Data Lembaga PAUD Kab. Kediri


Berikut daftar/data semua lembaga Pendidian Anak Usia Dini di kabupaten Kediri. PAUD terdiri formal dan nonformal. Untuk PAUD berbetuk TK/RA,KB, TPA, dan SPS. Kemudian untuk pendidikan non formal berupa Kursus, TBM,dan PKBM.

Berikut daftar lembaga PAUD dari jumah 26  kecamatan di kab. Kediri.

Data TK/RA, KB, TPA, SPS

  • Klik di sini
  • Klik nama kecamatan (hasil, antara lain tampilan daftar nama lembaga dengan data NPSN, nama satuan PAUD, alamat)
  • klik NPSN untuk menampilkan data lembaga.

Contoh tampilan data lembaga:

  • di pojok kanan bawah terdapat dua link: Peserta Didik dan Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

data tk dw balongjeruk kab kediri

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Data Kursus, TBM,dan PKBM

  • Klik di sini
  • Klik nama kecamatan (hasil, antara lain tampilan daftar nama lembaga dengan data NPSN, nama lembaga, alamat)
  • klik NPSN untuk menampilkan data lembaga.

 

Data PAUDNI Jawa Timur


Jumlah satuan pendidikan PAUD di Jatim tahun 2012 adalah 32.922. Berikut rincian data PAUDNI (Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal) provinsi Jatim tersebut.

1. Jumlah Kab/Kota = 38

2. Jumlah Kecamatan = 662

3. Jumlah Desa = 8.508

  • Jumlah Desa ada PAUD = 7.812
  • Jumlah Desa Tidak ada PAUD = 696

4. Jumlah PAUD =  32.922, terdiri dari satuan pendidikan

  • TK = 16.562
  • KB = 12.219
  • TPA = 330
  • SPS = 3.811

5. Jumlah PKBM = 968

6. Jumlah TBM = 487

7. Jumlah Kursus = 1.534

Sumber: PAUDNI Kemdikbud

 

Instrumen Pendataan PAUDNI 2012


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Dijen PAUDNI) tengah melakukan pendataan untuk tahun 2012, baik satuan pendidikan maupun PTK (Pendidik dan Tenaga Kependidikan).

 

Manfaat Pendataan

Manfaat dari penjaringan dan terintegrasi (on-line) data PAUDNI adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengumpulan data yang tersebar di seluruh Indonesia dalam satu pintu pendataan yang dipusatkan di Setditjen PAUDNI. Pemanfaatan data yang terkumpul adalah untuk mendukung perencanaan, pembinaan, dan evaluasi tentang pelaksanaan program Kemdikbud maupun oleh unit lain terkait yang tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Selain itu pemanfaatan data tersebut antara lain:

  1. Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) untuk peserta didik PAUD, kursus, keaksaraan;
  2. Tunjangan pendidik dan insentif PTK PAUDNI;
  3. Sertifikasi pendidik PAUDNI;
  4. Akreditasi Lembaga dan program-program PAUDNI.

 

Sasaran pendataan meliputi:

  1. PAUD
  2. Kursus dan Pelatihan
  3. PTK PAUDNI
  4. Pendidikan Masyarakat (PKBM/TBM)

Data yang harus diisikan pada formulir pendataan adalah sebagai berikut:

1.    Instrumen PAUD

a.   Identitas Lembaga PAUD

1)      NPSN (Nomor Pokok Satuan PAUD Nasional)

2)      Nama Satuan PAUD

3)      Jenis Satuan PAUD

4)      Status Satuan PAUD

5)      Status Kepemilikan

6)      Nama Yayasan/Badan hukum

-    Nomor Akte Pendirian

-    Kelompok Yayasan

7)      Tanggal/Bulan/Tahun Berdiri

8)      Alamat Satuan PAUD

9)      Data Rekening Bank atas nama lembaga/Satuan PAUD

10)  NPWP atas nama lembaga/Satuan PAUD

11)  Perijinan Satuan PAUD

-    Nomor Perijinan

-    Dikeluarkan oleh

12)  Akreditasi, Nomor SK Akreditasi terakhir

13)  Sumber Pendanaan Utama

14)  Kepemilikan Bangunan

15)  Luas tanah dan luas bangunan

16)  Jumlah ruang belajar dan luas keseluruhan ruang belajar

17)  Jenis Fasilitas lainnya

18)  Kondisi Bangunan

19)  Kekuatan Bangunan

20)  Waktu Penyelenggaraan

21)  Kedudukan dalam Gugus PAUD

 

b.     Data Pengelola   

1)      Nama Lengkap

2)      Jabatan

3)      Pendidikan Terakhir

4)      NISN

5)      Jenis Kelamin

6)      Pelatihan

 

c.       Data Pendidik

1)      Nama Lengkap

2)      Tempat/Tanggal Lahir

3)      Agama

4)      Pendidikan Terakhir

5)      Diklat PAUD

6)      Jenis Kelamin

7)      Status Kepegawaian

8)      Pengalaman Mengajar

9)      NUPTK, jika sudah memiliki

10)  NISN

11)  Sertifikasi

12)  Tunjangan

  1. Jumlah Tenaga Ahli       
  2. Jumlah Peserta Didik      
  3. Frekuensi Layanan PAUD  
  4. Sarana     
  5. Layanan Kesehatan dan Gizi
  6. Program Parenting
  7. Bantuan sosial dan bantuan lain          
  8. Daftar Nama Peserta Didik        

-          Nama Lengkap

-          Jenis Kelamin

-          Tempat Tanggal Lahir

-          NISN

-          Nama Ibu Kandung

-          Berkebutuhan Khusus

-          Agama

-          Pekerjaan Ortu

-          Alamat

-          Jarak Tempat Tinggal ke Sekolah

 

2.      Instrumen Kursus dan Pelatihan

a.      Identitas Lembaga

1)         Nama Lembaga

2)         SK/Izin Pendirian Lembaga

3)         Status Kepemilikan Lembaga

4)         Bentuk Lembaga

5)         Hasil Penilaian Kinerja Lembaga

6)         Akreditasi Lembaga

7)         Klasifikasi Lembaga

8)         Status Bangunan

9)         Penanggung Jawab Lembaga

10)     Sertifikat Pelatihan

 

b.      Program Kursus                                                              

1)         Program kursus yang diselenggarakan

2)         Izin Penyelenggaraan Program Kursus

3)         Akreditasi Program

4)         Kurikulum yang digunakan

5)         Bahan ajar yang digunakan

6)         Lama Pembelajaran

7)         Sarana pembelajaran yang dimiliki

8)         Biaya perpaket/level/tingkat sampai lulus

9)         Jenis uji kompetensi yang diikuti

10)     Unsur Peserta didik

11)     Jumlah peserta didik regular

3.  Instrumen PTK PAUDNI       

a.   Indentitas Lembaga

1)      Nama Instansi/Lembaga

2)      Jenis Instansi/Lembaga

3)      Status Kelembagaan

4)      NILEM/NILEK

5)      Alamat lembaga

6)      Nama Pimpinan

7)      Tanggal Pendirian

8)      Status kepemilikan

9)      Akreditasi

10)  Jumlah Tenaga Kependidikan/Pengelola

11)  Jumlah Pendidik

12)  Nama Yayasan

13)  Alamat Yayasan

14)   Jumlah kelas

15)  Jumlah Rombel

16)  Jumlah Peserta didik

b.      Identitas PTK PAUDNI

1)      Nama Lengkap

2)      Jenis Kelamin

3)      NIY/NIK

4)      NUPTK

5)      NISN

6)      Pendidikan terakhir

7)      Jurusan

8)      Tempat, tanggal lahir

9)      No. KTP

10)  Nama Bank, Alamat Bank,  Rekening Atas Nama Pribadi

11)  NPWP

12)  Agama

13)  Jenis PTK PAUDNI

 4.      Instrumen Pendidikan Masyarakat

  1. Identitas Lembaga PKBM

1)      Nama Lembaga PKBM

2)      Nomor Induk Lembaga (NILEM)

3)      Alamat Lembaga PKBM

4)      Kategori wilayah

5)      No telpon dan faximili

6)      Akses internet : alamat email, website

7)      Status Lembaga PKBM

8)      Status kepemilikan dan izin pendirian lembaga PKBM

9)      Izin operasional Lembaga PKBM dan instansi pemberi izin

10)  Klasifikasi lembaga

11)  Akreditasi, SK Akreditasi

12)  Nomor Rekening Bank, Nama Bank, Rekening Atas Nama Lembaga

13)  Jenis Program yang dilaksanakan

14)  Jumlah tenaga kependidikan/pengelola

15)  Jumlah tenaga pendidik

16)  Luas tanah

17)  Jumlah bangunan dan luas bangunan

18)  Nama yayasan/ormas/lainnya

19)  Sumber  dan daya listrik

20)  Ruangan dan Sarana

21)  Bantuan/Blockgrant.

  1. Identitas  TBM

1)      Nama  TBM

2)      Alamat  TBM

3)      No telpon dan faximili

4)      Akses internet: alamat email dan website

5)       Status kepemilikan

6)      Nomor Rekening Bank, Nama Bank, Rekening Atas Nama Lembaga

7)      Jumlah pengelola

8)      Luas  tanah

9)      Jumlah bangunan  dan luas bangunan

10)  Identitas lembaga induk

11)  Sumber dan daya listrik

12)  Ruangan dan Sarana

13)  Bantuan/Blockgrant

Dokumen untuk diunduh:

  1. Instrumen PAUD
  2. Instrumen Kursus dan Pelatihan
  3. Instrumen PTK PAUDNI
  4. Instrumen Pendidikan Masyarakat (PKBM/TBM)

Untuk mulai mengunduh formulir, silakan klik di sini

Salah Paham terhadap Arti PAUD


Pemahaman sebagian masyarakat tentang konsep pendidikan anak usia dini (PAUD) selama ini masih keliru dan rancu. Masyarakat memandang PAUD itu adalah sekolah/lembaga pendidikan/satuan pendidikan, di sinilah letak kesalahpahamannya. Pemahaman yang keliru ini dapat dilihat antara lain banyak komentar pada blog tunas63. Pada blog tunas63 ini banyak yang meminta bantuan untuk “mencarikan” NUPTK dengan menyebut nama sekolah “PAUD . . .”. Apa sebenarnya pengertian PAUD?

Pengertian PAUD

Berdasarkan UU Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (sisdiknas), disebutkan dalam pasal 1 ayat (14), Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Dalam UU Sisdiknas tersebut, secara khusus, PAUD diatur dalam Bagian Ketujuh, Pasal 28, tentang Pendidikan Anak Usia Dini yang diuraikan dalam 6 ayat sebagai berikut:

(1)  Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.

(2)  Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.

(3)   Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

(4)  Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

(5)   Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

(6)   Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Berdasarkan paparan di atas, PAUD, dapat dikatakan merupakan kelompok jenjang pendidikan. Jelasnya, kelompok jenjang pendidikan yang dimaksud adalah:

  • PAUD (meliputi TPA/KB dan TK/RA)
  • Pendidikan Dasar (meliputi (SD/MI dan SMP/MTs)
  • Pendidikan Menengah (meliputi SMA/SMK/MA)
  • Pendidikan Tinggi.

Kalau (misal) Bu Lia mengatakan mengajar PAUD maka perlu pertanyaan lanjutan,  apa nama satuan pendidikan PAUD tempat Bu Lia mengajar? Jawabnya, bisa TPA, KB, TK, atau RA. Bila Bu Lia mengajar di TK maka istilah yang tepat adalah Bu Lia seorang Guru TK.

Kalau ada sebutan Guru PAUD, mestinya ada sebutan Guru Pendidikan Dasar untuk menyebut guru SD/MI/SMP/MTs, tapi terdengar lucu?

Baca juga Fungsi, Tujuan, dan Jenis PAUD . . . .

Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru 2011 TK/RA/BA/SD


Penerimaan peserta didik baru pada taman kanak-kanak/Raudhatul athfal/bustanul athfal dan sekolah/madrasah diatur berdasarkan Peraturan Bersama Mendiknas dan Menag Nomor 04/vi/pb/2011 dan Nomor ma/111/2011 tanggal 17 Juni 2011.

Pengertian

Pendaftaran peserta didik baru adalah proses seleksi administrasi untuk mendaftar menjadi calon peserta didik pada TK/RA/BA dan sekolah/madrasah.

Penerimaan peserta didik baru adalah penerimaan peserta didik pada TK/RA/BA dan sekolah/madrasah yang dilaksanakan pada awal tahun ajaran baru.

Tujuan

Penerimaan peserta didik baru pada TK/RA/BA dan sekolah/madrasah bertujuan memberi kesempatan yang seluas-luasnya bagi warga negara usia sekolah agar memperoleh layanan pendidikan yang sebaik-baiknya.

Syarat

Persyaratan calon peserta didik baru pada TK/RA/BA adalah:

  • berusia 4 sampai dengan 5 tahun untuk kelompok A; dan
  • berusia 5 sampai dengan 6 tahun untuk kelompok B.

Persyaratan calon peserta didik baru kelas 1 (satu) pada SD/MI:

  • telah berusia 7 (tujuh) tahun sampai dengan 12 (dua belas) tahun wajib diterima;
  • paling rendah berusia 6 (enam) tahun; dan
  • yang berusia kurang dari 6 (enam) tahun, dapat dipertimbangkan atas rekomendasi tertulis dari psikolog professional.

Persyaratan calon peserta didik baru kelas 1 (satu) pada SDLB yaitu anak yang berusia paling rendah 6 (enam) tahun.

Penerimaan

  1. Seleksi calon peserta didik baru kelas 1 (satu) SD/MI/SDLB dilakukan berdasarkan usia dan kriteria lain yang ditentukan oleh sekolah/madrasah dengan pertimbangan komite sekolah/madrasah.
  2. Seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berupa seleksi akademis serta tidak dipersyaratkan telah mengikuti TK/RA/BA
  3. Dalam upaya peningkatan akses pelayanan pendidikan, jumlah peserta didik baru yang dapat diterima diatur sebagai berikut:

a. jumlah peserta didik pada TK/RA/BA dalam satu rombongan belajar/kelas paling banyak 25 (dua puluhlima) orang;

b. jumlah peserta didik pada SD/MI dalam satu rombongan belajar/kelas paling banyak 40 (empat puluh) orang;

c. jumlah peserta didik pada SDLB dalam satu rombongan belajar/kelas paling banyak 8 (delapan) orang;

Ketentuan selengkapnya dapat dibaca pada peraturan bersama Mendiknas dan Menag dengan mengunduh file pada tautan berikut ini.

Peraturan Bersama Mendiknas dan Menag  Nomor 04/vi/pb/2011 dan Nomor ma/111/2011

Lagu Anak: Terimakasih Guruku MP3


Lagu ini diptakan oleh Anto, liriknya sederhana sebagaimana lagu-lagu anak. Lagu yang berirama lincah dan ceria ini menjadi salah satu iringan pada Senam Sehat Ceria 2. Berikut syair/lirik lengkapnya.

Terimakasih Guruku

Terimakasih aku ucapkan

Padamu ibu guru

Terimakasih aku ucapkan

Padamu bapak guru

Kau ajarkan semua ilmu

Tak pernah mengenal lelah

Untuk kami semua

Kelak berguna bagi nusa bangsa

O . . . ibu guru

O . . . bapak guru

Kami semua sayang kepadamu

Kami semua sayang kepadamu

Untuk mengunduh file, silakan klik:

Unduh Terimakasih-Guruku.mp3

TK-SD Satu Atap


PENGERTIAN

TK-SD Satu Atap adalah penyelenggaraan Taman Kanak-kanak yang berada dalam satu kesatuan dengan SD, baik secara terpadu maupun terpisah, baik dalam satu lokasi maupun beda lokasi.

TUJUAN

Tujuan penyelenggaraan  TK-SD Satu Atap adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan pemerataan dan perluasan akses untuk memperoleh layanan pendidikan TK.

2. Mendekatkan pola pembelajaran pendidikan di TK dan SD kelas awal sebagai inovasi pembelajaran dalam pendidikan.

3. Memfasilitasi proses masa transisi dari TK ke SD kelas awal.

PRINSIP-PRINSIP PENYELENGGARAAN

Prinsip-prinsip penyelenggaraan TK-SD Satu Atap adalah sebagai berikut:

1.  Pemerataan dan perluasan akses.  Penyelenggaraan pendidikan TK-SD Satu Atap diarahkan untuk menampung anak usia TK di wilayah yang belum terjangkau oleh pendidikan TK.

2.  Transisional. Penyelenggaraan pendidikan TK-SD Satu  Atap diarahkan untuk menfasilitasi transisi dan mendekatkan pola pembelajaran anak dari  TK ke SD kelas awal.

3.  Pemberdayaan masyarakat. Penyelenggaraan TK-SD Satu Atap dilakukan dengan memberdayakan semua potensi anggota masyarakat. Melalui pemberdayaan ini, diharapkan masyarakat dapat memberikan perhatian, pembinaan, dan kerjasama yang baik untuk kelangsungan penyelenggaraan TK-SD Satu Atap.

4.  Kerjasama dengan pihak terkait (stakeholders). TK-SD Satu Atap diselenggarakan melalui kerjasama, baik dengan instansi/ lembaga terkait, masyarakat, maupun perorangan.

5.  Sistem pembinaan. Program pendidikan TK-SD Satu Atap dilakukan secara berjenjang oleh Pengawas TK/SD, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Propinsi, dalam upaya meningkatkan mutu pendidikannya.

6.  Keberlanjutan  (sustainability). Program dan penyelenggaraan  TK-SD Satu Atap perlu diselenggarakan secara berkelanjutan melalui dukungan moral, finansial, teknis-edukatif, dan administratif baik dari pemerintah maupun masyarakat setempat.

LATAR BELAKANG

Taman Kanak-kanak (TK) merupakan bentuk pendidikan anak usia dini jalur formal yang menyelenggarakan pendidikan  bagi anak usia empat tahun sampai masuk pendidikan dasar, (Undang-undang  RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 28). Pendidikan TK diselenggarakan dalam upaya membantu meletakkan dasar perkembangan semua aspek tumbuh kembang bagi anak usia sebelum memasuki sekolah dasar.

Pendidikan TK merupakan tahapan pendidikan yang penting untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan anak sesuai dengan tahap perkembangannya (developmental task) dan menyiapkan anak usia TK untuk siap memasuki sekolah.

Usia TK merupakan  ”usia emas” (golden age) untuk menerima rangsangan yang hanya datang sekali dan  tidak dapat diulang sekaligus fase yang sangat menentukan untuk pengembangan kualitas manusia selanjutnya. Bagi anak yang memperoleh pendidikan TK akan dapat mempersiapkan diri memasuki sekolah dasar dengan lebih baik.

Berdasarkan data Pusat Statistik Pendidikan (PSP), Balitbang, Depdiknas Tahun 2008 menunjukkan bahwa layanan pendidikan TK masih sangat terbatas. Lembaga TK di Indonesia yang berjumlah 54.742 TK,  hanya sebesar 708 TK (1,3%) yang merupakan TK Negeri Pembina sebagai  TK percontohan, sedangkan TK lain

yang berjumlah 54.034 (98,2%) adalah TK Swasta. Peningkatan akses layanan pendidikan TK pada  milestone tahun 2009 ditargetkan sebesar 45%, namun sampai saat ini kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa layanan pendidikan TK baru mencapai 23% dari anak usia 5-6 tahun sebesar 7.861.400 anak. Kenyataan di lapangan berdasarkan data PSP Balitbang Depdiknas tahun 2006, menunjukkan bahwa jumlah siswa baru SD kelas I sebesar 4.440.896 siswa, dengan

rincian siswa baru yang berasal dari TK sebesar 1.819.345 siswa (40.97%) dan siswa baru yang tidak berasal dari TK, sebesar 2.621.551 siswa (59,03%). Hasil penelitian Direktorat Pendidikan Dasar, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas tahun 2000, menunjukkan bahwa Pendidikan TK memilikikontribusi terhadap kesiapan belajar siswa SD kelas 1. Kontribusi ini terjadi pada semua aspek kesiapan belajar, termasuk  bahasa, kecerdasan, sosial, motorik, moral, perasaan, daya cipta, dan kedisiplinan.

Program Wajar Dikdas sembilan tahun yang dicanangkan pemerintah sejak tahun 1984, sesuai dengan Inpres No 1 Tahun 1984 tentang Pelaksanaan Wajar Dikdas, masih menghadapi permasalahan-permasalahan yang mengakibatkan penuntasan Wajar Dikdas sembilan tahun diharapkan tuntas tahun 2008. Hal ini dapat dilihat pada angka mengulang kelas di SD/MI, dari data PSP Balitbang Depdiknas pada tahun 2004, sebesar 841.662 siswa, dengan rincian untuk kelas I sebesar 292.462 siswa (34%), kelas II sebesar 165.888 siswa (20), kelas III sebesar 131.159 siswa (16%), kelas IV sebesar 94.829 siswa (16%), kelas V sebesar 56.776 siswa (7%), dan kelas VI sebesar 8.424 siswa (15) serta MI sebesar 92.124 siswa (11%). Dari data tersebut menunjukkan bahwa angka mengulang kelas di SD/MI masih cukup tinggi terutama untuk kelas I, II, dan III. Dengan melihat kenyataan di atas maka upaya pengurangan angka mengulang kelas perlu mendapat perhatian serius dalam penyusunan program pembangunan pendidikan di Sekolah Dasar.

Di samping itu terjadi miskonsepsi pada transisi pendidikan TK dan SD kelas awal yang harus segera dicarikan solusinya. Beberapa kasus sering dijumpai pada siswa SD kelas awal. Di TK, anak terbiasa dengan kebebasan dalam bermain dan bersosialisasi dengan teman. Setelah  masuk SD kelas awal, anak langsung dihadapkan pada aktivitas akademik dan masa peralihan dari penggunaan

bahasa ibu ke bahasa nasional. Bila pada SD kelas awal diterapkan disiplin yang kaku, tentunya akan menimbulkan rasa takut pada anak sehingga anak menjadi takut (phobia) bersekolah.

Fenomena lain yang terjadi di masyarakat menunjukkan bahwa anak-anak yang masuk SD harus mempunyai kemampuan yang memadai. Fenomena  ini menyebabkan beberapa SD menetapkan syarat bagi calon siswa kelas 1 harus menguasai baca, tulis dan hitung. Tuntutan persyaratan ini menciptakan pola pembelajaran di TK menekankan programnya untuk mengajar anak berkemampuan membaca, menulis dan berhitung, yang diselenggarakan seperti di SD dengan mengabaikan prinsip-prinsip pembelajaran di TK. Bahkan  banyak TK yang melaksanakan les baca, tulis dan hitung untuk memper-siapkan anak masuk SD. Selain tuntutan tersebut, orangtua juga ingin agar anaknya cepat pintar. Fenomena ini tentunya secara psikologis bertentangan dengan prinsip-prinsip perkembangan anak.

Berdasarkan permasalahan dan pemikiran tersebut di atas, dalam rangka meningkatkan layanan pemerataan akses dan keadilan untuk memperoleh pendidikan TK, serta permasalahan transisi pendidikan dari TK ke SD kelas awal, perlu diupayakan alternatif inovasi kelembagaan dengan mendekatkan pola penyelenggaraan pendidikan TK dan SD. Hal ini dilakukan melalui penyelenggaraan TK-SD Satu Atap, baik  dari segi pendekatan, kurikulum, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana,  pembiayaan, pengelolaan, pengembangan program.

DASAR

Dasar penyelenggaraan TK-SD Satu Atap adalah:

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

2. Peraturan Pemerintah Republik  Indonesia Nomor 19  Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.

3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah.

4. Rencana Strategis (Renstra) Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009.

5. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 60 Tahun 2002 tentang Pedoman Pendirian Sekolah

6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 14 Tahun 2005 tanggal 3 Agustus 2005 tentang Organisasi dan  Tata Kerja Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar  Menengah.

Sumber: Buku Penyelenggaraan TK dan SD Satu Atap
Direktorat Pembinaan TK dan SD, Ditjen MPDM, Depdiknas

Pedoman Teknis Pos PAUD


Pedoman teknis penyelenggaraan Pos PAUD telah diterbitkan oleh Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal melalui Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010.

Pos PAUD adalah bentuk  layanan PAUD yang penyelenggaraannya  dapat diintegrasikan dengan layanan Bina Keluarga Balita (BKB) dan Posyandu. Mengapa perlu POS PAUD?

Latar Belakang

Usia dini merupakan masa emas perkembangan. Pada masa  itu terjadi  lonjakan  luar  biasa  pada  perkembangan  anak  yang  tidak  terjadi pada  periode  berikutnya.  Para  ahli  menyebutnya  sebagai  usia  emas perkembangan  (golden  age).    Untuk  melejitkan  potensi  perkembangan tersebut, setiap anak membutuhkan asupan gizi seimbang, perlindungan kesehatan,  asuhan  penuh  kasih  sayang,  dan  rangsangan  pendidikan yang  sesuai  dengan  tahap  perkembangan  dan  kemampuan  masing-masing  anak. Pemberian  rangsangan  pendidikan  dapat  dilakukan  sejak lahir,  bahkan  sejak  anak  masih  dalam  kandungan.  Rangsangan pendidikan  ini hendaknya  dilakukan  secara  bertahap,  berulang, konsisten, dan tuntas, sehingga memiliki daya ubah (manfaat) bagi anak. Seiring bertambahnya usia, anak-anak membutuhkan rangsangan pendidikan yang lebih lengkap, sehingga memerlukan tambahan layanan pendidikan  di  luar  rumah  yang  dilakukan  oleh  lingkungan  maupun lembaga  pendidikan  anak  usia  dini  (PAUD).  Rangsangan  pendidikan yang dilakukan di  rumah  (home base) dan yang dilakukan di  luar rumah (center  base)  hendaknya  selaras  dan  saling  mendukung,  sehingga diperoleh manfaat yang optimal. Rangsangan  pendidikan  di  luar  rumah  sudah  dapat  dimulai setelah  anak  berusia  6  bulan  bahkan  sejak  usia  3  bulan.  Sayangnya layanan  anak  seusia  ini  keberadaannya  terbatas. Kalaupun  ada,  belum tentu terjangkau oleh masyarakat, baik dari sisi jarak maupun biayanya. Keberadaan Pos PAUD sebagai salah satu bentuk Satuan PAUD Sejenis  (SPS)  dimaksudkan untuk menjembatani  kebutuhan  ini.  Dalam pelaksanaannya  Pos  PAUD  dapat  diintegrasikan  dengan  layanan  Bina Keluarga  Balita  (BKB)  dan  Pos  Pelayanan  Terpadu  (Posyandu).  Pos PAUD diperuntukkan bagi masyarakat yang belum siap mengikutsertakan anaknya  dalam  layanan  PAUD  yang  lebih  intensif,  baik  karena  alasan kerepotan mengantar, biaya, maupun faktor lainnya.

Pengertian

1.  Pendidikan  anak  usia  dini  adalah  suatu  upaya  pembinaan  yang ditujukan  kepada  anak  sejak  lahir  sampai  dengan  usia  enam  tahun yang  dilakukan  melalui  pemberian  rangsangan  pendidikan  untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan  lebih  lanjut (UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas).

2.  Satuan  PAUD  Sejenis  adalah  bentuk-bentuk  Satuan  PAUD  jalur pendidikan nonformal selain Kelompok Bermain dan Taman Penitipan Anak  yang  penyelenggaraannya  dapat  diintegrasikan  dengan berbagai  program  layanan  anak  usia  dini  yang  telah  ada  di masyarakat  seperti  Posyandu,  Bina  Keluarga  Balita,  Taman Pendidikan Al-Qur’an, Pelayanan Anak Kristen, Bina Iman Anak, atau layanan terkait lainnya.

3.  Pos PAUD adalah bentuk  layanan PAUD yang penyelenggaraannya  dapat diintegrasikan dengan layanan Bina Keluarga Balita (BKB) dan Posyandu.

4.  Pedoman Teknis Penyelenggaraan Pos PAUD adalah acuan minimal dalam penyelenggaraan Pos PAUD.

Tujuan Pedoman

1.  Sebagai pedoman bagi para pembina, penyelenggara, pengelola, dan  Kader Pos PAUD.

2.  Sebagai  pedoman  bagi  aparat  terkait  dalam melakukan  pembinaan program Pos PAUD.

Tujuan Program

  1. Memberikan layanan PAUD yang dapat menjangkau masyarakat luas hingga ke pelosok pedesaan.
  2. Memberikan wahana bermain yang mendidik bagi anak-anak usia dini yang tidak terlayani PAUD lainnya.
  3. Memberikan contoh kepada orangtua dan keluarga tentang cara-cara pemberian  rangsangan  pendidikan  bagi  anak  usia  dini  untuk dilanjutkan di rumah.

Buku Pedoman Teknis

Pedoman teknis penyelenggaraan Pos PAUD telah diterbitkan oleh Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal melalui Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010.

Sebagai pedoman teknis, buku menjelaskan secara lengkap mulai dari latar belakang program, tujuan, mekanisme dan prosedur pengelolaan.

Buku pedoman yang terdiri atas 7 bab ditambah dengan lampiran ini, isinya sbb.:

Bab I  Pendahuluan: memuat latar belakang,pengertian, dasar hukum,  tujuan pedoman,   tujuan program, lingkup pedoman.

Bab II Prinsip Dasar Pos Paud:

A.  Berbasis masyarakat

B.  Prinsip kesederhanaan (Kesederhanaan program, mainan, pengelolaan, tempat, dan pakaian)

C.  Prinsip mudah, murah, dan bermutu

Bab III Peserta Didik, Pendidik, dan Pengelola: Peserta didik,   Orangtua, Pendidik, Pengelola, Tim pemantau, Pembina tingkat desa/kelurahan,Lembaga penyelenggara

Bab IV Teknis Pembentukan Pos Paud : Pemilihan posyandu, Identifikasi dukungan lingkungan  , Penentuan tempat kegiatan, Penyiapan ape (sesuai usia anak), Koordinasi dengan petugas terkait, Pelatihan kader, Peresmian pos paud, Penyiapan buku administrasi, Pembiayaan kegiatan, Pelaporan dan perijinan Pembinaan, Indikator keberhasilan.

Bab V Teknis Penyelenggaraan: Pendaftaran calon peserta didik  , Penyusunan rencana kegiatan  , Jadwal kegiatan harian, Jadwal kegiatan main bulanan, Kemampuan yang akan dikembangkan, Materi kegiatan, Pengelompokkan anak, Penanganan anak berkebutuhan khusus, Pelaksanaan kegiatan.

Bab VI Proses Kegiatan

A.  Pengasuhan bersama (usia 3-30 bulan): Penataan tempat main, Penyambutan kedatangan anak, Kegiatan main.

B.  Bermain bersama (usia 31-72+ bulan): Penataan tempat main, Penyambutan kedatangan anak, Main pembukaan dan ikrar bersama, Transisi menuju kelompok, Waktu lingkaran 1 (pijakan sebelum main), Waktu bermain, Waktu beres-beres Waktu lingkaran 2 (pijakan setelah main/recalling), Makan bekal bersama, Kegiatan penutup.

Bab VII Evaluasi Dan Pembinaan

A.  Evaluasi: Evaluasi program, Evaluasi perkembangan anak, Tata cara evaluasi perkembangan anak, Tindak lanjut.

B.  Pembinaan: Petugas pembina dan Lingkup pembinaan

C.  Pelaporan: Pelaporan perkembangan anak dan Pelaporan program

D.  Sertifikat tanda serta belajar

Daftar Lampiran

  • Contoh APE sesuai usia anak
  • Resep-resep membuat bahan main
  • Jadwal pelatihan kader tahap i
  • Jadwal pelatihan kader tahap ii
  • Format buku induk anak
  • Format buku data pengelola dan kader
  • Format daftar hadir pengelola dan kader
  • Format daftar hadir anak
  • Rencana kegiatan harian
  • Format catatan perkembangan anak
  • Daftar rekap iuran anak
  • Format buku kas
  • Format buku inventaris
  • Format buku tamu
  • Format penilaian keberhasilan program  pos paud
  • Formulir pendaftaran peserta pos paud
  • Jadwal kegiatan harian pos paud
  • Jenis kegiatan pengasuhan bersama
  • Laporan perkembangan anak
  • Format surat tanda serta belajar pos paud
  • Pengaturan jadwal hari masuk masing-masing  kelompok
  • Kegiatan main anak

Dokumen untuk diunduh:

Pedoman_Teknis_Penyelenggaraan_Pos_PAUD

Fungsi, Tujuan, dan Jenis PAUD


Pendidikan  anak  usia  dini  adalah  suatu  upaya  pembinaan  yang  ditujukan  kepada anak  sejak  lahir  sampai  dengan  usia  6  (enam)  tahun  yang  dilakukan  melalui pemberian  rangsangan  pendidikan  untuk  membantu  pertumbuhan  dan perkembangan  jasmani  dan  rohani  agar  anak memiliki  kesiapan  dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Fungsi dan Tujuan PAUD

Berdasarkan PP 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidiukan, fungsi dan tujuan PAUD diatur dalam Pasal 61. Berikut bunyi lengkapnya:

(1)  Pendidikan anak usia dini berfungsi membina, menumbuhkan, dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya.

(2)  Pendidikan anak usia dini bertujuan:

a.  membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkepribadian luhur, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab; dan

b.  mengembangkan potensi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, kinestetis, dan social peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan.

Bentuk dan Jenis Satuan Pendidikan PAUD

PAUD Jalur Formal (Pasal 62)

(1) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat.

(2) TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki program pembelajaran 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun.

(3) TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan menyatu dengan SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat.

PAUD Jalur Nonformal (Pasal 107)

(1)       Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan pendidikan anak usia dini yang sejenis.

(2) Kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan pendidikan anak usia dini yang sejenis menyelenggarakan pendidikan dalam konteks:

a. bermain sambil belajar dalam rangka pembelajaran agama dan ahlak mulia;

b. bermain sambil belajar dalam rangka pembelajaran sosial dan kepribadian;

c. bermain sambil belajar dalam rangka pembelajaran estetika;

d. bermain sambil belajar dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan; dan

e. bermain sambil belajar dalam rangka merangsang minat kepada ilmu pengetahuan dan teknologi.

(3) Peserta didik kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan pendidikan anak usia dini jalur pendidikan nonformal yang sejenis dapat dievaluasi perkembangannya tanpa melalui proses yang bersifat menguji kompetensi.

Penerimaan Peserta Didik Pasal 63

Peserta didik TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun.

Informasi sekilas di atas adalah merupakan sebagain isi dari PP 17 tahun 2010. Bila berminat, PP ini dapat diunduh secara gratis dengan klik tautan derikut:

Tujuan, Prinsip, dan Filsafat Pendidikan TPA


Pengertian

Taman Penitipan Anak (TPA) merupakan salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus pengasuhan  dan  kesejahteraan  sosial  terhadap  anak  sejak  lahir  sampai dengan usia enam tahun.

Tujuan layanan Program TPA adalah:

a.  Memberikan  layanan  kepada  anak  usia  0  –  6  tahun  yang  terpaksa ditinggal orang tua karena pekerjaan atau halangan lainnya.

b.  Memberikan  layanan  yang  terkait  dengan  pemenuhan  hak-hak  anak untuk  tumbuh  dan  berkembang,  mendapatkan  perlindungan  dan  kasih sayang, serta hak untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosialnya

Pengelompokkan Usia

Kegiatan  pengasuhan  dan  bermain  di  TPA  dilakukan  dengan  cara

dikelompokkan berdasarkan usia, dengan pengelompokkan sebagai berikut:

a. Kelompok usia 3 bulan - < 2 tahun
b. Kelompok usia 2 tahun - < 4 tahun
c. Kelompok usia 4 tahun - < 6 tahun

Prinsip Umum Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini yang diterapkan dalam program TPA didasarkan atas prinsip-prinsip berikut:

  1. Berorientasi pada kebutuhan anak.
  2. Sesuai dengan perkembangan anak.
  3. Sesuai dengan keunikan setiap individu.
  4. Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain.
  5. Anak belajar dari yang konkrit ke abstrak, dari yang sederhana ke yang kompleks, dari gerakan ke verbal, dan dari diri sendiri ke sosial.
  6. Anak sebagai pembelajar aktif.
  7. Anak belajar melalui interaksi sosial
  8. Menyediakan lingkungan yang mendukung proses belajar.
  9. Merangsang munculnya kreativitas dan inovatif.
  10. Mengembangkan  kecakapan hidup anak.
  11. Menggunakan  berbagai  sumber  dan  media  belajar  yang  ada  di lingkungan sekitar.
  12. Anak belajar sesuai dengan kondisi sosial budayanya.
  13. Melibatkan  peran  serta  orangtua  yang  bekerja  sama  dengan  para pendidik di lembaga PAUD.
  14. timulasi  pendidikan  bersifat  menyeluruh  yang  mencakup  semua aspek perkembangan.

Berikut penjelasan prinsip-prinsip dimaksud:

1.  Berorientasi pada kebutuhan anak.

Pada  dasarnya  setiap  anak memiliki  kebutuhan  dasar  yang  sama,  seperti kebutuhan  fisik,  rasa aman, dihargai,  tidak dibeda-bedakan, bersosialisasi, dan kebutuhan untuk diakui. Anak tidak bisa belajar dengan baik apabila dia lapar, merasa tidak aman/ takut, lingkungan tidak sehat, tidak dihargai atau diacuhkan  oleh  pendidik  atau  temannya.  Hukuman  dan  pujian  tidak termasuk  bagian  dari  kebutuhan  anak,  karenanya  pendidik  tidak menggunakan  keduanya  untuk  mendisiplinkan  atau  menguatkan  usaha yang ditunjukkan anak.

2.  Sesuai dengan perkembangan anak.

Setiap usia mempunyai tugas perkembangan yang berbeda, misalnya pada usia 4 bulan pada umumnya anak bisa tengkurap, usia 6 bulan bisa duduk, 10 bulan bisa berdiri, dan 1 tahun bisa berjalan. Pada dasarnya semua anak memiliki pola perkembangan yang dapat diramalkan, misalnya anak akan bisa berjalan setelah bisa  berdiri.  Oleh  karena  itu  pendidik  harus  memahami  tahap  perkembangan anak  dan  menyusun  kegiatan  sesuai  dengan  tahapan  perkembangan  untuk mendukung pencapaian tahap perkembangan yang lebih tinggi.

3.  Sesuai dengan keunikan setiap individu.

Anak  merupakan  individu  yang  unik,  masing-masing  mempunyai  gaya belajar  yang  berbeda.  Ada  anak  yang  lebih  mudah  belajarnya  dengan mendengarkan  (auditori),  ada  yang  dengan melihat  (visual)  dan  ada  yang harus dengan bergerak (kinestetik). Anak juga memiliki minat yang berbeda-beda  terhadap  alat/  bahan  yang  dipelajari/digunakan,  juga  mempunyai temperamen  yang  berbeda,  bahasa  yang  berbeda,  cara  merespon lingkungan,  serta  kebiasaan  yang  berbeda.  Pendidik  seharusnya mempertimbangkan perbedaan  individual anak, serta mengakui perbedaan tersebut  sebagai  kelebihan  masing-masing  anak.  Untuk  mendukung  hal tersebut  pendidik  harus  menggunakan  cara  yang  beragam  dalam membangun  pengalaman  anak,  serta  menyediakan  ragam  main  yang cukup.

4.  Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain.

Pembelajaran dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Melalui bermain anak  belajar  tentang:  konsep-konsep  matematika,  sains,  seni  dan

kreativitas,  bahasa,  sosial,  dan  lain-lain.  Selama  bermain,  anak mendapatkan  pengalaman  untuk  mengembangkan  aspek-aspek/nilai-nilai moral,  fisik/motorik,  kognitif,  bahasa,  sosial  emosional,  dan  seni. Pembentukan  kebiasaan  yang  baik  seperti  disiplin,  sopan  santun,  dan lainnya dikenalkan melalui cara yang menyenangkan.

Dasar Filsafat Pendidikan Di TPA

Untuk mendukung mewujudkan  anak  usia  dini  yang  berkualitas, maju, mandiri, demokrasi,  dan  berprestasi, maka  filsafat  pendidikan  di  TPA  dapat  dirumuskan menjadi: Tempa, Asah, Asih, Asuh.

1.  Tempa

Yang dimaksud dengan  tempa adalah untuk mewujudkan kualitas  fisik anak usia  dini  melalui  upaya  pemeliharaan  kesehatan,  peningkatan  mutu  gizi, olahraga  yang  teratur  dan  terukur,  serta  aktivitas  jasmani  sehingga  anak memiliki fisik kuat, lincah, daya tahan dan disiplin tinggi.

2.  Asah

Asah  berarti  memberi  dukungan  kepada  anak  untuk  dapat  belajar  melalui bermain  agar  memiliki  pengalaman  yang  berguna  dalam  mengembangkan seluruh  potensinya.  Kegiatan  bermain  yang  bermakna,  menarik,  dan merangsang  imajinasi,  kreativitas  anak  untuk  melakukan,  mengekplorasi, memanipulasi,  dan  menemukan  inovasi  sesuai  dengan  minat  dan  gaya belajar anak.

3.  Asih

Asih  pada  dasarnya  merupakan  penjaminan  pemenuhan  kebutuhan  anak untuk  mendapatkan  perlindungan  dari  pengaruh  yang  dapat  merugikan pertumbuhan  dan  perkembangan, misalnya  perlakuan  kasar,  penganiayaan fisik dan mental dan ekploitasi.

4.  Asuh

Melalui  pembiasaan  yang  dilakukan  secara  konsisten  untuk  membentuk perilaku dan kualitas kepribadian dan jati diri anak dalam hal:

  • a.  Integritas, iman, dan taqwa;
  • b.  Patriotisme, nasionalisme dan kepeloporan;
  • c.  Rasa tanggung jawab, jiwa kesatria, dan sportivitas;
  • d.  Jiwa kebersamaan, demokratis, dan tahan uji;
  • e.  Jiwa tanggap (penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi), daya kritis dan idealisme;
  • f.  Optimis dan keberanian mengambil resiko;
  • g.  Jiwa kewirausahaan, kreatif dan profesional.

Buku Pedoman

Tulisan sederhana di atas adalah cuplikan isi dari buku Pedoman Teknis Penyelnggaraan TPA. Buku ini diterbitkan oleh  Kementerian Pendidikan Nasional melalui Direktorat PAUD Ditjen Pendidikan Formal Nonformal. Ada 7 bab yang dijelaskan dalam buku ini dan ditambah dengan 9 lampiran:

  • Bab 1   Pendahuluan: Latar belakang, Pengertian, Dasar hukum, Tujuan pedoman
  • Bab 2   Prinsip: Prinsip umum pendidikan anak usia dini, Dasar filsafat pendidikan di TPA.
  • Bab 3   Peserta didik, Pendidik, Pengelola
  • Bab 4   Pengelolaan dan layanan:  Kurikulum, Pengelompokkan peserta, Alokasi waktu layanan, Ratio guru/ guru pendamping dengan anak, Kalender pendidikan, Perencanaan kegiatan pembelajaran, Pengelolaan proses kegiatan, Penilaian, Layanan kesehatan dan Gizi,   Program orang tua, Indikator keberhasilan
  • Bab 5   Pengelolaan sarana dan prasarana: Tempat belajar, Sarana belajar, Alat permainan, Bahan ajar, Pemeliharaan kebersihan dan tindakan darurat
  • Bab 6   Pengelolaan administrasi:  Perizinan,  Jenis administrasi Pembiayaan,  Pengelolaan,
  • Bab 7   Evaluasi, pelaporan, dan pembinaan.

Lampiran-lampiran:

  • 1.  Jenis-jenis Layanan Minimal pada Taman Penitipan Anak
  • 2.  Formulir Pendaftaran Peserta Didik Taman Penitipan Anak
  • 3.  Contoh Buku Kas Sederhana
  • 4.  Contoh Kartu Pembayaran/Iuran
  • 5.  Contoh Format Buku Induk Anak
  • 6.  Contoh Format Buku Induk Pengelola, Pendidikan dan  Pengasuh
  • 7.  Buku Komunikasi/Penghubung
  • 8.  Contoh Surat Tanda Serta Belajar di  TPA
  • 9.  Grafik Berat Badan, Tinggi Badan, Panjang Badan,  Lingkaran Kepala

Melihat daftar isi sebagaimana disebut di atas, pedoman ini mutlak dimiliki oleh penyelenggara TPA. Bila berminat, buku dapat diunduh secara gratis dengan klik tautan berikut:

Buku Pedoman-Teknis-Penyelenggaraan-TPA

PP_17/2010_ttg Pengelolaan dan Penyelenggaraan_Pendidikan

NUPTK Mei 2010 Guru Depag Kab Kediri


NUPTK baru update Mei 2010 bagi tenaga PTK (RA, TA, MI, M Ts, dan MA) Depag Kab. Kediri telah terbit. Ada 5.199 NUPTK, dan sebanyak  416 NUPTK adalah yang baru terbit.

Dokumen yang telah dipublikasika oleh Seksi Mapenda Depag Kab Kediri ini, dapat diunduh di sini dengan klik tautan berikut:

NUPTK Mei 2010 Depag Kab. Kediri

Peningkatan Kompetensi Pengawas Sekolah dalam Membimbing Guru


Program peningkatan mutu  guru untuk menjadi profesional tidak terlepas dari mutu Pengawas Sekolah/Pengawas Satuan Pendidikan, mengingat posisi strategis pengawas sekolah sebagai pembina di sekolah binannya, oleh karena itu upaya peningkatan kompetensi pengawas sekolah dalam melaksanakan pembimbingan dan pelatihan keterampilan guru dalam melaksanakan tugas pokoknya menjadi sangat penting dan strategis. Hal ini perlu dilakukan melalui kerjasama berbagai pihak yang terlibat. Tugas pengawas satuan pendidikan/pengawas sekolah dalam melakukan pembimbingan dan pelatihan profesional guru dalam melaksanakan tugas pokoknya yaitu merencanakan, melaksanakan dan menilai proses pembelajaran/pembimbingan, dan membina tenaga kependidikan lainnya baik pada satuan pendidikan maupun melalui KKG/MGMP/MKKS atau bentuk lain yang dapat meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan lainnya. Untuk memperoleh pemahaman bersama tentang pelaksanaan tugas pengawas satuan pendidikan sesuai dengan amanat peraturan perundang undangan, maka perlu disusun satu model pola pembimbingan terhadap guru maupun kepala sekolah melalui model perangkat pengawasan baik pengawasan akademik maupun pengawasan manajerial.

Dalam rangka implementasi tugas pengawasan sesuai dengan Permendiknas Nomor 39 tahun 2009 dan Permendiknas Nomor 21 tahun 2007, maka diperlukan adanya pengawas sekolah yang memiliki kemampuan menejerial, yaitu: (1) Pengawas sekolah yang mampu melakukan supervisi/kepengawasan pendidikan (2) Pengawas sekolah yang mampu atau memiliki kompetensi sebagai pengawas; (3) Pengawas sekolah memiliki kinerja yang baik; (4) Pengawas sekolah yang mampu menyusun program kerja kepengawasan, dan (5) Pengawas sekolah yang mampu menilai kinerja sekolah.

Dalam melaksanakan tugas pokoknya, pengawas sekolah harus mampu memotivasi, mendorong, menggalang, mengarahkan, membimbing, mensupervisi seluruh pendidik dan tenaga kependidikan yang menjadi tanggung jawabnya.

Berdasarkan rasional di atas pada tahun 2009 Direktorat Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional memprogramkan kegiatan peningkatan kompetensi pengawas sekolah dalam melakukan pembimbingan dan pelatihan profesionalisme guru dasn tugas pengawasan.

Kegiatan kompetensi pengawas diikuti oleh 600 orang yang terdiri dari pengawas TK/SD, SMP, dan PLB dari berbagai daerah yang terbagi dalam 4 region yaitu: Riau, Bandung Sawangan Bogor dan Makassar.

Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih atas peran aktif semua pihak yang telah memberikan kontribusinya bagi usaha peningkatan mutu tenaga kependidikan di Indonesia.

Program peningkatan mutu  guru untuk menjadi profesional tidak terlepas dari mutu Pengawas Sekolah/Pengawas Satuan Pendidikan, mengingat posisi strategis pengawas sekolah sebagai pembina di sekolah binannya, oleh karena itu upaya peningkatan kompetensi pengawas sekolah dalam melaksanakan pembimbingan dan pelatihan keterampilan guru dalam melaksanakan tugas pokoknya menjadi sangat penting dan strategis. Hal ini perlu dilakukan melalui kerjasama berbagai pihak yang terlibat. Tugas pengawas satuan pendidikan/pengawas sekolah dalam melakukan pembimbingan dan pelatihan profesional guru dalam melaksanakan tugas pokoknya yaitu merencanakan, melaksanakan dan menilai proses pembelajaran/pembimbingan, dan membina tenaga kependidikan lainnya baik pada satuan pendidikan maupun melalui KKG/MGMP/MKKS atau bentuk lain yang dapat meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan lainnya. Untuk memperoleh pemahaman bersama tentang pelaksanaan tugas pengawas satuan pendidikan sesuai dengan amanat peraturan perundang undangan, maka perlu disusun satu model pola pembimbingan terhadap guru maupun kepala sekolah melalui model perangkat pengawasan baik pengawasan akademik maupun pengawasan manajerial.

Dalam rangka implementasi tugas pengawasan sesuai dengan Permendiknas Nomor 39 tahun 2009 dan Permendiknas Nomor 21 tahun 2007, maka diperlukan adanya pengawas sekolah yang memiliki kemampuan menejerial, yaitu: (1) Pengawas sekolah yang mampu melakukan supervisi/kepengawasan pendidikan (2) Pengawas sekolah yang mampu atau memiliki kompetensi sebagai pengawas; (3) Pengawas sekolah memiliki kinerja yang baik; (4) Pengawas sekolah yang mampu menyusun program kerja kepengawasan, dan (5) Pengawas sekolah yang mampu menilai kinerja sekolah.

Dalam melaksanakan tugas pokoknya, pengawas sekolah harus mampu memotivasi, mendorong, menggalang, mengarahkan, membimbing, mensupervisi seluruh pendidik dan tenaga kependidikan yang menjadi tanggung jawabnya.

Berdasarkan rasional di atas pada tahun 2009 Direktorat Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional memprogramkan kegiatan peningkatan kompetensi pengawas sekolah dalam melakukan pembimbingan dan pelatihan profesionalisme guru dasn tugas pengawasan.

Kegiatan kompetensi pengawas diikuti oleh 600 orang yang terdiri dari pengawas TK/SD, SMP, dan PLB dari berbagai daerah yang terbagi dalam 4 region yaitu: Riau, Bandung Sawangan Bogor dan Makassar. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih atas peran aktif semua pihak yang telah memberikan kontribusinya bagi usaha peningkatan mutu tenaga kependidikan di Indonesia.

Sumber: http://pmptk.depdiknas.go.id/ diakses pada 24 Februari 2010.

Telur Bantu Perkembangan IQ Anak


YOGYAKARTA–Hasil penelitian Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengungkapkan bahwa telur dapat membantu perkembangan “intelligence quotient” (IQ/inteligensi) dan mengatasi kekurangan yodium pada anak.”Telur sangat penting untuk dikonsumsi oleh anak usia sekolah. Mengonsumsi dua telur setiap hari dapat membantu perkembangan IQ dan mengobati penyakit defisiensi yodium,” kata ahli gizi FK UGM Toto Sudargo SKM MKes di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, hasil penelitian yang dilakukan pada anak sekolah di kawasan pegunungan seperti Wonosobo dan Wonogiri, Jawa Tengah, menunjukkan dampak kekurangan yodium dapat menurunkan IQ anak sekitar 10-15 persen.”Namun ketika diobati dengan telur bisa menambah IQ sekitar 20 persen. Untuk itu, sebagai langkah antisipatif, anak usia dini disarankan untuk mengonsumsi dua telur setiap hari untuk membantu perkembangan IQ,” katanya.

Ia mengatakan, rata-rata anak sekolah di seluruh Indonesia sekitar 35-65 persen masih kekurangan gizi, terutama defisiensi yodium, bahkan di daerah Wonosobo dan Wonogiri diketahui sekitar 19-33 persen siswa sekolah kekurangan yodium.

Menurut dia, anak perlu mengonsumsi telur, karena daya serap satu telur yang beratnya 60 gram mengandung 7-8 gram protein, sedangkan untuk kebutuhan anak sekolah adalah sebesar 45 gram protein.”Jadi, anak sekolah perlu mengonsumsi telur. Apalagi jika digoreng, karena ada tambahan 10 gram protein, yang akan menambah 110 kilogram kalori,” katanya.

Ketua Umum Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) Martalena Purba MCN PhD mengatakan, masalah gizi kurang menyebabkan kualitas penduduk Indonesia rendah terutama pada anak balita, ibu hamil, orang lanjut usia, dan siswa.

Menurut dia, berdasarkan penelitian, gizi kurang sering terjadi pada masa-masa tertentu seperti dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan perubahan iklim global yang menyebabkan perubahan siklus panen. “Selain itu, juga sering muncul ketika terjadi bencana, yang menyebabkan semakin bertambahnya jumlah penderita gizi kurang pada kelompok yang rentan,” katanya. ant/kpo (Sumber: Republika Online)

Pemenang Lomba Jurnalistik PAUD Nasional 2009


Dokumne tunas63

Pemenang Lomba Jurnalistik PAUD Tingkat Nasional 2009

Kamis (23/7) Dewan Juri Lomba Jurnalistik PAUD, berhasil memilih Pemenang I sampai Pemenang Harapan III. Pemberian Hadiah berupa uang dilakukan di Ruang Sidang Utama Ditjen PNFI Lantai 3 Gedung E, Depdiknas Senayan Jakarta. Hadiah diberikan langsung oleh Dirjen Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Depdiknas, Hamid Muhammad. Dalam sambutannya Hamid Muhammad mengucapkan selamat serta rasa terima kasih atas para Pemenang yang sudah peduli dan sangat perhatian terhadap Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia ini.

Mereka yang menjadi Pemenang adalah :

1. Joko Syahban dari Surat Kabar Harian Yogya dengan Judul: Menebar Investasi Untuk Usia Emas sebagai Pemenang I,

2. Harjoni Desky dari Surat Kabar Banda Raya Harian Aceh dengan Judul: Menyatukan Pelaksanaan PAUD dengan Program Alokasi Dana Gampong sebagai Pemenang II,

3. Fahrin Malau dari Surat Kabar Analisa Minggu dengan Judul: Berinvestasi ke Masa Depan Lewat PAUD sebagai Pemenang III,

4. Puji Astuti dari Surat Kabar Solo Pos dengan Judul: Ke Arah Lebih Baik Melalui PAUD sebagai Pemenang Harapan I,

5. Lenny Situmeang dari Surat Kabar Her World Indonesia dengan Judul: Pendidikan Di Masa Keemasan sebagai Pemenang Harapan II,

6. dan Erwadi SS. dari Surat Kabar Harian Singgalang dengan Judul: Gara-Gara 15 Ribu sebagai Pemenang Harapan III.

Acara ini dihadiri oleh Direktur PAUD Sudjarwo Singowidjojo, Direktur Pendidikan Kesetaraan Triyadi, Kepala Sub Direktorat Kemitraan Direktorat PAUD Togar Sitompul, para tamu undangan, dan wartawan dari media elektronik maupun media cetak.

Sumber: http://www.pnfi.depdiknas.go.id/

Buku Pokok Pedoman Pembelajaran TK


poster-buku-pedoman-pembelaTaman Kanak-kanak (TK) merupakan lembaga pendidikan formal sebelum anak memasuki sekolah dasar. Lembaga ini dianggap penting karena usia ini merupakan  usia emas (golden age) yang merupakan “masa peka” dan hanya datang sekali. Masa peka adalah suatu masa yang menuntut pengembangan anak secara optimal.  Penelitian menunjukkan bahwa 80% perkembangan mental dan kecerdasan  anak berlangsung pada usia ini. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa anak  Sekolah Dasar yang tinggal kelas,  drop out, khususnya pada kelas rendah  disebabkan anak yang bersangkutan tidak melalui pendidikan di TK.

Sebagaimana dinyatakan dalam Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 28, ayat 3 menyatakan bahwa Taman Kanak-kanak (TK) merupakan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal, yang bertujuan membantu anak didik mengembangkan  berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai agama, sosial, emosional, kemandirian, kognitif, bahasa, fisik/motorik, dan seni untuk siap memasuki sekolah dasar.

Untuk itu, dalam rangka meningkatkan mutu layanan pendidikan dan membantu para guru dalam melaksanakan proses pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan di Taman Kanak-kanak, Direktorat Pembinaan TK dan SD, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional menyusun buku pedoman pembelajaran yang meliputi bidang pengembangan

  • Pembiasaan,
  • Berbahasa,
  • Kognitif,
  • Fisik/motorik,
  • Seni, dan
  • Pembelajaran permainan berhitung permulaan, serta
  • Persiapan membaca dan menulis permulaan melalui permainan di TK.

Untuk memilih/ mengunduh buku pedoman, silakan klik gambar.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.013 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: