyaratan

  1. Karya tulis dan karya cipta harus dari hasil penelitian peserta.
  2. Peserta berusia 20-24 tahun terhitung pada tanggal 30 Oktober 2010 dan masih belum lulus program Strata I.
  3. Diwajibkan melampirkan riwayat hidup yang diketahui oleh orangtua/wali dan Kepala Sekolah/Dekan, cantumkan alamat yang mudah dipahami (No, telp, HP, faksimile, atau e-mail).
  4. Karya tulis yang dikirimkan 1 (satu) asli dan disertai 3 (tiga) rangkap salinan/foto copy dan belum pernah diikutsertakan dalam lomba ilmiah tingkat nasional lainnya. Disertai rekomendasi dari Kepala Sekolah / Dekan, inti sari hasil penelitian dan contoh (bila ada) penelitian/alat peraga hasil cipta/prototype untuk disajikan dihadapan Dewan Juri. Diketik dengan jarak 1 ½ spasi, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  5. Maksimum 20 hal dengan font Arial, size 11 dan diterima paling lambat 9 Oktober 2010 (stempel pos).
  6. Peserta adalah perseorangan/kelompok.
  7. Khusus bagi peserta kelompok yang akan dipanggil sebagai finalis hanya seorang (peneliti utama) untuk menyajikan karya tulis yang diperlombakan. Nama pertama dari susunan kelompoknya adalah sebagai peneliti utama. Bila peneliti utama berhalangan hadir, dapat diwakilkan oleh seorang anggota dengan persetujuan kelompoknya. Jumlah anggota kelompok maksimal 3 orang (termasuk peneliti utama).
  8. Bagi finalis yang terpilih wajib menyerahkan softcopy karya tulis dalam bentuk CD kepada panitia pada saat registrasi.
  9. Presentasi hasil penelitian oleh finalis dalam bentuk Power Point atau program sejenis yang dapat ditayangkan melalui LCD.
  10. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat dengan Dewan Juri

Agenda Kegiatan:

Penerimaan karya tulis (paling lambat-stempel pos):9 Oktober 2010
Registrasi Finalis LKIR: 21 November 2010
Presentasi : 22 November 2010
Audiensi dan Field Trip: 23 November 2010
Malam Penganugerahan : 23 November 2010

Lomba Kreativitas Ilmiah Guru 2010


Lomba ini dinamakan Lomba Kreativitas Ilmiah Guru Ke-18. Lomba yang diselenggarakan atas kerjasama antara Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan AJB Bumiputera 1912. Peserta lomba adalah Guru SD/sederajat, Guru SMP/sederajat, dan SMA/sederajat. Karya ilmiah diterima panitia paling lambat tanggal 3 Juli 2010. Berikut ketentuan lomba:

TINGKAT DAN BIDANG LOMBA
Guru SD/sederajat: umum (salah satu pelajaran)
Guru SMP/sederajat dan SMA/sederajat : 2 Bidang (Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan dan Bidang Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Teknologi)

PERSYARATAN

  1. Peserta adalah guru yang mengajar pada lembaga pendidikan formal.
  2. Belum pernah menjadi pemenang LKIG dalam kurun waktu dua tahun terakhir.
  3. Sistematika Penulisan: Abstrak, Pendahuluan, Metodologi, Isi/Pembahasan, Kesimpulan dan Daftar Pusaka
  4. Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, diketik HVS A4, berjarak 1 ½ spasi dengan jenis huruf Arial ukuran 11.
  5. Karya ilmiah harus asli (bukan jiplakan/plagiat) dan belum/sedang diikutsertakan dalam lomba sejenis tingkat nasional.
  6. Jumlah halaman karya ilmiah maksimal 25 halaman (termasuk sketsa/gambar/foto)
  7. Melampirkan rekomendasi Kepala Sekolah dan Daftar Riwayat Hidup serta mencantumkan alamat dan nomor telepon/fax kantor/rumah/HP yang mudah dihubungi.
  8. Karya ilmiah sebanyak 4 eksemplar (1 asli, 3 fotocopy) dan soft copy (CD) diterima panitia paling lambat tanggal 3 Juli 2010
  9. Pada pojok kiri atas sampul ditulis tingkat dan bidang lomba yang diikuti
  10. Warna sampul karya ilmiah: SD (merah), SMP Bidang IPSK (kuning), SMP Bidang MIPATEK (biru), SMA Bidang IPSK (hijau), dan SMA Bidang MIPATEK (oranye).
  11. Karya ilmiah dan alat peraga yang diperlombakan menjadi milik panitia
  12. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.

Hadiah

Di setiap bidang akan dipilih 5 finalis. Dari 5 finalis, akan diseleksi menjadi 3 pemenang (I,II, dan III).

Para pemenang akan mendapatkan piala dan piagam penghargaan dari LIPI. Selain itu, para pemenang akan memperoleh hadiah uang tunai dari AJB Bumiputera 1912.

Pemenang I akan mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp 12 juta, pemenang II akan mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp 10 juta, dan pemenang III akan mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp 8 juta.

Sedangkan para finalis yang tidak berhasil menjadi pemenang akan mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp 1juta.

Sehingga total hadiah uang tunai sejumlah Rp. 160 juta.Tempat penyelenggaraan kegiatan serta penginapan para finalis, dewan juri dan panitia selama masa karantina di Jakarta difasilitasi oleh Bumiputera. “Bumiputera didirikan oleh Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB), oleh karena itu Bumiputera turut bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas guru Indonesia. Salah satunya dengan mendukung kegiatan LKIG ini,” kata Ana Mustamin – Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan AJB Bumiputera 1912.

Alamat dan kontak panitia:

  • Panitia LKIG Ke-18 Tahun 2010 Biro Kerjasama dan Pemasyarakatan IPTEK LIPI Sasana Widya Sarwono Lt.V Jl. Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta Selatan 12710 Telepon 021-52920839/021-5225711 Psw. 273, 274, dan 276  Fax. 021-52920839/021-5225711
  • Atau komunikasi melalui email, silakan klik di sini kemudian masuk lewat menu “kontak.”


Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2010


Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Tahun 2010 merupakan event ke-42. Lomba ini diselenggarakan atas kerjasama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) – AJB Bumiputera 1912. Peserta, bisa Usia 12-19 tahun terhitung pada tanggal 25 September 2010 Perorangan atau kelompok maksimal 3 orang. Bidang penelitian yang dilombakan terdiri IPS, IPA, dan Ilmu Teknik Rekayasa. Proposal penelitian dikirimkan secara elektronik melalui situs LKIR 2010 diterima oleh panitia selambat-lambatnya tanggal 15 Juli 2010. Peserta sangat dianjurkan untuk mengirim secara elektronik, dan hanya bila tidak memungkinkan bisa dikirim melalui pos tetapi harus dilengkapi dengan berkas elektronik lengkap.


PERSYARATAN LOMBA

PESERTA

  1. Usia 12-19 tahun terhitung pada tanggal 25 September 2010
  2. Perorangan atau kelompok maksimal 3 orang
  3. Belum pernah menjadi pemenang LKIR dalam kurun waktu dua tahun terakhir
    1. Melampirkan surat keterangan dari sekolah/instansi terkait, riwayat hidup diketahui oleh orangtua  atau wali, mencantumkan alamat dan nomor telepon yang  mudah dihubungi.

BIDANG  PENELITIAN

  1. Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial.
  2. Bidang Ilmu Pengetahuan Alam
  3. Bidang Ilmu Teknik dan Rekayasa

PENULISAN PROPOSAL PENELITIAN (maksimal 10 halaman)

  1. Judul bebas (dalam konteks obyek penelitian)
    1. Materi merupakan proposal penelitian yang akan dilaksanakan dengan metode ilmiah dan ditulis sesuai dengan kaidah penulisan yang benar, memakai template yang telah ditentukan meliputi :
  • Judul dan nama penulis dalam 1 halaman
  • Penulisan abstrak tidak lebih dari 300 kata
  • Substansi: pendahuluan, masalah yang akan diteliti, hal baru yang diajukan terkait masalah, metode yang akan dilakukan sebagai justifikasi atas hal baru yang diajukan, kesimpulan, referensi
  • Daftar riwayat hidup setiap penulis
  • Menandatangani perjanjian diatas meterai
  • Format judul dan abstrak dapat diunduh di bagian akhir tulisan ini.
  1. Diketik dengan jarak 1½ spasi, jenis huruf Arial, ukuran huruf 11, menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar
  2. Proposal penelitian dikirimkan secara elektronik melalui situs LKIR 2010 diterima oleh panitia selambat-lambatnya tanggal 15 Juli 2010. Peserta sangat dianjurkan untuk mengirim secara elektronik, dan hanya bila tidak memungkinkan bisa dikirim melalui pos tetapi harus dilengkapi dengan berkas elektronik lengkap.
  3. Pengumuman proposal penelitian yang disetujui akan dilakukan pembimbingan oleh LIPI diinformasikan pada tanggal 1 Agustus 2010 melalui situs di atas
  4. 6. Kegiatan pembimbingan penelitian proposal yang telah disetujui akan dilakukan dalam periode Agustus – Oktober 2010
  5. 7. Pengiriman hasil akhir penelitian yang telah melalui proses pembimbingan, harap dikirim melalui situs LKIR 2010 dan harus diterima Panitia paling lambat pada tanggal 30 Oktober 2010
  6. Finalis  akan diundang ke Jakarta untuk presentasi. Bagi finalis kelompok, yang diundang hanya  Peneliti Utama (berada di urutan pertama) untuk mewakili kelompoknya. Pengumuman finalis dapat dilihat melalui situs LKIR 2010 pada tanggal 7 November 2010
  7. Pemenang LKIR 2010 diumumkan pada malam penganugerahan
  8. Panitia berhak menyebarluaskan karya tulis dan alat peraga yang diperlombakan melalui berbagai media
  9. Panduan dan informasi lomba dapat dilihat melalui situs LKIR 2010

HADIAH

Pemenang akan mendapatkan uang tunai dari AJB Bumiputera 1912 dan Piala serta Piagam Penghargaan dari LIPI

Pemenang I       : Rp 12.000.000,- (Dua belas juta rupiah)

Pemenang II      : Rp 10.000.000,- (Sepuluh juta rupiah)

Pemenang III     : Rp   8.000.000,- (Delapan juta rupiah)

RANGKAIAN KEGIATAN

  1. Penerimaan proposal penelitian              :  15 Juli 2010 (paling lambat)
  2. Pengumuman proposal yang dibimbing   :  1 Agustus 2010
  3. Proses pembimbingan penelitian                 :   Agustus- Oktober
  4. Penerimaan hasil akhir penelitian (Full Paper)   :  30 Oktober 2010
  5. Pengumuman Pemanggilan Finalis               :  7 November 2010
  6. Registrasi Finalis LKIR                                       :  21 November 2010
  7. Presentasi                                                                 :  22 November 2010
  8. Audiensi dan Field Trip                                      :  23 November 2010
  9. Malam Penganugerahan                                     :  23 November 2010

Proses pembimbingan proposal penelitian akan dilakukan oleh Pembimbing (Scientific Review Committee/SRC) yang ditentukan oleh LIPI.

Panitia Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-42 Tahun 2010
Gedung Sasana Widya Sarwono Lt. 5
Jl. Jend. Gatot Subroto No. 10
Jakarta Selatan 12710
Telp (021) 5225711, ext. 273, 274, 276
Fax. (021) 52920839, 5251834
Situs LKIR 2010 : http://kompetisi.lipi.go.id/lkir42

Lihat Lomba Karya Tulis/Penelitian yang lain  .   .   .

Dokumen untuk diunduh

Buku_Panduan Lengkap_LKIR_2010

Ketentuan Pajak untuk Dana BOS


Ketentuan peraturan perpajakan dalam penggunaan dana BOS, sebagimana dijelaskan dalam Buku Pedoman BOS 2010 adalah sebagai berikut. Untuk Buku Pedoman BOS 2010 dapai didownload di bagian akhir tulisan ini.

Ketentuan peraturan perpajakan dalam penggunaan dana BOS

1. Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOS untuk pembelian ATK/bahan/penggandaan dan lain-lain pada kegiatan penerimaan siswa baru;  kesiswaan; ulangan harian, ulangan umum, ujian sekolah dan laporan hasil belajar siswa; pembelian bahan-bahan habis pakai, seperti buku tulis, kapur tulis, pensil dan bahan praktikum; pengembangan profesi guru; pembelian bahan-bahan untuk perawatan/perbaikan ringan gedung sekolah

a. Bagi bendaharawan/pengelola dana BOS pada Sekolah Negeri atas penggunaan dana BOS sebagaimana tersebut di atas adalah:

i. Memungut PPh Pasal 22 sebesar 1,5% dari nilai pembelian tidak termasuk PPN dan menyetorkannya ke kas negara. Dalam hal nilai pembelian tersebut tidak melebihi jumlah Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) dan bukan merupakan jumlah yang dipecah-pecah, maka atas pengadaan atau pembelian barang tersebut tidak dilakukan pemungutan PPh Pasal 22.

ii. Memungut dan menyetor PPN sebesar 10% untuk nilai pembelian lebih dari Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) atas penyerahan Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak Rekanan Pemerintah. Namun untuk nilai pembelian ditambah PPN-nya jumlahnya tidak melebihi Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) dan bukan merupakan pembayaran yang dipecah-pecah, PPN yang terutang dipungut dan disetor oleh Pengusaha Kena Pajak Rekanan Pemerintah sesuai dengan ketentuan yang berlaku umum1. Pemungut PPN dalam hal ini bendaharawan pemerintah tidak perlumemungut PPN atas pembelian barang dan atau jasa yang dilakukan oleh bukan Pengusaha Kena Pajak2.

b. Bagi bendaharawan/pengelola dana BOS pada Sekolah bukan negeri adalah tidak termasuk bendaharawan pemerintah sehingga tidak termasuk sebagai pihak yang ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22 dan atau PPN.  Dengan demikian kewajiban perpajakan bagi bendaharawan/ pengelola dana BOS pada Sekolah Bukan Negeri yang terkait atas penggunaan dana BOS untuk belanja barang sebagaimana tersebut diatas adalah:

i. Tidak mempunyai kewajiban memungut PPh Pasal 22, karena tidak termasuk sebagai pihak yang ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22.

ii. Membayar PPN yang dipungut oleh pihak penjual (Pengusaha Kena Pajak).

2.   Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOS untuk pengadaan buku teks pelajaran dan buku referensi untuk dikoleksi di perpustakaan:

a. Bagi bendaharawan/pengelola dana BOS pada sekolah negeri atas penggunaan dana BOS untuk pengadaan buku pelajaran pokok dan buku penunjang untuk perpustakaan adalah:

i. Memungut PPh Pasal 22 sebesar 1,5% dari nilai pembelian tidak termasuk PPN dan menyetorkannya ke kas negara. Dalam hal nilai pembelian tersebut tidak melebihi jumlah Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) dan bukan merupakan jumlah yang dipecah-pecah, maka atas pengadaan atau pembelian barang tersebut tidak dilakukan pemungutan PPh Pasal 22.

ii. Atas pembelian buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama, PPN yang terutang dibebaskan.

iii. Memungut dan menyetor PPN sebesar 10% untuk nilai pembelian lebih dari Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) atas penyerahan Barang Kena Pajak berupa buku buku yang bukan buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama. Namun untuk nilai pembelian ditambah PPN-nya jumlahnya tidak melebihi Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) dan bukan merupakan pembayaran yang dipecah-pecah, PPN yang terutang dipungut dan disetor oleh Pengusaha Kena Pajak Rekanan Pemerintah.

b. Bendaharawan/pengelola dana BOS pada Sekolah Bukan Negeri adalah tidak termasuk bendaharawan pemerintah sehingga tidak termasuk sebagai pihak yang ditunjuk sebagai Pemungut PPh Pasal 22 dan atau PPN.  Dengan demikian kewajiban perpajakan bagi bendaharawan/ pengelola dana BOS pada Sekolah Bukan Negeri yang terkait dengan pengadaan buku teks pelajaran dan buku referensi untuk perpustakaan adalah:

i. Tidak mempunyai kewajiban memungut PPh Pasal 22, karena tidak termasuk sebagai pihak yang ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22.

ii. Atas pembelian buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama, PPN yang terutang dibebaskan.

iii. Membayar PPN yang dipungut oleh pihak penjual (Pengusaha Kena Pajak) atas pembelian buku yang bukan buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama.

3.   Kewajiban perpajakan yang terkait dengan pemberian honor pada kegiatan penerimaan siswa baru, kesiswaan, pengembangan profesi guru, penyusunan laporan BOS dan kegiatan pembelajaran pada SMP Terbuka. Semua bendaharawan/penanggung jawab dana BOS baik pada sekolah negeri maupun sekolah bukan negeri :

a. Atas pembayaran honor kepada guru non PNS sebagai peserta kegiatan, harus dipotong PPh Pasal 21 dengan menerapkan tarif Pasal 17 UU PPh sebesar 5 % dari jumlah bruto honor.

b. Atas pembayaran honor kepada guru PNS Golongan IIIA ke atas harus dipotong PPh Pasal 21 yang bersifat final sebesar 15% dari jumlah honor.

c. Atas pembayaran honor kepada guru PNS Golongan IID ke bawah tidak dilakukan pemotongan PPh Pasal 21. Namun atas honor tersebut wajib dilaporkan dan dihitung PPh-nya dalam SPT Tahunan PPh Orang pribadi dari guru tersebut.

4. Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOS dalam rangka membayar honorarium guru dan tenaga kependidikan honorer sekolah yang tidak dibiayai dari Pemerintah Pusat dan atau Daerah yang dibayarkan bulanan diatur sebagai berikut:

a. Penghasilan rutin setiap bulan untuk guru tidak tetap (GTT), Tenaga Kependidikan Honorer, Pegawai Tidak Tetap (PTT), untuk jumlah sebulan sampai dengan Rp 1.320.000,- (satu juta tiga ratus dua puluhribu rupiah) tidak terhutang PPh Pasal 21.

b. Untuk jumlah lebih dari itu, PPh Pasal 21 dihitung dengan menyetahunkan penghasilan sebulan. Dengan perhitungan sebagai berikut:

i.      Penghasilan sebulan  XX

ii.      Dikurangi biaya jabatan 5%, maks Rp 500.000 sebulan  (XX)

iii.     Penghasilan netto sebulan  XX

iv.     Penghasilan netto setahun (x 12) XX

v.     Dikurangi PTKP*)  (XX)

vi.     Penghasilan Kena Pajak  XX

vii.    PPh Pasal 21 terutang setahun 5% (jumlah s.d. Rp 50 juta) dst  XX

viii.   PPh Pasal 21 sebulan (:12)  XX

*) Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Tahun 2009, adalah:

a. Status sendiri  Rp 15,84 juta

b. Tambahan status kawin Rp 1,32 juta

c. Tambahan tanggungan keluarga, maksimal 3 orang @  Rp 1,32 juta

5. Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOS, baik pada Sekolah Negeri, Sekolah Swasta, untuk membayar honor kepada tenaga kerja lepas orang pribadi yang melaksanakan kegiatan perawatan atau pemeliharaan sekolah harus memotong PPh Pasal 21 dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Jika upah harian atau rata-rata upah harian yang diterima tidak melebihi Rp 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah) dan jumlah seluruh upah yang diterima dalam bulan takwim yang bersangkutan belum melebihi Rp 1.320.000,- (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah), maka tidak ada PPh Pasal 21 yang dipotong;

b. Jika upah harian atau rata-rata upah harian yang diterima tidak melebihi Rp 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah), namun jumlah seluruh upah yang diterima dalam bulan takwim yang bersangkutan telah melebihi Rp 1.320.000,- (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah), maka pada saat jumlah seluruh upah telah melebihi Rp 1.320.000,- (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) harus dipotong PPh Pasal 21 sebesar 5% atas jumlah bruto upah setelah dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang sebenarnya;

c. Jika upah harian atau rata-rata upah harian yang diterima lebih dari Rp 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah) dan jumlah seluruh upah yang diterima dalam bulan takwim yang bersangkutan belum melebihi Rp 1.320.000,- (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah), maka harus dipotong PPh Pasal 21 sebesar 5% dari jumlah upah harian atau rata-rata upah harian di atas Rp 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah);

d. Jika upah harian atau rata-rata upah harian yang diterima lebih dari Rp 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah) dan jumlah seluruh upah yang diterima dalam bulan takwim yang bersangkutan telah melebihi Rp 1.320.000,- (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah), maka pada saat jumlah seluruh upah telah melebihi Rp 1.320.000,- (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah), harus dihitung kembali jumlah PPh Pasal 21 yang harus dipotong dengan menerapkan tarif 5% atas jumlah bruto upah setelah dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang sebenarnya.

Untuk lebih jelas mengenai pengenaan pajak pada dana BOS, dapat mendownload buku paduna BOS di bawah ini.

Dokumen untuk diunduh

Lomba Foto Sadar Wisata 2010


Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menyelenggarakan Lomba Foto Sadar Wisata terbuka untuk umum. Hadiah utama berupa uang 10 juta dan trofi dari menteri.

Bagi 100 foto nominasi terbaik akan diikutkan dalam suatu pameran. Foto-foto pemenang akan dipamerkan pada 30, 31 Juli dan 1 Agustus 2010. Pada hari terakhir pameran, hadiah bagi pemenang akan diserahkan.

Tema lomba: Sadar Wisata

Memperebutkan hadiah

Juara I : Rp 10 juta + Trophy Menteri + Piagam
Juara II : Rp 7,5 juta + Trophy Menteri + Piagam
Juara III : Rp 5 juta + Trophy Menteri + Piagam
Harapan I : Rp 3 juta + piagam
Harapan II : Rp 2 juta + piagam
Harapan III : Rp 1 juta + piagam
Door Prize : Rp 3 juta

Juri

Arbain Rambey - Ahli Fotografi (Kompas)
Sigit Pramono - Ahli Fotografi
Darwis Triadi - Ahli Fotografi
Erwin Nurdin - Pemerhati Fotografi
Bambang Wijanarko - Ahli Fotografi

Ketentuan Lomba Umum

  1. Tidak dipungut biaya dan Terbuka untuk umum (Panitia dan Dewan Juri tidak diperkenankan mengikuti lomba)
  2. Foto yang diperlombakan harus mengangkat salah satu atau lebih unsur dari Sapta Pesona, yaitu: Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, & Kenangan
  3. Jumlah foto peserta dibatasi maksimal 5 foto
  4. Foto merupakan milik pribadi (bukan karya orang lain), dan belum pernah diikutsertakan dalam lomba.
  5. Rekayasa digital diizinkan sebatas sama dengan yang biasa dilakukan dalam kamar gelap fotografi film
  6. Lokasi obyek pengambilan foto di wilayah Destinasi Pariwisata seluruh Indonesia

Pengiriman

  1. Foto cetak ukuran sisi panjang minimum 30 cm dan menyerahkan file digital dengan sisi panjang minimum 3000 pixel disimpan dalam format JPG medium (minimum skala 6) dalam bentuk CD. Format nama file digital: namapeserta_judul_lokasipemotretran. Foto digital harus masih mengandung EXIF. Untuk foto yang dibuat dengan film harus menyertakan klise asli.
  2. Dibalik foto harus dilekatkan kertas yang memuat data: Judul foto; Nama dan Alamat pemotret; No. Telp dan Hp, Peristiwa dan lokasi foto dan data teknis.
  3. Semua karya foto dimasukkan ke dalam amplop tertutup dan di sudut kiri atas amplop ditulis Lomba Foto Sadar Wisata 2010
  4. Foto dapat diantar langsung pada hari kerja atau dikirim ke Sekretariat Panitia Lomba, selambat-lambatnya di terima panitia tanggal 10 Juli 2010

Penilaian

  1. Foto yang masuk akan dinilai oleh Dewan Juri pada tanggal 16 Juli 201
  2. Panitia berhak mendiskualifikasi peserta sebelum dan sesudah penjurian apabila dianggap melakukan kecurangan
  3. Keputusan Dewan Juri sah dan tidak dapat diganggu gugat

Kriteria Rekayasa Digital

  1. Dodging dan burning diperbolehkan seminimal mungkin
  2. Penggunaan teknik ruang gelap digital hanya untuk membantu mengatur kisaran tone dinamis dari sebuah foto agar mendekati kenyataan.
  3. Solarized, mezo-tinted, duo tone dan sejenisnya tidak diperbolehkan.
  4. Pemotongan (cropping) diperbolehkan.
  5. Tidak diperkenankan mengirimkan gambar berupa kombinasi lebih dari satu foto atau menghilangkan atau merubah elemen-elemen dalam satu foto.

Pemenang

  1. Foto pemenang lomba akan dipamerkan tanggal 30, 31 Juli dan 1 Agustus 2010 dan nama pemenang serta penyerahan hadiah dilakukan pada hari terakhir pameran.
  2. 100 karya foto nominasi akan dipamerkan.
  3. Semua foto pemenang lomba menjadi milik Panitia dan Panitia berhak menggunakan sebagai bahan publikasi pariwisata, tanpa harus meminta izin terlebih dahulu.

Lain-lain

Panitia akan melakukan segala tindakan yang diperlukan untuk melindungi karya peserta, namun Panitia tidak bertanggung jawab atas kerusakan atau kehilangan yang timbul selama pengiriman dan pameran

Informasi lebih lanjut dapat dilihat di website ini.

Sekretariat Panitia Lomba Foto Sadar Wisata 2010
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata
Jl. Medan Merdeka Barat no.17 Jakarta 10110
Gedung Sapta Pesona Lt. 4

Tunjangan Profesi Guru Dapat Dihentikan/Dibatalkan


Tunjangan profesi bagi guru atau guru yang ditugaskan sebagai pengawas dapat mengalami mutasi, penghentian, atau pembatalan.

A.  Mutasi Pembayaran Tunjangan Profesi bagi Guru PNS Daerah

Mutasi pembayaran tunjangan profesi bagi Guru PNS Daerah dilakukan apabila terjadi mutasi sebagai berikut:

  1. pindah tugas ke sekolah di luar pembinaan Kementerian Pendidikan Nasional  atau sebaliknya,
  2. pindah tugas dari sekolah pada satu provinsi/kabupaten/kota ke sekolah di provinsi/kabupaten/kota lain, atau
  3. pindah tugas dari pejabat struktural yang berasal dari guru menjadi guru kembali.

Mutasi pembayaran tunjangan profesi dilakukan apabila SK mutasinya sudah diterbitkan oleh pemerintah daerah tempat tugas yang baru. Berkas yang harus dipersiapkan guru untuk mutasi pembayaran tunjangan profesi antara lain :

  1. Foto kopi Surat Keputusan mutasi
  2. Surat Keputusan tugas mengajar
  3. Foto kopi nomor rekening bank/pos yang bersangkutan, kecuali bagi daerah yang tidak memungkinkan.
  4. Surat Keputusan Penghentian Pembayaran Tunjangan Profesi dari tempat tugas sebelumnya.

Berkas tersebut disampaikan ke dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota tempat tugas yang baru.

B.  Penghentian Pembayaran

Pemberian tunjangan profesi dihentikan apabila guru penerima tunjangan profesi memenuhi salah satu atau beberapa keadaan sebagai berikut:

  1. meninggal dunia,
  2. mencapai batas usia pensiun,
  3. tidak lagi bertugas sebagai guru atau pengawas,
  4. tidak memenuhi kewajiban melaksanakan tugas 24 jam tatap muka per minggu,
  5. tidak mengampu mata pelajaran yang sesuai dengan sertifikat pendidik yang diperuntukannya, atau
  6. dengan alasan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kondisi tersebut di atas dibuktikan dengan surat resmi atau surat keterangan dari pihak yang berwenang. Berdasarkan surat resmi tersebut, kepala satuan pendidikan/ Dinas Pendikan Kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya  tidak memasukkan ke dalam daftar guru PNSD/ guru yang diangkat dalam jabatan pengawas yang akan menerima pembayaran tunjangan profesi pendidik.

C. Pembatalan Pembayaran

Tunjangan profesi bagi guru PNS Daerah dibatalkan pembayarannya dan wajib mengembalikan tunjangan profesi yang telah diterima kepada negara apabila:

  1. Sertifikat Pendidik yang dimilikinya dibatalkan oleh pejabat yang berwenang
  2. Surat Keputusan Dirjen PMPTK tentang Penerima Tunjangan Profesi Pendidik dibatalkan oleh pejabat yang berwenang, Mekanisme pengembalian ke kas negara melalui Bendahara Pengeluaran Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota yang bersangkutan untuk selanjutnya disetorkan ke rekening kas Negara.

Dokumen untuk diunduh:

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.012 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: